Via bahkan tidak sempat bereaksi. Telur melayang. Waktu seolah melambat. Noah berlari sekuat tenaganya. Dalam sepersekian detik sebelum telur itu menghantam Via, Noah menarik tubuh Via ke dalam pelukannya dan memunggungi seluruh lemparan.
"Perusahaan emang lagi nggak baik sekarang. Saat ini, cukup berlindung sama gue." Noah tersenyum miring walau wajahnya tegang, "Seorang CEO nggak mungkin bau telur mentah kan?"
********
"HENTIKAN OMONG KOSONGMU!" ucap pelayan itu yang terus menerus melempar telur kepada Noah. "Kalian memecat ibuku yang sudah bekerja di perusahaan ini selama sepuluh tahun dengan semena-mena. Dan tanpa pesangon apapun. Ini benar-benar nggak adil. KALIAN SEMUA GILA!"
Aula bergemuruh. Beberapa tamu berdiri, yang lain menutup mulut terkejut.. Semua yang berada di ruangan itu terlihat benar-benar shock. Tidak ada yang menyangka bahwa akan ada seorang pelayan yang melemparkan telur pada calon CEO baru.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN? CEPAT TANGKAP ORANG GILA ITU," teriak Bagas pada pada para penjaga.
Para penjaga yang mendengar teriakan Bagas langsung berlari ke arah pelayan itu. Mereka menangkap dan mencoba membawanya. Tapi pelayan itu terus menerus memberontak.
"LEPASKAN AKU. AKU BELUM SELESAI. SIAPAPUN YANG SUDAH MEMECAT IBUKU SEENAKNYA. KAU, KAU BENAR-BENAR BUKAN MANUSIA!" ucap pelayan itu yang terus menerus berontak dan akhirnya dapat dibawa keluar oleh penjaga.
Noah berbalik ke arah Via. Gadis itu masih menunduk, wajahnya pucat. Noah meraih kedua bahunya, membungkuk sedikit agar sejajar.
"Via," ucapnya pelan. Tidak ada respons.
"Noah mengangkat dagu Via agar menatapnya.
"Tenanglah, ini bukan salah lo. Dan... lo dapat liat sendirikan, nggak ada satupun telur yang mengenai lo, lo masih bisa lanjutin acaranya kalo udah tenang."
Via menelan ludah. Matanya basah.
"Gue... gue nggak tau harus gimana."
"Via, lo pasti bisa. Gue yakin lo pasti bisa. Fokus dan kasih liat ke mereka, bagaimana Via bisa ngehadapin semua ini. Seorang CEO harus selalu kuat kan?" Noah memberikan senyuman di akhir kalimatnya.
Via hanya bisa memberikan anggukan kecil pada Noah.
Noah memberikan cubitan di kedua pipi Via untuk membuatnya sadar sepenuhnya.
"Semua mimpi ada di tangan lo sekarang. Mimpi ibu lo, mimpi ayah lo, dan mimpi semua karyawan di bawah lo. Via dapat menghadapi masalah ini. Sekarang... Semangatlah," Noah hanya bisa memberikan senyuman untuk menyemangati Via.
"Mohon maaf atas masalah tadi," pembaca acara segera mengambil alih setelah pelayan itu berhasil dibawa keluar oleh para penjaga. "Apakah, ibu Via perlu waktu untuk menenangkan diri dulu?" tanya pembawa acara tersebut.
"Gue turun dulu. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Lo pasti bisa!" Noah semakin mengencangkan cubitannya.
"Sakit tau! Cepat turun sana! Lo bau telur," ucap Via pada Noah. Noah tersenyum lega mendengarkan ucapan Via. Noah segera menuruni panggung.
"Saya dapat melanjutkannya kok, agak canggung kalo acaranya jadi diundur," ucap Via pada pembawa acara.
Pembaca acara hanya dapat tersenyum mendengar jawaban Via. "Karena semuanya sudah aman, para audience dapat melanjutkan acara dengan tenang. Karena insiden tadi, atas perintah dari Bapak Raka, penjagaan telah diperketat. Untuk ibu Via, selaku CEO baru PT. NATURE BEAUTY, waktu dan tempat dipersilahkan."
"Terimakasih, kepada pembawa acara untuk waktunya," Via mencoba mengembalikan senyumnya dan melihat ke para audience yang terlihat khawatir padanya. "Begitulah perusahaan ini dijalankan. Sudah tak terhitung batu sandungan yang telah diterima ayah dan ibu saya dulu. Tapi... sebuah masalah akan membuat kita semakin kuat. Kejadian kali ini, membuat kita semakin sadar, ada yang salah dengan perusahaan ini. Ada masalah yang harus kita pecahkan bersama. Jangan jadikan suara mereka sebagai ancaman. Tapi kita harus jadikan suara mereka untuk perbaikan kedepan."
Beberapa tamu saling berbisik, ekspresi mereka berubah.
"Dengan begitu banyak PR, saya memohon kerjasama dari semua pihak. Karena saya benar-benar sadar, bahwa saya benar-benar kurang dalam hal pengalaman. Perusahaan ini akan lebih baik, lebih maju, dan lebih sukses lagi kedepannya. Saya, Via Wulan Cahya, dengan ini, menerima jabatan CEO yang telah diamanahkan kepada saya. Terimakasih, selamat malam untuk kita semua,"
Tepuk tangan menggema. Kencang dan terdengar lama. Tidak ada yang menyangka seorang gadis 17 tahun bisa berdiri lagi setelah kejadian barusan. Via menunduk, tersenyum ragu namun bangga. Dia pun akhirnya berjalan meninggalkan panggung dengan lega.
Sementara di samping panggung, Noah hanya bisa tersenyum mendengar sambutan Via. Setelah melihat Via turun dari panggung, dia pun segera menuju toilet untuk membersihkan pakaiannya.
*********
Noah sudah terlihat melepaskan jasnya yang penuh dengan telur, dia hanya mengenakan kemeja putih dan sedang mencuci tangannya di wastafel.
"Berhentilah untuk berpura-pura tidak menyukainya," ucap Bagas yang tiba-tiba ikut mencuci tangan di wastafel samping Noah.
Noah hanya bisa melihat ke arah Bagas yang melihatnya tajam dari tadi. "Gue hanya sedang menjalankan tugas, lo tau sendirikan isi kontraknya," jawab Noah lugas.
"Gue hanya ingin persaingan yang sehat."
"Terserah lo, gue nggak peduli," ucap Noah yang berjalan meninggalkan Bagas.
"Lo harus pegang omongan lo, bahwa lo emang nggak suka sama Via."
"Gue nggak suka sama—" ucap Noah sambil berjalan keluar, tapi sebelum menyelesaikan kalimatnya, langkahnya terhenti di ambang pintu toilet,
"Lo nggak papakan? Nggak luka? Nggak sakit? Beneran nggak papa kan?" tanya Via dengan wajah yang terlihat panik.
Noah hanya terdiam, wajah panik Via membuatnya benar-benar gusar. Dada Noah tiba-tiba terasa hangat lagi saat itu.
"Noah?" tanya Via kembali.
"Ada orang yang bakal luka, kalo dilemparin telur mentah?" jawab Noah.
"Syukurlah ... Eh, lo ada bawa baju ganti? Keknya telurnya tembus sampe kemeja putih lo," ucap Via yang memperhatikan kemeja putih Noah penuh dengan noda telur.
"Sekarang lo udah bisa sendirikan? gue mau cari baju ganti dulu. Setelah itu gue tunggu di mobil aja ya."
"Oke," Via terlihat menunduk dan menggerakkan kakinya beberapa kali. "Untuk yang tadi ... terimakasih," ucapnya yang kemudian memberanikan diri untuk melihat ke arah Noah dengan wajah merah merona.
Dada Noah makin terasa hangat sekarang. "Gue kenapa lagi sih? Kenapa dada gue rasanya jadi hangat gini," batin Noah.
Noah mengalihkan pandangannya cepat, "Gue cuman ngejalanin kontrak, udahlah, gue mau pergi dulu," ucap Noah yang menahan wajah meronanya dan berjalan cepat meninggalkan Via.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
