SBSS NEWS
"Setelah kegaduhan terkait video pelemparan telur kepada CEO muda PT. Nature Beauty, CEO tersebut memberikan klarifikasi terbuka kepada publik, sekaligus meminta penyelidikan menyeluruh oleh kepolisian terkait penyalahgunaan kontrak dan pelanggaran Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Polisi juga mengonfirmasi telah menerima laporan mengenai dugaan pengedaran narkoba yang melibatkan Mandala Group. Berdasarkan perkembangan tersebut, pagi ini Raka Setiawan resmi ditangkap di kediamannya."
Layar televisi menampilkan rekaman penangkapan itu.
Raka keluar dari rumahnya dengan tangan terborgol. Kepalanya tertunduk, wajahnya pucat dan kosong. Tak ada lagi senyum congkak, tak ada lagi wibawa seorang pemilik perusahaan besar. Hanya seorang pria yang akhirnya dikejar bayangan masa lalunya sendiri.
Kamera wartawan berkilat silih berganti, suara rana bersahutan, menangkap setiap langkah Raka menuju mobil polisi.
"Tidak hanya kasus pengedaran narkoba dan pelanggaran Undang-Undang Ketenagakerjaan," lanjut pembawa berita, "pihak kepolisian juga mengonfirmasi adanya kemungkinan keterlibatan Raka Setiawan dalam kasus pembunuhan. Hingga saat ini, penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap seluruh tindak kejahatan yang diduga telah dilakukannya."
********
Noah berdiri di depan dua batu nisan itu dalam diam.
Udara pagi terasa dingin, tapi dadanya terasa jauh lebih berat.
Ia berjongkok, lalu meletakkan bunga di depan nisan dengan hati-hati.
"Ayah... Ibu..." suaranya lirih.
"Akhirnya... orang yang ngebunuh kalian ada di penjara."
Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar makam.
"Evan dan Riska pasti bangga di sana," ucap Paman Noah sambil menepuk bahu keponakannya pelan.
Noah menoleh. Tatapannya menembus jauh ke depan.
"Akhirnya aku ngerti," katanya pelan,
"kenapa Paman nyiksa aku tiap hari dulu."
Paman Noah tersenyum kecil. Sejak kecil, Noah dipaksa belajar bela diri, bertahan hidup, membaca situasi, menjadi bayangan. Semua itu terasa kejam—sampai hari ini.
"Apa kamu bakal berhenti jadi agent setelah ini?" tanya Paman Noah hati-hati.
Noah terkekeh singkat.
"Terus Paman mau makan dari mana kalo aku nggak turun ke lapangan?"
Tapi kamu pasti punya mimpi," balas pamannya.
Noah terdiam. Pertanyaan itu membuatnya terkejut—seolah baru kali ini seseorang benar-benar bertanya tentang keinginannya sendiri.
"Kamu harus kuliah," lanjut Paman Noah, suaranya melembut.
"Orang tua kamu bakal marah besar kalo tau anaknya masih kerja tiap malam."
Pandangan pamannya jatuh ke makam Evan dan Riska.
"Gimana kalo... jadi agent yang beneran?" jawab Noah akhirnya.
Paman Noah menoleh cepat. Matanya berkaca-kaca.
Bagi pria itu, Noah sudah seperti anaknya sendiri. Melihat bocah yang dulu ia besarkan dengan tangan keras kini berdiri tegak dengan pilihannya sendiri—itu adalah kebanggaan yang tak bisa dijelaskan.
"Kalo gitu," katanya sambil tersenyum,
"latihannya harus ditambah."
Noah terkekeh. "Kayaknya aku berubah pikiran."
Paman Noah menghela napas, lalu menunduk ke arah makam.
"Evan, Riska... aku bakal bikin anak kalian jadi agent terbaik di Indonesia."
Tangannya menekan pelan kepala Noah, memaksanya ikut menunduk.
"Sekarang... minta restu dulu sama orang tua kamu."
Noah memejamkan mata.
"Ayah... Ibu..." suaranya bergetar tapi mantap.
"Kerjaan ini emang bahaya. Tapi setiap kali gue nolong orang... ada hangat yang nggak bisa aku jelasin."
Ia menarik napas dalam.
"Aku janji bakal jalanin ini dengan benar. Jangan khawatir di sana. Aku akan baik-baik aja. Terima kasih... buat semuanya."
Ia membuka mata dan berdiri tegak kembali.
"Ayo pulang," katanya. "Aku harus beresin barang-barangku dari rumah Via."
"Kamu mau pergi dari sana?" tanya pamannya.
"Iya," jawab Noah.
"Kontraknya bisa dibatalin sekarang. Dari awal, itu juga keinginan ayahnya Via."
Paman Noah melirik jam tangannya.
"Via udah masuk kantor. Kamu nggak pamit?"
Noah menggaruk tengkuknya, canggung.
"Nanti malah aneh kalo pamit."
Ia tersenyum kecil. "Kayaknya... lebih baik gini."
Pamannya hanya tersenyum. Ia tahu betul—Noah mulai menyukai Via, tapi anak itu sama sekali belum paham soal perasaan sendiri.
"Baiklah," katanya.
"Ayo ambil barang-barang kamu."
*******
Koper sudah tertutup.
Noah berdiri di tengah kamar, menatap kasur yang setiap malam ia tempati, menatap langit-langit yang selalu ia lihat sebelum tertidur.
Hanya beberapa bulan.
Tapi kenangannya terlalu banyak.
Ia menarik koper, keluar kamar, menuruni tangga perlahan—lalu berhenti di depan kamar Via.
Noah tersenyum kecil, mengingat betapa susahnya membangunkan Via dulu. Kini justru Via yang bangun lebih pagi darinya.
"Kebo," gumamnya lirih, "jangan kesiangan lagi."
Ia berjalan ke dapur. Meja makan itu—tempat mereka duduk tiap pagi dan malam—masih sama. Ia ingat bagaimana betapa takutnya Via memakan masakannya, tapi akhirnya memakannya tanpa sisa.
Ia juga ingat Via yang memasak ketika Noah terluka. Rasanya biasa... tapi hangatnya tinggal.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Apa gue nggak pengen ninggalin tempat ini?
Noah menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran itu.
"Gue cuman kebiasaan di rumah ini," gumamnya. "Tempat gue pulang dan istirahat, karena itu rasanya jadi agak berat. Nggak perlu berpikiran yang aneh-aneh, paman udah nunggu di luar."
Ia menarik koper dan berjalan keluar rumah.
Di luar, Noah berhenti. Menoleh. Menatap sekeliling untuk terakhir kalinya.
Ia mengunci pintu, lalu meletakkan kunci di bawah karpet.
"Gue pamit."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
