----Maaf baru update, sibuk kalo nggak sabtu minggu
----Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ....
Sinar matahari sore menyilaukan koridor, memantul pada sesuatu yang beterbangan di udara. Air mata. Air mata yang terlempar begitu saja ketika seseorang berjalan melewatinya tanpa menoleh.
Via.
Noah refleks meraih pergelangan tangan itu.
"Lo nggak papa?" tanyanya, suara Noah terdengar lebih panik daripada yang ia sadari.
Via berhenti sejenak. Bahunya naik turun, napasnya tidak stabil.
"Tolong," ucapnya pelan, hampir tak terdengar. "Gue butuh waktu sendiri sekarang."
Ia menarik tangannya dari genggaman Noah, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Noah hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung Via yang semakin menjauh. Setiap langkah Via terasa seperti jarak yang kian melebar di antara mereka.
Kakinya terasa berat. Dadanya sesak.
Akhirnya Noah mundur pelan dan bersandar pada dinding lorong sekolah. Kepalanya menengadah, matanya menatap langit-langit yang terasa terlalu terang.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang...?"
Tangannya mengepal kuat. Urat di lehernya menegang saat bayangan wajah Via—mata sembab, ekspresi hancur—kembali terlintas di kepalanya.
"Siapa pun yang bikin lo nangis..."
Rahang Noah mengeras.
"...gue nggak bakal diem."
Ia teringat satu orang. Satu-satunya orang yang bisa membantunya menemukan sumber kekacauan ini.
Noah merogoh saku celananya dan menekan nomor pamannya.
"Ada apa?" suara pamannya terdengar heran. "Kenapa sampe nelpon di jam sekolah."
Noah tak membuang waktu. "Aku kirim link video. Cari tahu siapa yang pertama kali nyebarin."
Beberapa detik hening di seberang sana.
"Oke," jawab pamannya akhirnya. "Nggak bakal lama. Tunggu aja."
Telepon terputus.
Noah menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang makin menggumpal di dadanya.
*******
Belakang sekolah sunyi sore itu. Terlalu sunyi.
Noah berdiri di sana, menunggu. Pahanya beberapa kali ia pukul pelan, bukan karena gugup, tapi karena emosinya terus naik tanpa bisa ia redam.
Pamannya benar.
Pelaku itu datang.
Tiga perempuan muncul dari ujung lorong. Di depan mereka, Sarla berjalan dengan langkah angkuh, dagunya terangkat seolah tak merasa bersalah sedikit pun.
"Hah?" Sarla mencibir saat melihat Noah. "Ternyata si mata empat yang sok ngancem."
Ia tertawa kecil, lalu berbalik. "Ayo balik. Capek-capek ke sini, emang lo bisa apa?"
Langkah Sarla terhenti.
Noah menggenggam pundaknya.
"Lepasin!" Sarla refleks menepis tangan itu dan berbalik dengan wajah marah. "Berani banget lo megang gue! Lo tau bokap gue siapa? Sekali gue buka mulut—"
Noah menatapnya tanpa berkedip.
Tatapan itu membuat Sarla terdiam sejenak.
Noah mencoba menarik napas. Berkali-kali. Ia tahu Sarla perempuan. Ia tahu batas itu. Tapi wajah Via dan air mata itu, terus menghantam pikirannya.
Noah kembali menggenggam pundak Sarla. Kali ini lebih kuat.
"A—akh! Lepasin! Sakit!" Sarla menjerit, tubuhnya terhuyung ke belakang hingga membentur dinding.
Dua temannya refleks mendekat, tapi berhenti ketika Noah menoleh dengan tatapan dingin. Tidak ada ancaman verbal. Tapi cukup untuk membuat mereka mematung.
"Apa salah Via sampai lo lakuin ini semua?" suara Noah rendah, bergetar menahan amarah.
Sarla terisak, ketakutan mulai menggerogoti wajahnya. "G-gue... gue nggak suka dia deketin Bagas."
Noah tertawa pendek. Bukan karena lucu. Tapi untuk menahan amarahnya yang kian memuncak.
"Cuma itu?" genggamannya mengencang. "CUMA ITU?"
"Gue udah ngingetin dia," Sarla terisak. "Tapi dia malah pergi ke mall bareng Bagas."
Ada sesuatu yang pecah di dalam diri Noah.
Ia mengendurkan cengkeramannya perlahan. Sarla langsung terduduk di lantai, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan napasnya tersengal.
Noah menatapnya lama.
"Semua ini terjadi karena lo," ucapnya dingin. "Dan lo akan tanggung jawab."
Ia berbalik pergi, meninggalkan Sarla yang masih gemetar dipeluk ketakutan.
*********
Noah melangkah cepat menuju kelas.
Orang yang ia cari duduk di sana, santai, seolah dunia tidak sedang runtuh.
Tanpa peringatan—. Tinju Noah menghantam wajah Bagas.
Bagas tersungkur dari kursinya. Noah langsung menarik kerah seragamnya, mengangkatnya hingga wajah mereka sejajar. Ujung bibir Bagas berdarah, matanya terbelalak—kaget dan marah.
"Berhenti dekatin Via!" ucap Noah, tatapannya tajam dan penuh ancaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Fiksi RemajaTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
