BAB 21 : TERSERAH!

489 103 17
                                        


"Aku masuk sekarang," ucap Noah pelan ke arah earphone.

Jam menunjukkan pukul 21.07 ketika Noah berada di sudut parkiran bawah gedung Mandala Group. Ia mengenakan kemeja abu-abu dengan name tag yang berhasil pamannya buat dengan meniru name tag Via. Rambutnya disisir rapi, kacamatanya bertengger di atas hidung. Malam ini, dia akan menyamar sebagai karyawan, dengan satu tujuan. Masuk keruang server.

Noah melangkah masuk ke dalam gedung ,mesin tap kartu berbunyi singkat saat ID card tiruannya ditempelkan.

Noah berjalan tenang, menjaga langkahnya tetap stabil—tidak terburu-buru, tidak ragu. Ia hafal satu aturan penting dalam penyamaran, orang yang tampak tahu ke mana ia pergi jarang dihentikan.

Dia akhirnya tiba di lift, memencet beberapa tombol, agar pergerakannya tidak tebaca, lantai tujuh, lantai lima belas, lantai delapan belas, dan tujuan utamanya, lantai dua puluh lima.

Di dalam lift, Noah menyandarkan punggung ke dinding, menatap angka lantai yang terus naik. Wajah Paman Raka kembali muncul di benaknya—foto besar yang tadi terpajang di lobby.

Sekarang dia paham kenapa wajah itu terasa familiar dan mungkin itu alasan kenapa ayah Via melakukan semua ini. 

Noah menunduk sebentar, membetulkan earphone. "Paman betulan nggak nyimpen foto yang ku ambil waktu Paman Raka nyuap BPOM?"

"Kamu tahu sendiri aturan kita," jawab suara di seberang. "Semua data klien dihapus setelah misi selesai.

Noah mendecih pelan.

"Berarti kita memang harus cari yang baru, dan ruang server pasti nyimpen. sesuatu."

Lift sampai di lantai dua puluh lima.

Noah melangkah keluar. Suasana lantai dua puluh lima jauh berbeda—lebih dingin, lebih sunyi. Tidak ada meja kerja, tidak ada dekorasi. Hanya lorong panjang, kamera di setiap sudut, dan pintu baja bertuliskan SERVER ROOM.

Ia berjalan dengan rute yang sudah direncanakan. Menghindari satu kamera, menunggu jeda rotasi kamera lain.

Di depan pintu server, Noah mengeluarkan peniti dari sakunya. Memasukkan peniti itu ke dalam lubang kunci dan dalam hitungan detik, pintu terbuka.

Ia menutup pintu perlahan. Merogoh saku sambil berjalan mencari komputer utama, setelah ketemu, dia segera menancapkan flash disk hitam.

"Flash disk, udah terpasang."

"Oke."

Dari rumahnya, Paman mulai bekerja. Jari-jarinya menari cepat di keyboard, wajahnya santai—bahkan sempat menggigit sandwich.

"Ngomong-ngomong," gumam Noah, "udah seminggu Paman nggak ngasih kerjaan, uangku mulai abis."

"Kau mau ditransfer?"

"Bukan gitu," Noah mendecih. "Habis dipukuli kemarin, Paman malah nggak ngasih kerjaan sama sekali. Hilangin rasa bersalah bodoh itu."

Paman terkekeh kecil. "Kau emang nggak ada traumanya ya, nanti aku hubungi kalo memang ada kerjaan."

"Sekalian," tambah Noah, "cariin aku data Raka Setiawan. Yang nggak bisa ditemukan di Google. Paman paham maksudku kan?"

Hening beberapa detik.

"Selesai," ucap pamannya. "Ambil flash disk-nya. Kau bisa pergi sekarang."

Noah mencabut flash disk dan memasukkannya ke saku jaket.

Ia keluar ruangan, mengunci kembali pintu server seperti semula.

Semuanya terlihat aman. Noah berjalan cepat menuju lift. Tapi sebelum dia memencet tombol, pintu lift itu terbuka sendiri.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang