Via mengucek matanya perlahan. Hari libur membuatnya bangun lebih siang dari biasanya. Ia meregangkan tubuh di kasur, masih merasakan sisa lelah semalam. Kejutan Agnes dan Devi—plus hampir ketahuan Noah—benar-benar menguras energi.
Untung Noah bisa nempel di langit-langit kayak cicak. Agent rahasia memang beda kelas.
Ia meraih ponsel di sampingnya. Notifikasi media sosial memenuhi layar; ucapan selamat ulang tahun berdatangan setelah ia meng-upload foto bertiga semalam.
Di antara banyak pesan itu, satu chat dari Bagas muncul paling atas.
Satu voice note. Via menekan play.
"Happy birthday Via... Happy birthday Via... Happy birthday, happy birthday... Happy birthday Via..."
Via terkekeh kecil. Suara Bagas terdengar malu-malu, tapi cukup merdu.
"Doa gue, tetap jadi Via yang rendah hati. Karena itu yang bikin hidup lo berjalan baik sampe sekarang. Tetap jadi Via yang pemaaf, hidup lo bakal tenang kalo terus kayak gitu. Tetap jadi Via yang apa-adanya. Karena Via yang sekarang... udah yang terbaik.
Happy birthday. Maaf nggak bisa dateng, ada syuting semalam.
Oh iya, malam ini ada undangan makan dari ayah sama mamah. Lo harus datang ya."
Via terpaku. Makan malam? Sama orang tua Bagas?
Itu bukan acara biasa kalau keluarga Bagas yang buat. Via tau bagaimana hidup keluarga Bagas, super duper mewah, makan malah biasa pun akan menjadi seperti fine dining, kalo di rumah mereka.
Via langsung mengetik balasan.
"Gue harus pake baju apa? Ini cuma makan biasa, kan?"
Ia menunggu jawaban Bagas—tapi ketukan pintu mengalihkan fokusnya.
"Ada apa?" tanya Via dari kasurnya.
"Ada tamu. Lo belum makan kan? Makan dulu," suara Noah terdengar datar dari luar.
Via refleks duduk tegak. "Siapa?" Ia buru-buru menuju pintu dan membukanya.
"Pengacara ayah lo. Kayaknya hal penting. Dia bilang mau ketemu kita berdua."
Via membeku. Tapi Noah... justru menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Dan Via baru sadar— Ia masih pakai piyama pink bergambar kelinci. Padahal biasanya dia mengunakan kaos lengan panjang atau sweater ketika bertemu Noah di rumah
Noah mulai menundukkan kepalanya, melihat dari ujung kaki Via sampai kepala. Via terlihat imut karena menggunakan piyama berwarna pink. Baru kali ini Noah melihat Via menggunakan piyama, biasanya dia menggunakan kaos lengan panjang atau sweater ketika bertemu Noah di rumah.
Pipi Via langsung memanas, dia menyadari Noah memperhatikan pakaiannya dari tadi "KENAPA LO NGELIATIN PAKAIAN GUE?! DASAR MESUM!" teriak Via sambil membanting pintu.
Noah terlonjak. Wajahnya sama merahnya.
"BUKAN! BUKAN GITU! Gue cuma...—Via! Dengarin dulu! Sumpah gue nggak mikir yang aneh-aneh!" Noah mengetuk pintu panik..
"Tunggu di bawah, entar gue kesana!" seru Via malu, dia bersandar di belakang pintu dengan wajah merah sampai telinga.
Noah mengusap wajahnya. Noah lo kenapa sih, kek nggak pernah liat orang pake piyama aja. Tapi, emang nggak pernah sih. Kendalikan diri lo, jangan pernah lakuin yang aneh-aneh, batin Noah
"Ya udah, gue tunggu di bawah," gumamnya, menyerah.
"Iya," balas Via cepat—masih malu.
**********
Beberapa menit kemudian. Pengacara ayah Via duduk rapi dengan jas gelap, koper kecil di sampingnya. Via dan Noah duduk berdampingan, sama-sama tegang tapi karena alasan berbeda.
"Apabila ingin bertemu dengan kami, apakah itu ada hubungannya dengan kontrak yang aku dan ayah Via buat?" tanya Noah cepat. "Apakah... ada pembatalan kontrak?" harap Noah.
Pengacara tersenyum tipis. "Kontrak hanya dapat dibatalkan jika pihak kedua membayar denda sebesar sepuluh miliar."
Harapan Noah langsung mati. Wajahnya benar-benar kecewa sekarang.
Pengacara membuka koper, mengeluarkan satu map tebal dan sebuah amplop berstempel Mandala Group.
"Kedatangan saya ke sini adalah untuk menjelaskan warisan dari Bapak Nugroho. Sesuai surat wasiat, ketika Via menginjak usia 17 tahun, seluruh saham milik Bapak Alan secara otomatis berpindah kepada putri satu-satunya... Via Wulan Cahya."
Via terdiam, jantungnya berdetak keras.
"Dengan jumlah saham tersebut, sebenarnya Anda berhak menjadi CEO Mandala Group. Namun, demi stabilitas perusahaan serta mempertimbangkan umur dan pengalaman, sesuai arahan paman Anda—Bapak Raka Setiawan—Anda akan menjabat sebagai CEO salah satu anak perusahaan Mandala Group: PT Nature Beauty, perusahaan make up yang dibangun oleh ibu Anda."
Via hanya dapat terpana mendengar penjelasan dari pihak pengacara tersebut.
Via menahan napas. Perusahaan ibunya. Hatinya mendadak hangat sekaligus takut.
"Besok akan diadakan acara pengenalan CEO baru," lanjut sang pengacara. "Jadi saya harap Anda menyiapkan diri."
Noah duduk tegak. "Dan saya?"
"Seperti isi kontrak, Anda wajib tetap mendampingi dan menjaga Saudari Via. Jadi Anda harus ikut hadir."
Via menelan ludah. "Aku... aku belum pantas. Itu perusahaan mama. Ribuan karyawan menggantungkan hidup di sana. Kalau aku salah urus... aku bisa menghancurkan semuanya."
Pengacara menatapnya lembut.
"Via, ayahmu adalah pria yang sangat peduli pada karyawannya. Dia tidak mungkin menyerahkan perusahaan sebesar itu kepada seseorang yang tidak mampu. Dia mempercayaimu sepenuhnya."
Via masih menunduk, jari-jarinya menggenggam celananya kuat-kuat.
"Aku akan mencobanya," ucap Via akhirnya. Suaranya pelan namun mantap.
"Tapi kalau perusahaan memburuk... kau harus janji mencopot aku."
Pengacara tersenyum, lalu menjabat tangan Via.
"Perusahaan ini sudah berada di tangan yang tepat. Seperti kata ayahmu."
Noah melirik Via diam-diam.
Entah kenapa... dada Noah terasa berat melihat wajah Via yang berusaha terlihat kuat, padahal jelas ia sedang gemetar.
"Baiklah, acara pengenalan CEO baru akan dilaksanakan besok. Siapkan beberapa kata untuk membuat first impression yang baik. Selamat atas jabatan CEOnya."
Melihat wajah Via yang masih takut dan merasakan tangannya yang gemetar, pengacara itu melanjutkan. "Ayahmu selalu cerita tentang bagaimana bangganya dia dengan anaknya. Berhentilah untuk cemas. Kamu sama seperti ayahmu, seperti kataku tadi. Perusahaan sudah berada di tangan yang tepat," tutupnya
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Fiksi RemajaTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
