BAB 20 : REBRANDING?

493 113 16
                                        


Noah memilih menunggu di lobby kantor. Sambil duduk, matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sebuah frame foto besar yang tergantung di dinding. Ia yang dari tadi duduk di sofa dan membuka handphone, langsung berdiri dan menghampiri frame foto tersebut. 

Sekejap saja—ingatan lama langsung menyambar. Wajah itu. Bukan pertama kali ia melihatnya. Noah menatap foto Paman Raka lebih lama, lalu menghembuskan napas pelan.

"Oh... jadi gitu," gumamnya lirih.

Itu bukan pertama kali dia melihatnya. Dia bahkan pernah memotret Paman Raka dan itu adalah misi yang diminta oleh Ayahnya Via. Memotret seseorang yang telah menyuap BPOM untuk perizinan obat-obatan.

"Kalau gini..." batinnya mulai menyusun potongan demi potongan,
"orang yang paling mungkin menyingkirkan atau bahkan ngebunuh ayah Via... justru pamannya sendiri."

"Dan nempat-in Via di Nature Beauty yang lagi di ambang kehancuran... jelas bukan kebetulan. Bahkan ditengah ketatnya keamanan tadi malam dan seseorang dengan mudah melempar telur?"

Paman Raka sedang bermain dua langkah ke depan. Menghancurkan citra Via, lalu mengambil alih semuanya.

"Lagi liatin apa?" Suara Via muncul tiba-tiba di sampingnya.

Noah refleks menoleh. "Nggak apa-apa. Cuma bengong," jawabnya ringan. "Urusan lo udah selesai?"

"Ayo ke lantai dua puluh. Gue mau ke bagian pemasaran."

"Oke."

Mereka berjalan menuju lift berdampingan.

Namun pikiran Noah masih berputar.

Tapi masih ada satu hal yang menjadi tanda tanya, kenapa harus gue yang ngejaga Via? Gue cuman orang asing yang baru dia temuin, batin Noah bingung.

Setelah berada di dalam lift yang hanya berisi mereka berdua, Via tiba-tiba berjongkok dengan kepala menelungkup di lengan. Noah yang melihat itu langsung ikut berjongkok menghadap Via.

"Lo kenapa?" tanya Noah panik.

"Gue takut, gue takut nggak bisa benerin perusahaan," ucap Via lemah.

Noah hanya dapat melihat kesamping untuk memikirkan jawaban apa yang dapat dia berikan. Ia kemudian menatap Via kembali, lalu berkata pelan. "Takut itu justru bukti kalau lo peduli." 

Noah kemudian berdiri dan menjulurkan tangannya.

"Tapi jangan jadiin itu sebagai batu sandungan baru. Yang lo bisa lakuin sekarang cuman berjalan ke depan dan hadapin itu semua. Ayo berdiri lagi, gue yakin lo bisa."

Via mendongak, menatap tangan itu ragu.

"Kalo lo butuh apa-apa," lanjut Noah, tersenyum tipis, "bilang ke gue. Gue agent rahasia lo kan, lo dapet andelin gue."

Via meraih tangan Noah dan berdiri.

"Sejak kapan lo jadi care kek gini?"ejeknya lemah. "Makan apa lo tadi pagi." 

Entahlah, gue juga nggak paham. Gue cuman nggak suka liat lo kenapa-napa, mungkin karena gue dapet misi ngejaga lo dari awal," batin Noah

Pintu lift terbuka membuat pembicaraan mereka terhenti. Via menarik napas lebih dalam kali ini. Dia harus menemui Ninda, bagian pemasaran yang terlihat kurang ramah saat pertama kali bertemu.

"Lo nunggu di lobby lagi?" tanya Via.

"Iya, gue di lobby aja," kata Noah. "Bakal aneh kalo gue ikut."

"Oke, aku masuk dulu."

Via berjalan pergi.

********

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang