"Gimana? Masih bisa keluar rumah tanpa ketahuan wartawan?"
Suara paman Noah terdengar dari earphone kecil di telinganya.
"Bisa," jawab Noah santai sambil meraih jaket hitamnya.
"Belakang rumah aman. Tinggal lompat pagar dikit."
Noah berdiri di depan cermin kamar, memastikan pakaian serba hitamnya rapi dan tidak mencolok. Di lantai bawah, kondisi Via sudah jauh membaik. Ia sudah bisa berjalan sendiri ke dapur—walau wajahnya masih pucat
"Jam sembilan mereka mulai transaksi," suara pamannya kembali terdengar. "Aku sudah kirim lokasinya."
Noah mulai memasang topi hitam untuk menyelesaikan pakaian serba hitamnya. "Gimanapun caranya, kita harus bikin Raka membusuk di penjara. Ini cuman langkah awal, paling nggak, kita makin dekat buat ngebuka semua kebusukan Mandala Grup."
Paman Noah hanya tertawa kecil di balik layar komputernya, "Sekarang kita cari bukti kasus pengedaran narkoba, tapi setelah ini, korupsi, penyuapan dan terakhir pembunuhan. Tapi ingat, tetap kepala dingin."
Ia mengambil ransel hitamnya dan melangkah ke dapur. Dari jendela belakang, terlihat jelas para wartawan masih berkumpul di depan gerbang rumah—kamera siap, sorot lampu menyala.
Ia melemparkan tali ke ujung pagar belakang rumah, menariknya beberapa kali untuk memastikan kuat, lalu memanjat dan melompat turun ke sisi lain dengan mulus. Beberapa menit kemudian, ia berjalan menjauh dan memesan mobil menuju rumah pamannya untuk mengambil motor.
*********
Hotel itu tampak hidup—lampu terang, mobil mewah keluar masuk, dan suara musik samar terdengar dari dalam.
Dari sudut aman, Noah mengeluarkan kameranya dan mengambil beberapa foto. Bar di lantai bawah terlihat ramai, sementara jalur menuju area VIP dijaga ketat.
Lalu—seseorang muncul.
Pria berkepala botak itu.
Noah menyipitkan mata.
"Eh," gumamnya pelan. "Kepala botak itu."
"Siapa?" tanya pamannya dari earphone.
"Bakhtiar," jawab Noah. "Yang dulu sempat ngajarin gue cara bertahan hidup."
Noah benar-benar masih ingat tiap pukulan tongkat kayu dan besi yang menghantamnya di gudang malam itu.
Pamannya mendecak pelan. "Dia di situ?"
"Iya. Fix satu komplotan. Dulu dia ditangkep karena kasus narkoba juga, kan? Apa aku hajar aja buat cari informasi?"
"Hey, tenang. Kalo ada dia ada disini, berarti informasi yang kita dapat benar. Ada pengedaran narkoba di hotel itu. Cukup selidiki dari jauh, ikuti mereka, dan cari informasi sebanyak mungkin," terang Paman menyadarkan Noah.
"Iya, iya."
Noah mulai memasukkan kameranya kembali ke dalam tas. Ia kemudian mengikuti Bakhtiar dari kejauhan. Dugaan mereka benar—pria itu menuju bar hotel, lalu menghilang ke arah ruang VIP.
**********
Di sisi lain ruangan, Bagas berdiri di depan wastafel kamar mandi bar. Air menetes dari wajahnya saat ia mengangkat kepala dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Napasnya belum stabil.
"Tenang," gumamnya pada diri sendiri. "Lo cuma masuk, dengerin, rekam dikit, terus cabut."
Suara musik dari luar membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Menurut Daniel, malam ini bukan transaksi biasa. Lebih ke... pesta. Dan itu berarti lebih banyak celah—juga lebih banyak risiko.
"Gas," bisiknya pelan. "Lo bisa bayangin gimana terpuruknya Via sekarang karena Paman Raka. Karena itu lo harus mampu ngelakuin ini. Masa depan Via ada di tangan lo sekarang!"
Setelah menghembuskan nafas kencang. Bagas berjalan menuju tempat VIP. Sebuah ruangan khusus yang biasanya digunakan Mandala Grup untuk melancarkan aksi mereka. Terlihat dua orang penjaga di depan ruangan itu. Seperti yang Daniel bilang, tidak boleh ada satupun barang elektronik yang masuk kedalam.
"Pelanggan baru?" tanya seorang penjaga yang tampak asing dengan wajah Bagas.
"Iya," sahut Bagas yang terus menerus meyakinkan dirinya untuk tetap tenang.
"Lo tau aturannya?"
Bagas menyerahkan handphone dan jam tangannya kepada penjaga. Bagas telah membeli sebuah alat perekam yang sangat kecil, dia sudah mengaktifkannya dan menyembunyikannya di tapak sepatunya. Dia sangat yakin tidak akan ada yang menyadari hal itu.
Penjaga tersebut mengambil handphone Bagas dan menaruhnya kedalam sebuah box. Penjaga yang lain mulai menggeledah satu-persatu kantong dan setiap jengkal tubuh Bagas. Walaupun sangat yakin telah menyembunyikannya di tempat yang aman, tapi tubuh Bagas tak henti-hentinya berkeringat. Dia benar-benar sangat gugup sekarang. Hal itu membuat seorang penjaga menaruh curiga kepadanya.
"Lo nggak bawa apa-apa kan?" tanya penjaga itu curiga.
"Kalau iya, ngapain gue repot-repot dateng?" jawab Bagas tipis.
"Tubuhnya bersih," ucap penjaga pertama.
Bagas hampir menghela napas lega—sampai penjaga kedua berkata,
"Alat itu udah dateng, kan?" tanya Penjaga itu ke temannya.
"Iya, baru datang tadi pagi."
"Ambilkan alat pelacak logam itu."
Darah Bagas seolah berhenti mengalir.
Alat pelacak?
Ini nggak ada di info Daniel.
Setelah Alan membawa bukti suap Raka ke BPOM ke mejanya, keamanan di perketat. Tapi Daniel tidak tau itu, dia akhir-akhir ini sering shooting diluar kota, jadi sudah beberapa bulan tidak ikut party di ruang VIP.
"Tenang," gumamnya dalam hati. "Tenang."
Alat itu dinyalakan. Bunyi bip terdengar saat melewati jam tangan yang tadi ia serahkan.
"Normal," kata penjaga.
Alat itu bergerak turun—dada, pinggang, saku celana.
Jantung Bagas berdegup semakin kencang.
"Sedikit lagi," batinnya panik. "Jangan ke kaki... jangan ke kaki..."
Alat itu bergerak perlahan.
Semakin dekat ke bawah.
Bagas menelan ludah. Keringatnya mulai mengalir deras. Memilih kabur pun malah membuatnya akan terlihat semakin mencurigakan.
"Sial!"
"Aku harus bagaimana? !"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
