Via merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan napas yang terasa lebih ringan dari hari-hari sebelumnya.
Permasalahan perusahaan akhirnya menemui ujungnya. Walau nama Nature Beauty sempat terseret dalam pusaran kasus paman Raka, perlahan semuanya mulai tertata kembali. Penjualan produk baru justru meningkat—dukungan datang dari arah yang tak ia sangka. Setelah video klarifikasinya viral, netizen yang dulu menghujat, kini mulai memberi ruang, bahkan sedikit rasa hormat.
Via merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan napas yang terasa lebih ringan dari hari-hari sebelumnya.
Permasalahan perusahaan akhirnya menemui ujungnya. Walau nama Nature Beauty sempat terseret dalam pusaran kasus paman Raka, perlahan semuanya mulai tertata kembali. Penjualan produk baru justru meningkat—dukungan datang dari arah yang tak ia sangka. Netizen yang dulu menghujat, kini mulai memberi ruang, bahkan sedikit rasa hormat.
Maaf baru bilang. Gue nunggu lo pulang sekolah.
Gue udah beresin barang pagi tadi dan balik ke apartemen.
Kata pengacara, kontraknya bisa dibatalin sekarang.
Paman Raka udah di penjara.
Via terdiam.
Ia membaca ulang pesan itu.
Sekali.
Dua kali. Dan Ketiga kali.
Noah pergi.
Begitu saja.
Tanpa pamit. Tanpa percakapan. Dadanya mendadak terasa kosong.
"Sekarang gue harus gimana?" gumamnya pelan.
Via berguling ke samping, mulai mengetik balasan.
Terima kasih ya...
buat semuanya. Buat masak, buat bangunin gue, buat—
Jemarinya berhenti.
"Nggak. Bukan ini," gumamnya.
Ia menghapus pesan itu.
Jika ia membalas seperti itu... apakah semuanya akan berakhir di sini?
Ia masih bisa bertemu Noah di sekolah. Tapi Noah di sekolah selalu berbeda—lebih diam, lebih jauh, seolah dunia di sekitarnya tak pernah benar-benar ia sentuh.
Via menjatuhkan ponselnya ke kasur dan menutup wajahnya dengan lengan.
"Noah... gue nggak mau ini berakhir kayak gini."
Ia marah.Kesal. Tapi juga sedih di saat yang berasamaan.
Setelah semua yang terjadi—setelah Bagas, setelah Raka, setelah malam panjang penuh ketakutan—Via baru benar-benar yakin pada satu hal.
Ia menyukai Noah.
Bukan sekadar nyaman. Bukan sekadar terbiasa.
Tapi bagaimana mungkin ia yang harus mengatakannya dulu?
Via tertawa kecil pahit.
"Gue cewek. Dan gue bahkan nggak tau apakah dia bakal nerima."
*******
Di tempat lain, Noah terbaring di kasurnya, posisi yang sama—telentang, lengan menutup wajah. Setiap detik terasa terlalu panjang. Ponselnya tergeletak di samping, layar mati. Tak ada balasan.
"Apa dia belum pulang?" batinnya.
Atau... Dia memilih diam. Noah menelan ludah. Semuanya terasa benar-benar berakhir.
"Gue nggak mungkin tiba-tiba nyamperin dia di sekolah. Cowok introvert tiba-tiba nyari perhatian Via—yang semua orang kenal."
"Pasti canggung. Pasti aneh."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Novela JuvenilTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
