Via dan Noah melangkah masuk ke aula besar gedung Mandala Group. Detik pertama Via menginjak karpet merah, jantungnya langsung berdebar lebih cepat. Aula itu... jauh lebih megah dari bayangannya.
Meja-meja bundar tertata rapi. Lampu kristal menggantung tinggi, memantulkan cahaya yang membuat seluruh ruangan terasa seperti ballroom hotel bintang lima. Dan panggung besar di ujung ruangan—
Via menelan ludah keras. Sebentar lagi dia harus berdiri di sana. Seorang diri.
Ia mencari-cari sosok yang familiar. Mungkin bicara dengan seseorang bisa sedikit mengurangi rasa gugup yang menyerangnya.
Begitu matanya menangkap pamannya sedang berbincang dengan beberapa tamu, Via mengangguk kecil pada Noah.
"Kesana aja. Gue nunggu di sini," ucap Noah tenang.
Via menarik napas, menguatkan bahu, dan berjalan seanggun mungkin menuju pamannya. Senyum pertama sangat menentukan... pikirnya.
"Selamat malam, Paman," ucap Via sambil menunduk sopan.
Paman Raka menyambutnya dengan senyum hangat. "Keponakan Om akhirnya datang. Selamat ya, Via, atas jabatan CEOnya."
"Terimakasih, Paman Raka."
"Oh ini toh CEO baru kita," celetuk seorang ibu berusia empat puluhan yang memakai jilbab. Wajahnya ramah, matanya berbinar. "Masih muda sekali... dan cantik banget."
Via tersenyum kecil. "Terima kasih, Bu...?"
"Nova. Bagian keuangan. Ibu dulu bersahabat dekat dengan almarhum ibumu. Kamu mirip sekali dengannya." Nova mengulurkan tangan.
Via buru-buru menyambut. "Senang bertemu dengan Ibu. Mohon bantuannya."
Lalu hadir seorang perempuan muda—sekitar dua puluh lima tahun—kulitnya putih, rambut hitamnya panjang, dengan dress merah dia terlihat sangat cantik, tapi tatapannya... tidak bersahabat.
"Ninda. Divisi pemasaran," ucapnya dingin sambil menjabat tangan Via sekilas.
Via berusaha tetap tersenyum. Tidak semua orang akan suka pada CEO baru yang masih sekolah, wajar kalau ada yang meremehkan.
Terakhir, seorang pria paruh baya menghampiri dengan senyum paling tulus malam itu.
"Saya Agung, bagian produksi. Ayahmu dulu sering sekali cerita tentang kamu—betapa pintarnya anak semata wayangnya." Ia mengulurkan tangan hangat. "Mohon kerja samanya, Via. Divisi produksi punya banyak karyawan. Tapi kami siap mengikuti arah kamu."
Via mengangguk penuh rasa syukur. "Terima kasih, Pa Agung. Aku akan berusaha sebaik ayahku."
Mereka mulai berbincang ringan seputar perusahaan, dan Via mencoba menata kata-katanya seprofesional mungkin. Ini bukan lagi sekadar percakapan santai—ini adalah panggung pertamanya sebagai CEO.
********
Noah memandang paman Raka lekat-lekat. Dia bahkan mendekati untuk dapat melihat dengan lebih jelas. Wajahnya terlihat sangat familiar. Dia terus menggali ingatannya sambil melihat wajah paman Raka, yang menjadi CEO Mandala Grup sekarang.
Belum sempat ia mengingat lebih dalam, tiba-tiba pandangannya tertutup oleh seseorang. Seseorang yang lebih tinggi darinya.
"Lo nggak suka sama Via kan?" suara Bagas terdengar ketus. Dia berdiri tegak, menatap Noah seperti sedang menyelidiki musuh. "Nggak perlu liat dia segitunya."
Noah berkedip malas. "Terserah lo mau berpikir kek gimana."
Ia berbalik pergi menuju meja minuman, tapi Bagas mengikuti seperti pengawal pribadi yang marah.
"Gue tanya sekali lagi," Bagas mendesis. "Lo nggak suka sama Via kan?"
Noah meneguk minumannya lama. "Nggak usah khawatir. Lo bisa deketin dia semaunya."
"Jangan bohong. Cara lo mandang Via... nggak normal buat orang yang nggak suka," ucap Bagas yang terus memperhatikan Noah dan Via dari awal mereka memasuki aula.
Tangan Noah seketika berhenti. Ucapan itu menusuk tanpa peringatan. Pandangan Noah ke arah Via... terlihat berbeda?
Noah seolah tertembak mendengar perkataan Bagas. Apakah caranya memandang Via terlihat berbeda sekarang? Tapi kenapa bisa? Dadanya memang terasa hangat beberapa kali, tapi bukan berarti Noah menyukai Via kan?
"Berhentilah bicara omong kosong. Deketin Via sesuka lo. Gue nggak akan ganggu," ucap Noah cepat.
"Selamat Malam," suara pembawa acara menggema dan memecah fokus semua orang. Seluruh ruangan perlahan hening, semua mata tertuju pada pembawa acara yang sudah berdiri di atas panggung. "Selamat datang pada acara perkenalan CEO baru PT. Nature Beauty, yang diselenggarakan hari ini, Minggu, 21 Februari 2021, bertempat di gedung pusat Mandala Group. Kita akan langsung saja, sambutan dari CEO baru, sekaligus sebagai pembuka acara pada malam ini. Via Wulan Cahya, waktu dan tempat dipersilahkan."
Suara tepuk tangan menggema diseluruh ruangan. Acara kali ini diikuti sekitar seratus orang, yang semuanya orang penting dalam Mandala Grup. Paman Raka memberikan senyuman untuk mempersilahkan keponakannya maju ke atas panggung.
Kaki Via semakin berat sekarang, sebanyak apapun dia berlatih, eksekusi di lapangan akan membuat siapapun gugup. Via mencoba mengontrol nafasnya sebaik mungkin, menelan ludah beberapa kali karena tenggorokannya terasa kering. Salah kata dan salah sikap, akan membuat first impressionnya hancur malam ini.
Via melangkah demi langkah menuju panggung, dia benar-benar sadar, semua sorot mata sedang tertuju padanya. Seorang murid SMA akan menjadi CEO di perusahaan yang sangat besar malam ini.
Pembawa acara memberikan mic pada Via yang sudah berdiri di atas panggung. Sorot lampu membuat matanya sedikit silau, dia melihat sekitar seratus orang sedang memperhatikannya. "Selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua. Perusahaan ini memiliki arti untuk siapapun, perusahaan yang bergerak dengan menampung mimpi semua pihak. Perusahaan yang diawali dengan mimpi ibuku dan akan terus berjalan dengan mimpi kita semua."
Noah terlihat berlari keatas panggung semampunya. Firasat buruk yang menghantuinya sejak masuk kedalam gedung benar-benar terjadi. Saat Via menemui pamannya, banyak sekali yang berbicara menyudutkan Via. 'Perusahaan akan benar-benar hancur sekarang, dalam keadaan seperti ini, mereka malah memilih murid SMA sebagai seorang CEO'. Noah mengetahui perusahaan sedang tidak baik, dan banyak sekali perkataan buruk mengenai Via.
Apalagi pandangan penuh dendam dari beberapa orang. Noah memutuskan untuk berada di dekat Via ketika dia sedang berada di atas panggung.
"HENTIKAN OMONG KOSONGMU!" seorang pelayan berlari menuju Via dengan sekantong plastik penuh telur. Pelayan itu melemparkan beberapa telur ke arah Via.
Via bahkan tidak sempat bereaksi. Telur melayang. Waktu seolah melambat. Noah berlari sekuat tenaganya. Dalam sepersekian detik sebelum telur itu menghantam Via, Noah menarik tubuh Via ke dalam pelukannya dan memunggungi seluruh lemparan.
Telur pertama pecah di punggung Noah.
Disusul telur kedua. Ketiga. Dan keempat. Ruangan riuh. Beberapa orang menjerit.
Via hanya bisa menggenggam lengan jas Noah begitu erat. Tangannya gemetar. Dia tak mampu mengangkat kepala.
"No—Noah..." suaranya pecah.
Noah mengendalikan napas meskipun tubuhnya lengket penuh telur. Ia menunduk sedikit, memastikan Via tetap dalam pelukannya.
"Tenang," ucapnya pelan, tapi tegas. "Ini bukan salah lo. Jangan kepikiran yang aneh-aneh."
Lemparan telur terus mendarat di tubuh Noah.
."Perusahaan emang lagi nggak baik sekarang. Saat ini, cukup berlindung sama gue." Noah tersenyum miring walau wajahnya tegang, "Seorang CEO nggak mungkin bau telur mentah kan?"
Via menggigit bibir bawahnya, matanya berair.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia sadar... betapa sendirinya ia di dunia bisnis.
Dan betapa... tidak sendirinya ia berdiri di panggung itu
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Fiksi RemajaTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
