Bab 22 : SAHABAT

454 98 15
                                        


Via memeluk tumpukan kuesioner di dadanya. Sekitar seratus lembar.
Pagi itu, senyumnya merekah—jauh lebih cerah dari lingkar mata samar akibat begadang semalaman.

Di depan gerbang sekolah, ia berdiri sambil membagikan lembar demi lembar kertas.

"Tolong diisi ya," ucap Via ramah pada setiap siswa yang lewat.
"Nanti sepulang sekolah aku tunggu lagi di sini."

Meski matanya terasa berat, rasa lelahnya tertutupi oleh semangat yang sulit dijelaskan.
Kuesioner itu bukan sekadar kertas. Itu adalah pegangan pertama Via sebagai CEO—data nyata dari calon konsumen yang selama ini luput dari perusahaan.

Ia butuh tahu satu hal sederhana, kenapa orang membeli make up, dan kenapa mereka berhenti membelinya.

Hari ini seratus dulu.
Nanti malam akan ia rekap sendiri.
Kalau masih kurang, ia akan cari cara lain.

"Perlu bantuan?"

Via mendongak sedikit untuk melihat siapa yang menawari bantuan. Bagas memiliki tubuh yang sangat tinggi, sehingga siapapun harus mendongak untuk melihat wajahnya. Via sebenarnya agak kurang enak dengan Bagas. Via akhir-akhir ini selalu berangkat lebih pagi menuju sekolah untuk menghindari Bagas yang selalu ingin menjemputnya.

"Nggak perlu sungkan," lanjut Bagas sambil mengambil setengah tumpukan kuesioner dari tangan Via. "Gue bantuin."

Via ragu sesaat, lalu mengangguk kecil. "Makasih, Gas."

"Santai aja, entar kalo ada apa-apa, lo minta bantuan sama gue aja. Perusahaan sebesar itu berat kalo dipikul sendirian, gue bakal ngebantu lo semampu gue," ucap Bagas sembari menyerahkan kuesioner itu. Karena Bagas, para siswi dapat berkumpul dengan cepat. Hal itu menyebabkan gerombolan yang membuat keduanya kesusahan membagikan kuesioner.

"Tolong diisi ya," ujar mereka bergantian. "Nanti dikumpulin sepulang sekolah di sini."

**********

Kertas kuesioner itu mendarat di meja Via dengan suara cukup keras.

"Kami perlu penjelasan. Sekarang"

Via mendongak. Devi dan Agnes berdiri di depannya—wajah mereka jelas tidak sedang bercanda.

"Bukannya lo janji," sambung Agnes, "kalau ada apa-apa, lo bakal cerita?"

Mereka berdua melihat Via yang sedang membagikan kuesioner dengan Bagas tadi pagi. Melihat isi kuesioner itu, mereka tau bahwa Via sedang melakukan sesuatu yang berat sekarang. Kabar tentang Via yang menjadi CEO sepertinya memang benar-benar terjadi.

Via hanya bisa menunduk, dia sebenarnya ingin menceritakan hal berat yang dia alami beberapa hari ini. Tapi ... dia hanya tidak ingin, membuat kedua sahabatnya itu khawatir.

"Hari minggu lalu, gue di angkat sebagai CEO PT. Nature Beauty, gue perlu beberapa data untuk rapat perusahaan, karena itu gue ngebuat kuesioner itu," tutur Via. "Tapi kalian jangan salah sangka, kebetulan aja Bagas datang terus bantuin gue, bukannya gue lebih milih Bagas ketimbang kalian berdua ya," tutur Via.

"Via sayang ... kami siap ngebantuin kok, kalo ada masalah jangan takut cerita ya," ucap Agnes.

"Kalian lagi fokus persiapan olimpiade kan, gue ... cuman nggak mau fokus kalian keganggu karena gue."

Devi menghampiri Via dan mencubit kedua pipinya keras, "Gue nggak suka ya, nggak enakan, nggak enakan kek gini. Entar di kantin, lo pokoknya harus ngejelasin semuanya. Gua nggak mau tau!" ucap Devi yang terus menerus mencubit pipi Via gemas.

Guru matematika datang dan menghentikan pembicaraan mereka. Devi dan Agnes kembali ketempat duduknya. Via pun harus mencoba memindahkan fokusnya kembali ke sekolah. Menjadi CEO benar-benar berat. Bukan hanya menguras pikiran dan tenaga, mentalnya benar-benar tersudutkan sekarang.

**********

Devi dan Agnes hanya bisa mengeluarkan wajah sangat shock ketika mendengar cerita Via. Via mencoba menjelaskannya sedetail mungkin, tentu saja tanpa adanya Noah disana.

"Gue pasti udah gila kalo harus jadi elo," ucap Devi sembari meremas rambutnya.

"Dev, lo harusnya nyemangatin, bukan malah kek gini," sahut Agnes kesal.

Devi mengacak-ngacak rambutnya karena kesal dengan respond yang dia berikan, seharusnya dia tidak mengatakan itu pada Via. "Tapi, kalo Via. Via pasti bisa, selama ini apapun yang terjadi, Lo pasti bisa ngejalaninnya," ucap Devi sembari memberikan jempol dan senyuman ke arah Via.

Via hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Devi sekarang, "Iya, semoga gue bisa. Soalnya sekarang banyak orang yang hidupnya bergantung sama keputusan gue."

Agnes hanya bisa melihat Via dengan sangat khawatir, wajah Via benar-benar terlihat lelah hari ini. Agnes sangat yakin Via nanti akan menjadi CEO dan mampu menjalaninya. Tapi ... dia tidak menyangka hal itu akan datang secepat ini.

"Apa rencana lo kedepannya?" tanya Agnes.

"Satu bulan lagi, lagi gue ada rapat. Perusahaan akan Re-branding total. Dari brand, produk, packaging, dan marketing," tutur Via.

Agnes hanya dapat menghela nafasnya panjang, "Jadi karena itu lo butuh kuesioner. Kira-kira berapa data yang lo perluin?"

"Mungkin sekitar 200 sampai 300, Gue sebenarnya butuh lebih. Tapi, karena semuanya dilakukan manual, penyebaran dan rekap datanya makan waktu lama. Rapatnya bakal dilaksanain beberapa minggu lagi, dan gue perlu ngebuat rencana Re-branding secara menyeluruh dari data itu."

"Masalah data, gue bisa bantu. Devi yang bakal mikirin masalah packaging, dan elo sisanya," sahut Agnes.

Via hanya dapat memandang kedua temannya itu dengan sedikit berkaca-kaca. "Tapi ..." ucap Via dengan tidak enak.

"Nggak ada tapi-tapian. Adeknya Devi jago desain, kalo diarahin dikit dia bisa bantu. Dan kakak gue IT, dia bisa bikin kuesioner online. Lo tau sendirikan, gua juga banyak ikut komunitas, nanti aku minta tolong mereka buat bantu nyebarin. Data yang terkumpul bisa ribuan dan rekap otomatis." ucap Agnes sembari tersenyum hangat untuk menenangkan sahabatnya.

Via hanya bisa tersenyum dengan mata yang sangat berkaca-kaca, "Gue mau meluk kalian," ucap Via.

"Ni anak kek teletubies aja minta peluk mulu. Nes, si cengeng minta peluk tuh," ucap Devi yang kemudian berdiri dari kursinya. Disusul dengan Agnes, mereka pun menghampiri Via dan memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya itu.

"Jangan pernah sungkan sama kami ya, kami selalu siap untuk bantu lo," peringatkan Agnes.

"Makasih," saat Via menutup kelopak matanya, air matanya tak sengaja jatuh waktu itu. Entah bagaimana, jabatan yang benar-benar berat itu, seolah menjadi ringan dan mampu dia laksanakan dengan baik sekarang.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang