Bagas duduk di kursi yang diletakkan tepat di tengah ruangan audisi. Lima meja berjajar rapi di hadapannya—para juri duduk dengan wajah datar dan tatapan tajam. Lampu sorot menggantung rendah, membuat ruangan terasa lebih sempit dari aslinya.
Ini audisi kelimanya. Dia biasanya hanya bermain iklan, kali ini dia mencoba mendapatkan peran dalam sebuah film. Walau sudah lima kali gagal, tapi dia tidak akan pernah menyerah pada mimpinya.
Tangannya saling menggenggam di atas paha, berusaha menenangkan napas yang naik-turun. Ia menatap ke depan, menelan ludah pelan.
"Sudah siap?" tanya salah satu juri di tengah.
"Iya," jawab Bagas singkat, disertai senyum kecil.
"Kamera rolling action."
Bagas menunduk sejenak, menarik napas panjang. Detik berikutnya, ia mengangkat kepala. Tatapannya berubah—lebih dalam, lebih jujur. Suaranya keluar perlahan, tapi mantap.
"Aku menangis bukan karena aku sedih," ucapnya lirih,
"tapi karena mataku perih terkena angin."
Ia berhenti sebentar, menutup mata.
"Pergilah. Kau menyukainya, kan?"
"Simpan aku di tempat yang tak perlu kau ingat."
"Pilihlah cinta yang membuatmu bahagia."
Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Air mata jatuh tanpa dibuat-buat. Ketika ia membuka mata, senyum tipis terlukis di wajahnya—pasrah, tapi ikhlas.
Sunyi.
Para juri tetap tak bereaksi. Wajah mereka profesional—tak memberi harapan, tak menunjukkan penilaian.
"Terima kasih," ucap juri di tengah akhirnya. "Silakan tunggu hasilnya."
Bagas mengangguk, berdiri, dan keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, ia menghembuskan napas panjang. Bukan lega sepenuhnya, tapi... lebih ringan.
******
Manajernya menyodorkan sebotol air mineral kepada Bagas yang duduk bersanda di ruang tunggu.
"Kata juru kamera, kamu bagus," ucapnya.
"Jangan terlalu berharap," jawab Bagas sambil membuka tutup botol. "Gue nggak mau hancur lagi."
Manajernya tersenyum kecil. Ia tahu, Bagas yang sekarang berbeda. Tidak lagi arogan oleh pujian, tidak lagi runtuh oleh penolakan. Dia memang benar-benar hancur di penolakan pertama, tapi sekarang terlihat jauh lebih dewasa.
"Gas, kamu masih inget Abel?" tanyanya.
Bagas memutar tutup botol air mineral, lalu meneguknya. Garis rahang Bagas benar-benar terlihat ketika dia mendongak. Para peserta perempuanpun terlihat begitu antusias memperhatikan Bagas. Seorang model memang terlihat berbeda.
"Make up artis itu? Kenapa?" tanya Bagas.
"Dia udah jadi youtober terkenal sekarang. Aku denger dia nolak permintaan Nature Beauty untuk jadi brand ambassador. Kamu tau sendirikan, betapa idealisnya Abel kalo soal make up. Dia nggak suka kalo ada orang tiba-tiba nyuruh promoin makeup padahal dia belum pernah coba."
"Perusahaan Via?"
"Iya, keknya tim marketing mereka blunder. Abel nggak bakal mau, harusnya perkenalin produk dulu, kalo dia suka, dia pasti bakal promoin."
Bagas langsung mengeluarkan ponsel. Tanpa banyak bicara, ia membuka kontak lama dan menekan tombol panggil. Abel pernah menjadi makeup artis Bagas, mereka bahkan cukup akrab, ini kesempatan emas dia untuk membantu Via.
**********
Noah menyantap buburnya seorang diri di meja makan. Libur sekolah dan dia tidak membangunkan Via karena dia tau betapa lelahnya Via akhir-akhir ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
