Via duduk di tepi ranjang, masih mengenakan seragam sekolahnya. Tasnya tergeletak begitu saja di lantai, bahkan belum sempat ia buka sejak pulang tadi malam. Pandangannya kosong menatap dinding kamar yang terasa terlalu sunyi.
Gimana caranya gua bisa mandi dengan tenang?
Satu rumah dengan cowok. Cowok yang tiba-tiba berdiri di dapurnya dengan kunci rumah di tangan, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Via menjambak rambutnya frustrasi.
Ayah, apa sih yang sebenernya Ayah lakuin?
Kenapa Ayah ngebikin kontrak dengan Noah?
Ia tidak tahu apa pekerjaan Noah. Noah juga tidak menjelaskan dengan jelas. Yang Via tahu hanyalah, ayahnya mempercayakan sesuatu yang sangat besar pada cowok itu. Dan entah kenapa, fakta itu justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Ketukan terdengar di pintu kamar.
Via tersentak.
"Makanannya udah siap." Suara dari balik pintu terdengar datar.
Via menutup mata sejenak.
Bahkan sekarang gue harus makan bareng dia.
"Keluar bentar," lanjut Noah. "Di kontrak tertulis kita harus makan bareng."
Kontrak. Lagi-lagi kontrak.
"Iya," jawab Via pelan. "Bentar lagi."
Ia berdiri perlahan, merapikan rambut seadanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya saat ia memutar gagang pintu dan melangkah keluar kamar.
Aroma masakan langsung menyambarnya.
Dapur itu, dapur rumahnya, setelah sepuluh hari semenjak ayahnya berpulang, rasanya terlihat... berbeda.
Noah sudah duduk di meja makan. Rambutnya masih sedikit lembap, seperti baru selesai mandi. Sweater cokelat yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih rapi dari biasanya. Bukan Noah yang sering Via lihat tertidur di kelas dengan kemeja kusut dan kacamata miring.
Di atas meja, makanan tersaji lengkap. Nasi hangat. Ikan goreng. Capcay. Udang dan cumi goreng tepung. Sambal kecil di sudut meja.
Via berhenti melangkah.
"Lo..." suaranya tercekat. "Lo masak semua ini?"
Noah melirik sebentar, lalu kembali ke piringnya. "Iya."
"Sendirian?"
"Iya."
Via menarik kursi perlahan dan duduk. Bahkan piringnya sudah terisi nasi, rapi, seolah Noah tahu persis takaran yang biasa ia makan.
"Gue nggak naro yang aneh-aneh," ucap Noah tanpa menatapnya. "Mukanya nggak perlu gitu. Cepat makan, gue nggak mau kena denda sepuluh milliar hanya karena lo nggak mau makan."
Via mengangguk kecil, lalu mengambil satu potong cumi dan mencicipinya.
Enak. Bahkan, lebih dari enak. Via terdiam beberapa detik, lalu buru-buru menyuap nasi agar ekspresinya tidak ketahuan.
Orang yang kerjaannya tidur di kelas... bisa masak begini?
"Lo belum mandi?" tanya Noah tiba-tiba yang sadar Via masih mengenakan seraham sekolahnya.
Via refleks menegang. "Belum."
"Gue nggak bakal ngelakuin yang aneh-aneh, jadi simpan pikiran kotor itu di kepalamu. Aku tau kamu takut, tapi kita harus mulai terbiasa dengan ini semua." Nada suaranya datar. Bukan berniat menenangkan, tapi justru itu yang membuat Via makin bingung. Seolah Noah yakin dirinya tidak berbahaya dan yakin Via seharusnya paham itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Fiksi RemajaTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
