"Aku kehilangan mereka."
Noah berusaha menyelip di antara kerumunan yang bergoyang mengikuti dentuman musik DJ. Lampu strobo menyilaukan mata, suara bass menghantam dada, membuat pikirannya sulit fokus..
"Tenang," suara pamannya terdengar dari earphone.
"Lihat sekeliling. Cari tempat yang mencurigakan."
"Hah?" Noah mendengus kecil. "Gue nggak denger apa-apa. Musiknya parah."
"Coba cari tempat yang keliatan di jaga ketat."
"Gue beneran nggak dengar apa-apa, tunggu"
Ia menoleh ke kanan-kiri, lalu menangkap papan kecil bertuliskan restroom. Tanpa ragu, Noah bergerak ke sana, mendorong pintu dan menghela napas lega saat suara musik meredam.
"Oke, sekarang jelas," katanya. "Tempatnya rame banget. Gue bener-bener kehilangan jejak."
"Nggak ada liat tempat yang mencurigakan? atau tempat yang di jaga beberapa orang."
"Tadi aku udah coba cari juga, tapi nggak ketemu."
"Tempat yang nggak mencolok tapi malah ada penjaga yang berdiri disana."
"Apa aku coba tanya ke orang yang mencurigakan?"tanya Noah.
"Malah jadi bahaya kalo kita salah orang, coba cari tempat yang bisa liat keseluruhan bar itu."
Noah keluar dari toilet dan berdiri di koridor, menatap ke arah tengah klub. Dari posisi itu, matanya menyapu lantai satu—kerumunan, bar, meja-meja penuh botol.
"Kalau mau lihat keseluruhan," gumam Noah, "lantai dua kayaknya paling masuk akal."
"Coba kesana."
"Oke."
Ia menyelinap naik ke tangga lantai dua. Begitu sampai, suasananya jauh lebih tenang. Musik masih terdengar, tapi tidak memekakkan. Noah memilih kursi di sudut, menarik topinya lebih rendah, menciptakan jarak yang cukup aman dari perhatian orang lain.
Matanya kembali menyapu ruangan.
Pikirannya sempat melayang—tentang foto Raka yang dulu ia ambil, tentang keputusan ayah Via yang ingin menyelesaikannya sendiri, tentang orang-orang dewasa yang terlalu sering merasa "ini urusan kami". Kalau saja dia tidak mengambil semua bukti itu dan melibatkan Noah dan Pamannya dari awal.
Harusnya lo percaya sama kami, batinnya pelan.
Lalu—
Noah mengerutkan kening.
"Bagas? Apa yang dia lakuin disini?"
"Ada yang kamu kenal disana?" pamannya merespond cepat.
"Dia temen sekelasku."
"Yang bikin kamu di skors seminggu itu?"
Bagas berjalan cepat, wajahnya tegang, pandangannya lurus ke depan—bukan gaya orang yang datang buat bersenang-senang.
"Dia keliatan mencurigakan, mukanya bukan keliatan mau party tapi kek lagi cari sesuatu."
"Tiba-tiba aku punya firasat baik tentang ini."
"Dia keknya punya tujuan yang sama dengan kita," melihat hal itu, Noah langsung bergegas mengikuti Bagas. Secepat yang dia bisa, dia menuruni tangga dengan mata yang terus tertuju pada Bagas.
Bagas terlihat memasuki pintu belakang dan setelah melewati beberapa lorong, akhirnya Noah melihat ada dua penjaga yang menunggu Bagas untuk di periksa.
"Kayaknya gue nemu tempatnya," ucap Noah. "Ada lorong sempit. Dua penjaga."
"Berarti itu jalur masuk VIP."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
