--- Sepertinya flashback ini akan menjadi 4 part. Flashback yang berisikan peristiwa sejarah. Peristiwa sejarahnya akan sesuai dengan riset yang telah author lakukan, tapi untuk karakter yang ada dan yang mereka lakukan tetap fiksi ya...
BAB 33
1 Mei 1998
Bulan Mei 1998 menjadi salah satu masa tergelap dalam sejarah Indonesia.
Krisis ekonomi 1997–1998 menghantam Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara tanpa ampun. Inflasi melonjak, pengangguran meningkat, harga kebutuhan pokok tak terkendali. Penderitaan terasa di mana-mana.
Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Orde Baru kian memuncak.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela.
Pada April 1998, ketika Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 1998–2003, mahasiswa dari berbagai universitas turun ke jalan. Mereka menuntut reformasi, pemilu ulang, dan langkah nyata pemerintah dalam mengatasi krisis.
Namun suara itu dibalas dengan kekerasan.
Dan kini, awal Mei 1998, gelombang perlawanan belum mereda.
*******
Ruang rapat organisasi fotografi terasa panas meski kipas angin berputar tanpa henti. Sepuluh menit berlalu, perdebatan semakin memanas.
Raka berdiri dengan tangan mengepal.
"Nggak!" sanggahnya tegas. "Kalau lo mau ikut demo, silakan sebagai pengurus BEM. Tapi jangan paksa organisasi ini ikut turun ke jalan!"
Matanya menyapu ruangan. Ia masih teringat jelas bagaimana demo bulan April berakhir dengan pemukulan dan penangkapan. Ia tidak ingin anggota organisasinya mengalami hal yang sama.
"Tujuan organisasi ini bukan untuk demo."
Evan berdiri, wajahnya keras.
"Tujuan kita memang fotografi," balas Evan, "tapi tugas kita sebagai mahasiswa adalah menyuarakan aspirasi rakyat. Indonesia nggak baik-baik aja sekarang."
Suasana semakin sunyi.
"Diktator menguasai media," lanjut Evan. "Berita yang keluar cuma yang mereka mau. Karena itu kita harus jadi medianya. Kita buat koran—dengan fakta. Kita bantu dengan gali massa sebelum dua belas Mei."
Hening.
Rencana itu terdengar rapi. Organisasi mereka memang pernah menerbitkan majalah dan buletin kampus. Tapi kali ini berbeda. Ini bukan sekadar karya mahasiswa.
Ini berbahaya. Bukan cuman pemukulan, mereka bahkan bisa masuk penjara karena ini.
Di tengah keheningan, Riska mengangkat tangan.
"Gue nggak suka demo. Gue juga nggak suka kekerasan," ucapnya pelan tapi mantap. "Tapi gue lebih nggak suka kalau negara kita terus kayak gini."
Ia menelan ludah.
"Gue sadar, kalau kita ketahuan menyebarkan fakta, kita bisa dipenjara. Jadi gue mau kita akan ngelakuin semua ini tanpa penyesalan. Yang nggak setuju... silakan keluar ruangan, sekali lagi, ini bukan paksanaan."
Sekitar tiga puluh anggota ada di ruangan itu. Satu per satu, mereka berdiri dan pergi. Langkah kaki meninggalkan ruang rapat terasa lebih nyaring dari yang mereka harapkan. Evan dan Riska hanya bisa menunduk.
Hampir sepuluh menit, tak ada lagi langkah kaki, entah berapa orang yang bertahan. Evan dan Riska mengangkat kepalanya berat.
Hanya ada dua orang lagi yang tersisa di ruangan. Alan dan Raka, walaupun wajah mereka terlihat sangat tidak yakin, tapi mereka tetap bertahan di tempat mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Ficção AdolescenteTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
