-----Komen-komenlah, sepi amat ini cerita ._.
-----1 vote 1 support :)
"Apa lo yakin dia nggak bakal bocor?" tanya Noah sambil mencelup ayam KFC ke saus dan memakannya tanpa ekspresi.
"Keknya Bagas bukan orang gitu..." jawab Via, meski suaranya terdengar ragu.
Mereka duduk di meja makan. Malam ini makanannya KFC—pesanan GoFood yang hampir membuat nyawa Noah melayang karena salah paham dengan Bagas.
"Lo tau sendiri kan bakal kayak apa kalau ini ketauan?" Noah menatap Via datar.
Bayangan buruk langsung berputar di kepala Via.
Agnes pasti ngamuk karena Via nggak cerita. Devi mungkin bakal memaksa tidur bareng Via supaya "mengawasi Noah".
Tapi yang paling parah: gosip sekolah.
Serumah dengan cowok. Belum menikah. Nama baiknya? Hancur.
Via memegangi pelipisnya, pusing membayangkannya.
"Tapi ini salah lo juga!" sentaknya. "Lo tuh nggak hati-hati waktu mau keluar rumah!"
Noah mengangkat alis, tidak terpengaruh.
"Mana gue tau temen lo nongol malem-malem? Gue cuma mau ngambil gofood."
"Ya lo kan bisa ngintip dulu dari jendela! Lagian kamar lo di lantai dua, keliatan jelas pintu depan!"
"Iya, iya..." Noah menjawab malas.
Via memutar bola mata. Apa orang ini pernah minta maaf seumur hidupnya?
Mereka makan lagi dalam keheningan yang canggung. Meski sudah hari keempat, atmosfernya masih kaku seperti hari pertama.
"Malam ini lo kerja lagi?" tanya Via akhirnya.
"Iya," jawab Noah datar.
"Heh... kenapa sih lo kerja kayak gitu? Anak SMA jadi agen rahasia tuh cuma ada di film."
"Gue butuh uang," sahut Noah singkat.
"Kan lo punya orang tua?" tanya Via lagi—terbayang sosok pria paruh baya yang pernah mengambil rapor Noah.
"Terus gimana mereka bisa ngeizinin lo tinggal sama gue? Mereka agen juga?"
Noah memandangnya lama. Kemudian menghela napas.
"Kenapa lo jadi sekepo itu?"
"Gue harus tau orang yang serumah sama gue. Itu wajar!"
Noah akhirnya meletakkan paha ayamnya di piring dan suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. "Gua bakal jawab kali ini, tapi ini pertanyaan terakhir yang gue jawab." Dia sempat berhenti sebentar, lalui melanjutkan. "Orang tua gue meninggal sepuluh tahun lalu. Gue tinggal sama paman sampai dua tahun lalu. Karena akhirnya dia menikah dan nggak mau ngerepotin dia sama istrinya, gue milih pindah. Paman dulu mantan anggota pasukan khusus dan harus berhenti karena kakinya cacat saat misi. Biar bisa bertahan hidup. Kami menerima misi menjadi agen swasta, dia yang jadi otak rencana, gue yang jadi orang lapangan."
Via langsung menunduk, merasa bersalah karena menungkit soal orang tuanya. "Maaf... Gue nggak tau."
"Iya," sahut Noah singkat.
Via kemudian menggeleng, masih ada satu hal yang harus dia sampaikan. "Tapi kerjaan kek gitu terlalu bahaya untuk anak SMA, kan?"
Noah menatap Via, setelah empat hari, Noah diam-diam memperhatikan sifat Via, entah di rumah atau di sekolah. Dan selalu seperti ini, merasa khawatir dan merasa bertanggung jawab dengan orang lain.
"Berhenti buang energi, lo nggak berhak khawatir dan gue udah bilang, itu pertanyaan terakhir."
Noah mengangkat piring, berjalan ke arah wastafel dan mencucinya tanpa suara.
Via memandangi punggungnya dari meja makan.
Sikapnya nyebelin, tapi... apa salah kalau gue khawatir? Kita sekelas juga, kan...
********
"Ada kerjaan lagi?" tanya Noah, terbaring santai di kasurnya sambil menatap langit-langit.
"Klien mau ketemu langsung," jawab sang Paman lewat earphone. "Katanya lebih jelas kalau disampaikan tatap muka."
Noah mendengus.
"Ribet banget."
"Aku juga udah bilang gitu, tapi dia maksa danmastiin kalo bayarannya bakal bagus."
Hening sesaat. Lalu Noah bertanya pelan, seolah pertanyaan itu sudah mengganggunya sedari tadi. "Paman... kamu nggak kenal ayahnya Via, kan?"
"Aku baru kenal waktu dia jadi klien kita."
Noah menatap langit-langit gelap.
"Kenapa dia minta gue tinggal sama Via? Menjaga dari apa? Udah empat hari gue di sini dan semuanya normal," ucap Noah frustasi.
"Aku juga nggak ngerti, tapi sabar aja dulu." jawab Paman tenang. "Nggak ada ayah yang bertindak tanpa alasan."
Noah mendesis kemudian meniup poninya kesal, "Jam berapa ketemunya?"
"Sepuluh malam ini. Lokasi udah kukirim."
Noah melihat kearah jam tangannya, sudah pukul 21.30 sekarang. "Aku siap-siap dulu."
*******
Noah memarkirkan motor dan melepas helmnya. Seperti biasa dia mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan lensa mata. Dia melihat lokasi melalui handphonenya sekali lagi. Lokasinya benar, gudang besar itu menjadi tempat pertemuan mereka.
Noah berjalan memasuki gudang yang berukuran cukup besar itu. "Lokasinya benar?" tanya Noah. Mata Noah melihat sekeliling, tapi tidak menemukan siapapun disana. "Tidak ada siapapun disini," lapor Noah melalui earphone.
Tiba-tiba. Pintu besi bergeser keras. Seseorang muncul dari balik tumpukan barang rusak. Seorang dengan kepala botak, mengenakan jas hitam, dan tersenyum licik.
"Masih ingat gue?"
Merasakan bahaya, Noah langsung memasang kuda-kuda. "Gue nggak perlu nginget sampah kayak lo!"
Pria itu terkekeh.
"Lo ngancurin bisnis gue waktu itu. Tapi lo pikir gue bakal diam?"
Suara gesekan keras. Empat orang muncul sambil menyeret balok kayu. Empat lainnya membawa besi di bahunya. Sisanya tangan kosong.
"Sepertinya ini jebakan," ucap Noah melalui earphone.
"Cepat pergi dari ruangan itu!" perintah Paman panik.
Noah mencoba berbalik dan ingin berlari menuju pintu, tapi niatnya terhentikan oleh enam orang yang sudah berada didepan pintu.
"Aku dikepung, ada sekitar dua puluh orang di gudang ini," ucap Noah.
"Sial," Paman memukul mejanya kesal, "Tahan sebisa mungkin, aku kesana!" Paman melepas earphonenya dan bergegas menuju garasi dengan jalan terpincang.
Noah mengatur napas. Matanya meraba, empat orang dengan kayu. Empat dengan besi. Sisanya pemukul biasa. Dia bisa menghitung peluangnya dan hasilnya benar-benar jelek.
"Dasar pengecut," Noah mengangkat dagunya. "Berani satu-satu nggak?"
"Hey, hey. Kita bukan mau fair fight, bocah. Kita mau mukulin lo sampai puas."
Noah berdecik mendengar jawabannya. Ini bakal panjang.
Pria botak memberi kode dengan jarinya. Empat orang dengan kayu dan empat lainnya dengan potongan besi mulai berjalan mendekati Noah. Mereka terlihat tersenyum, pekerjaan mereka kali ini terlihat mudah dan menyenangkan. Memukuli satu orang dengan jumlah mereka yang jauh lebih banyak, membuat mereka terlihat sangat percaya diri.
Noah menghembuskan napas...
...dan menurunkan titik berat tubuhnya ke posisi bertarung.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
