Bab 49

391 67 24
                                        

"Maaf."

Via menunduk dalam-dalam.

Agnes dan Devi sudah menunggunya di depan gerbang sejak pagi. Dari kejauhan, Via bisa melihat dua sahabatnya berdiri berdampingan—seperti biasa—dan justru itu yang membuat dadanya terasa semakin berat.

Sudah berhari-hari pesan mereka tak ia balas. Telepon ia abaikan. Bukan karena tak peduli, tapi karena ia terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun pada siapa pun. Saat ia terpuruk, Via memilih menghilang. Dan sekarang, ketika semuanya mulai selesai, ia ingin meminta maaf... secara langsung.

"Gue tau kalian marah," ucapnya lirih.
"Tapi gue bener-bener minta maaf."

Agnes dan Devi saling pandang sebentar, lalu tersenyum.

"Udah sarapan?" tanya Agnes santai.

Via tertegun. Ia mengangkat kepala perlahan, menatap wajah dua sahabatnya itu, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Kalian... nggak marah?" tanyanya pelan.

Agnes mendengus kecil.
"Sebenernya marah banget. Devi bahkan bilang mau mukul lo kalo ketemu."

Via menelan ludah.
"Terus?"

"Tapi rasa khawatir kami lebih gede," sambung Devi sambil merangkul bahu Via.
"Begitu liat lo muncul di TV, rasanya... lega banget."

Devi tertawa kecil.
"Gue juga nggak nyangka paman Raka yang ada di balik semua ini. Tapi jujur aja... itu pukulan yang bagus."

Via menarik napas dalam. Dadanya menghangat, tapi matanya mulai berkaca-kaca.

"Ayo ke kelas," kata Agnes.
"Lo pasti belum makan. Gue buatin sandwich."

Agnes ikut merangkul Via dari sisi lain.

"Agnes... Devi..." suara Via bergetar.

"Setelah semua yang dia lewatin, CEO kita masih aja cengeng," ledek Agnes.

"Lo inget nggak muka pucatnya waktu pertama kali disorot kamera?" Devi tertawa lepas.
"Kayak mau pingsan."

"Kalian..." Via mengibaskan tangan mereka, pura-pura kesal.
"Ya udah, gue aja yang marah kalo gini ceritanya."

Via mempercepat langkah, meninggalkan mereka.

Agnes dan Devi mengejar sambil tertawa.
"Yaelah, ngambek mulu padahal udah gede," celetuk Devi.

Via berhenti, lalu berbalik.
"Gue maafin kalo kita makan sandwich bareng di kelas."

Agnes mengangkat alis.
"Gue cuma buat dua."

"Ya udah," Via tersenyum kecil.
"Kalian bagi dua, gue sendiri."

"Tuan Putri kita nggak pernah berubah," sahut Devi.

********

Jam Istirahat.

"Ya, lo tau Bagas berhenti sekolah?"

Agnes hanya perlu memutar badan untuk bicara ke Via.

Via mengerutkan kening.
"Hah? Serius? Gue baru tau. Mungkin dia mau fokus modelling."

"Katanya ini hari terakhir," lanjut Agnes.
"Mau homeschooling. Alasannya kerja di Neo Grup."

"Bagas... kerja di perusahaan?" Via benar-benar terkejut.

Ia tahu betul Bagas selalu menghindari topik itu. Ia benci dunia perusahaan ayahnya.

"Kabar ini valid?" tanya Via.

"Langsung dari kepala sekolah," jawab Agnes.
"Fans-fans Bagas ngamuk. Tapi... lo nggak bakal homeschooling juga kan?"

Nada Agnes terdengar khawatir.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang