BAB 2 : SERUMAH?

1.3K 305 80
                                        

Perpustakaan sekolah terasa lebih sunyi dari biasanya. Rak-rak tinggi berjajar rapi, bau kertas dan pendingin ruangan menyatu, menenangkan—atau setidaknya itu yang diharapkan Via. Ia menggeser ujung telunjuknya di punggung buku satu per satu, membaca judul dengan tatapan kosong.

Ucapan Agnes di kantin tadi siang masih terngiang di kepalanya. "Dengan saham yang ditinggalin ayah lo, lambat laun lo bakal jadi CEO Mandala Group."

Via berhenti di satu judul.

CEO yang Baik.

Ia menarik buku itu keluar, menimbang beratnya sejenak, lalu berjalan ke meja baca. Baru saja ia menarik kursi dan membuka sampul buku, pandangannya tertumbuk pada sosok yang sudah tidak asing.

Noah Pratama. Seperti biasa, sedang tidur. Bertelungkup, tangan memeluk tas. Seolah perpustakaan ini memang diciptakan khusus untuknya.

Via memijat pelipisnya pelan. "Bisa-bisanya dia ke perpustakaan cuma buat nyari tempat tidur yang tenang," batinnya. Ia mencoba mengabaikan keberadaan Noah dan memaksa dirinya fokus membaca.

CEO yang baik. Tidak ada CEO yang benar-benar baik. Sebagai seorang CEO, kau tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Kau harus memilih: menjadi orang baik, atau menjadi CEO. Karena kamu tidak akan pernah bisa menjadi keduanya.

Via menutup buku walau baru membaca paragraph pertamanya. Dadanya terasa sedikit sesak. "Gimana orang se-nggak-enakan gue bisa jadi CEO? Perusahaan ayah lebih aman kalau tetap di tangan paman."

Ia mengembalikan buku itu ke rak, lalu mengambil buku pelajaran komunikasi. Seharusnya ia menikmati topik seperti ini. Sejak kecil, Via ingin bekerja di dunia broadcasting. Bicara. Menyampaikan cerita. Bukan duduk di ruang rapat, menandatangani kebijakan yang membuat orang lain dirugikan.

Tapi hidup tidak selalu menanyakan apa yang kita mau.

Lembar demi lembar, kalimat demi kalimat. Via begitu tenggelam pada buku sampai bel masuk mengalihkan fokusnya. Ia kemudian menutup buku itu dan mengembalikannya ke rak. Ketika ingin keluar dari perpustakaan. Saat melangkah menuju pintu keluar, pandangannya kembali jatuh ke arah Noah.

Cowok itu masih tidur, tidak bergerak sama sekali. Via berhenti, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia kemudian menghela napas panjang, kesal pada dirinya sendiri. "Ngapain sih gue harus peduli?" Tapi rasa tidak enak itu selalu menang. Selalu.

Ia melangkah mendekat dan menepuk pundak Noah pelan. "Eh... bel udah bunyi."

Tidak ada respons. Via menghela napas kedua kalinya, lalu menekan pinggang Noah agak keras.

Noah mengerang pelan dan mengangkat kepala. "Lo kenapa sih? Punya hobi ganggu tidur orang?"

"Kenapa lo malah marah?" Via refleks menaikkan nada suara. "Bel udah bunyi. Udah waktunya ke kelas."

Noah mendengus pelan, berdiri dengan malas, lalu meraih tasnya tanpa banyak bicara.

Via berbalik pergi duluan. Paling nggak gue udah bangunin dia. Mau dia masuk kelas atau nggak, bukan urusan gue.

*******

"Hari ini serius nggak mau ikut?" tanya Agnes di depan gerbang sekolah.

Supirnya sudah membuka pintu mobil, menunggu mereka.

"Gue mau ke makam ayah gue dulu," jawab Via pelan. "Kita beda arah, jadi gue naik Grab aja. Udah otw kok."

Agnes menatap Via sebentar, lalu mengangguk. "Kalau gitu kabarin ya kalau udah sampai rumah."

"Iya."

"Okedeh, Dev lo ikut gue kan?" tanya Agnes

"Iya dong ... mayan buat ngehemat ongkos," jawab Devi

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang