Bab 40

414 66 8
                                        



Bagas hanya bisa menahan rasa kesal sambil menatap wajah tersenyum di depannya—senyum yang terlalu ramah untuk seseorang yang jelas-jelas sedang meremehkannya.

Di usia tujuh belas tahun, masuk ke perusahaan besar karena koneksi orang tua, wajar jika ia dipandang sebelah mata. Bagas sadar betul akan itu. Tapi ia juga tahu, membalas dengan emosi hanya akan mengukuhkan anggapan mereka. Jadi ia memilih cara paling aman: tersenyum balik.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Rehan.

Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu menjabat sebagai Kepala Divisi Creative dan Kehumasan. Sikapnya santai, tapi sorot matanya tajam—jelas bukan orang yang mudah dibodohi.

"Aku mungkin masih sangat muda," ucap Bagas dengan nada tenang dan terukur, "tapi aku yakin bisa diandalkan. Karena itu, aku ingin tahu apa saja pekerjaan yang harus aku tangani."

Walau tujuan awalnya masuk ke perusahaan adalah untuk menyelidiki Mandala Grup, Bagas paham satu hal, nama keluarganya ikut dipertaruhkan di tempat ini. Ia tidak bisa datang setengah-setengah.

Rehan tertawa kecil, seolah terhibur oleh kepercayaan diri Bagas.

"Baiklah," katanya sambil mengangguk. "Setidaknya kau berhasil membuatku berekspektasi. Ku dengar kamu juga seorang model iklan."

Ia mengambil sebuah dokumen dari atas meja dan menyerahkannya pada Bagas. Begitu Bagas menerimanya, sikap Rehan berubah. Ia menegakkan tubuhnya, wajahnya kini jauh lebih serius.

"Itu konsep iklan yang akan masuk proses shooting dua hari lagi," jelasnya. "Aku ingin kau melakukan pengecekan set lapangan, perlengkapan, serta kesiapan brand ambassador. Pastikan seluruh proses shooting berjalan lancar."

Bagas mengangkat pandangan dari dokumen itu.

"Bagaimana?" tanya Rehan. "Sanggup?"

Itu bukan tugas ringan—bahkan untuk karyawan lama. Dengan waktu persiapan yang hanya dua hari, tanggung jawab itu nyaris setara dengan produser pelaksana

Bagas terdiam sejenak, menimbang.

"Persiapan sudah berjalan delapan puluh persen," tambah Rehan. "Kau hanya perlu memastikan sisanya."

Bagas menghembuskan napas pelan.

"Aku terima," ucapnya mantap. "Aku akan memastikan shooting berjalan tanpa kendala. Terima kasih atas kepercayaannya."

Rehan tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan. "Selamat bekerja."

Bagas menjabatnya, membalas dengan senyum profesional, lalu keluar dari ruangan itu. Waktunya hanya dua hari—dan ia tidak berniat menyia-nyiakan satu menit pun.

********

Sambil berjalan menuju departemen produksi, Bagas membaca ulang dokumen di tangannya. Data perlengkapan, daftar kru, nama brand ambassador, hingga naskah shooting—semuanya ia pelajari dengan cermat.

Setibanya di lokasi, ia sedikit lega. Rehan tidak berbohong. Hampir semua persiapan memang sudah berjalan dengan baik. Tapi Bagas tidak mau berasumsi.

Ia mengecek satu per satu, kamera, pencahayaan, logistik, properti. Dengan catatan kecil di tangan, ia memberi tanda centang di setiap detail yang sudah siap.

Ia memastikan segalanya.

********

Semua kamera sudah berada di posisi. Sutradara bahkan sudah duduk di kursinya. Tapi shooting belum juga dimulai.

Matahari siang itu terik, membuat suasana semakin panas—secara harfiah dan emosional. Lima belas menit dari jadwal berlalu, dan belum ada tanda-tanda brand ambassador muncul.

Bagas mengelap keringat di pelipisnya.

"Brand ambassador kita belum datang?" tanyanya pada manajer produksi.

Tak menunggu jawaban, Bagas langsung menghubungi manajer sang aktor. Berkali-kali. Hingga akhirnya, nada sambung terdengar.

"Halo," ucap Bagas cepat. "Kita sudah molor lima belas menit. Kalian di mana?"

"Kami sudah di parkiran."

"Baik."

Bagas langsung berlari menuju area parkir. Ia tidak berniat memarahi siapa pun—itu hanya akan memperpanjang masalah. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah satu hal, shooting dimulai.

Setelah menyapu area parkir dengan pandangan tajam, ia menemukan mobil yang dimaksud. Di depannya, seorang manajer berdiri santai sambil merokok.

Bagas mempercepat langkahnya.

"Apa kau gila?" ucapnya dingin. "Seluruh kru sudah menunggu. Suruh aktormu segera ke lokasi."

Manajer itu terkejut, langsung mematikan rokoknya. "Tunggu sebentar. Daniel masih bersiap di dalam mobil."

"Suruh dia bersiap di lokasi," balas Bagas tajam. "Setidaknya kru tahu aktor mereka sudah ada."

"Dia tidak suka bersiap di tempat ramai," jawab sang manajer, mencoba menenangkan. "Tolong tunggu."

Kesabaran Bagas habis.

Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu mobil.

Dan membeku.

Di dalam, Daniel—brand ambassador mereka—tengah menggunakan narkoba.

Waktu seakan berhenti.

Daniel sama terkejutnya. "Apa-apaan ini?" bentaknya. "Siapa bocah ini?!"

Bagas menatapnya, dadanya bergetar. "Itu... narkoba, kan?"

Sebelum Daniel sempat menjawab, sebuah tangan menarik Bagas menjauh.

"Ikut aku," ucap Rehan singkat.

*********

"Ini bukan seperti yang aku pikirkan... kan?" suara Bagas bergetar ketika mereka berhenti agak jauh.

Rehan diam sesaat, lalu mengangguk. "Kami sudah tahu."

Bagas mengepalkan tangan. "Kau gila? Kalau ini sampai ke media, reputasi perusahaan bisa hancur."

"Tapi itu tidak akan terjadi."

"Kenapa?"

"Karena polisi tidak akan menahannya," jawab Rehan datar. "Daniel mendapatkan barangnya melalui Mandala Group."

Dunia Bagas terasa miring.

"Kami sudah lama ingin memutus kerja sama," lanjut Rehan. "Tapi ayahmu ragu. Daniel adalah kesayangan Pak Raka. Selain pengguna, dia juga pengedar yang cukup besar di kalangan artis."

Bagas menunduk. Marah. Jijik. Tapi di sisi lain—ia baru saja menemukan emas.

"Jadi kau ingin aku tutup mulut?" tanya Bagas.

Rehan hanya tersenyum.

"Untuk hari ini," ucap Bagas pelan namun tegas, "tugasku hanya satu. Memastikan shooting berjalan lancar. Dan seperti yang sudah kukatakan—kau bisa mengandalkanku."

********

Bagas kembali menemui Daniel. Ia menjelaskan singkat, jelas, tanpa emosi: Neo Grup milik ayahnya. Perusahaan sudah tahu segalanya. Dan selama Daniel bekerja profesional hari ini, tak ada yang akan bocor.

Daniel setuju.

Shooting akhirnya dimulai—tertunda tiga puluh menit, tapi berjalan lancar. Bagas berdiri di pinggir lokasi, mengawasi semuanya dengan wajah tenang.

Ketika sutradara berteriak, "Cut! Perfect!"

Bagas akhirnya menghembuskan napas lega.

Tapi di dalam dirinya, sebuah tekad baru mengeras.

Mendengar telpon ayahnya dan menyusun beberapa potongan yang ada. Semuanya bermuara kepada Raka Setiawan, dia pasti penyebab ini semua.

Setelah ini, hanya ada satu tujuan, mengungkap jaringan obat terlarang itu, dan menyeret Raka Setiawan ke penjara.

Agar Via tidak perlu merasakan sakit yang sama—lagi.


My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang