BAB 31 : Masalah #3

411 76 34
                                        

"Berhenti dekatin Via!"

Suara Noah terdengar rendah, tapi penuh tekanan. Tangannya masih mencengkeram kerah seragam Bagas, tatapannya tajam—terlalu tajam untuk sekadar ancaman kosong.

Bagas terdiam sejenak. Lalu tawa kecil keluar dari bibirnya yang sudah pecah.

"Serius?" katanya lirih, getir. "Apa hak lo buat ngelarang gue?"

Bagas memukul Noah terlebih dahulu. Kacamata Noah terlempar, berputar di udara sebelum jatuh ke lantai kelas dengan bunyi nyaring. Noah terhuyung, darah terasa asin di bibirnya.

Detik berikutnya, Noah membalas.

Satu tendangan keras menghantam dada Bagas. Tubuh Bagas terlempar ke belakang, membentur bangku hingga jatuh tersungkur. Suara kursi yang bergeser membuat kelas mendadak gemuruh.

"Karena lo!" teriak Noah, napasnya memburu. "Karena lo, Via harus nerima semua ini!"

Murid-murid mundur ketakutan. Tak ada yang berani mendekat.

Bagas berusaha bangkit, tubuhnya gemetar menahan sakit. "Apa maksud lo?" suaranya serak. "Gue nggak ada hubungannya sama video itu! Gue juga lagi nyari pelakunya!"

Mendengar hal itu, Noah berjalan mendekati Bagas. Dengan wajah penuh amarah dia kembali memukul wajah Bagas. Bagas yang kesulitan berdiri pun sampai tergeletak di lantai sekolah karenanya. Belum puas, Noah kembali berjalan mendekati Bagas. Menaiki tubuhnya, mengangkat kerahnya, dadanya naik turun, amarahnya sudah melewati batas logika.

"Lo nggak tau gimana perjuangan Via!" bentaknya.
"Dia begadang tiap malam! Dia ninggalin olimpiade! Dia ngemis data ke sana-sini buat nyelametin perusahaan! Dan semuanya hancur—"

Tangannya gemetar sambil mengangkat kerah Bagas.

"—karena lo terus ngecoba deketein dia. Sarla! Dia unggah video itu gara-gara lo!"

Bagas tidak membalas. Darah menetes dari sudut bibirnya, matanya menatap kosong—antara sakit dan sadar bahwa ada sesuatu yang benar dalam amarah Noah.

Guru datang berlari.

"HENTIKAN!"

Tiga guru menarik Noah mundur dengan susah payah. Noah meronta sebentar, lalu tubuhnya melemas—seolah seluruh tenaga itu baru saja habis bersama kemarahannya.

Bagas terbaring, napasnya berat.

"Bawa Bagas ke UKS," perintah seorang guru.
"Dan Noah—ke kantor. Sekarang."

Saat Noah diseret keluar kelas, pandangannya buram. Tapi satu kalimat terus berdengung di kepalanya:

Via tidak pantas menerima ini.

********

Ditempat lain, Paman masih berada di depan komputernya. Ada satu hal yang mereka semua lewatkan. Bagaimana Sarla bisa tahu detail kondisi perusahaan. Bagaimana narasi video itu terasa terlalu rapi—terlalu tepat sasaran.

Merasa aneh dengan hal itu, Paman Noah kembali menyelam dalam proses hackingnya. Jarinya bergerak cepat, kode demi kode tertulis di layarnya dan setelah beberapa menit, dia menemukan akun anonim yang mengirim video itu kepada Sarla.

Setelah melacak alamat IPnya, sebuah gambar perusahaan besar terlihat di layar. Mandala Grup.

********

"Pastikan Via tidak mengungkit aku yang telah melakukan pemecatan itu, beri dia sebuah alasan. Apabila media sampai tau, stabilitas Mandala Grup akan terganggu, dia harus menutupi semua ini. Mandala Grup tidak boleh terganggu hanya karena perusahaan yang hampir tutup, kita akan menutup PT. Nature Beauty apabila perlu."

Panggilan ditutup.

Di sebuah ruangan luas dengan dinding kaca, seorang pria memutar gelas wine perlahan. Senyum tipis terukir di wajahnya—dingin, tanpa emosi.

"Apa yang bisa dilakukan bocah itu sekarang. Perusahaan ini memang cuman milikku. Dari awal akulah yang membuat perusahaan menjadi sebesar ini. Aku tidak akan memberikannya pada siapapun. Membunuh ayahmu memang pilihan yang sangat tepat!"

Ia meneguk wine itu tanpa ragu.

Raka Setiawan.
CEO Mandala Group.

*********

Di tempat yang berbeda—

Via terlihat menangis sangat keras di kamarnya.

Noah harus mendengarkan semua kemarahan guru karena perbuatannya.

Dan Bagas terbaring di UKS, menatap langit-langit putih dengan perasaan bersalah yang tak bisa ia jelaskan.

Lalu, akan bagaimanakah nasib mereka bertiga?

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang