BAB 35 : Flashback #4

328 68 14
                                        

20 Februari 2011

20:00

Sebuah album foto terbuka di atas meja ruang keluarga.

Di halaman pertama, Evan, Raka, Alan, dan Riska berdiri berdampingan mengenakan toga wisuda. Senyum mereka merekah—senyum orang-orang yang akhirnya menuntaskan satu fase panjang dalam hidupnya.

Di halaman berikutnya, foto Evan, Alan, dan Riska berdiri di depan Gedung DPR, mengenakan ikat kepala merah.

Setelah insiden berdarah 12 Mei 1998, pada 19 Mei 1998, mahasiswa dari berbagai universitas bersama warga akhirnya bersatu. Jumlah mereka tak terhitung. Pada 21 Mei 1998, Presiden resmi menyatakan mundur.

Di foto itu, Raka tidak ada.

Kakinya belum pulih dari tembakan.

"Itu momen paling keren dalam hidup gue," ucap Alan pelan, matanya menatap foto itu lama.

Evan dan Riska masih berdiri di samping meja, ikut memperhatikan album. Malam itu mereka datang menghadiri ulang tahun anak Alan—Via Wulan Cahya—yang baru saja menginjak usia tujuh tahun.

Sudah lama mereka tidak bertemu. Evan sempat dipindahtugaskan ke luar kota, dan baru kali ini kembali.

"Btw, Raka dimana? Dia nggak ikut?" tanya Riska yang tidak melihat Raka, Raka adalah sepupu dari Alan sudah seharusnya dia hadir dari pagi untuk acara ulang tahun keponakannya itu.

Alan menarik napas. "Lagi sibuk cari investor. Mandala Group lagi di ujung tanduk."

Nada suaranya berat.

Evan cepat-cepat mengalihkan topik. "Via mana? Gue belum lihat dia."

"Bantu ibunya di dapur."
Pandangan Alan beralih pada seorang anak laki-laki yang duduk di lantai, terlalu serius memutar rubik. "Noah makin mirip ayahnya."

"Anak laki-laki emang harus mirip ayahnya," sahut Evan santai.

"Matanya mirip gue kok," timpal Riska yang tidak setuju apabila Noah hanya mirip dengan ayahnya.

"Yah, makanannya udah siap," ucap Wulan, istri dari Alan. Di balik tubuh Wulan terlihat bagaimana Via yang memeluk kaki ibunya dan mengintip dengan malu-malu.

"Untung Via mengikuti sifat ibunya, repot kalo dia nggak punya malu kek ayahnya," ucap Riska untuk membalas dendam pada Alan.

Alan hanya dapat tertawa kecil mendengar itu dari Riska, "Ayo kita makan dulu," ajak Alan.

Malam itu mereka duduk satu meja.
Tertawa, mengingat masa lalu, membicarakan hal-hal kecil yang tak sempat mereka bagi bertahun-tahun. Persahabatan yang lama terpisah, akhirnya kembali hangat.

"Btw, keren juga ya nama anak lo, Noah Pratama, siapa yang kasih nama?" tanya Alan.

"Ayahnya," jawab Riska lembut. "Noah—penyelamat. Semoga dia jadi orang yang bisa menolong orang lain." Riska kemudian mengelus rambut Noah pelan.

"Kalau Via," lanjutnya, "Wulan dari ibunya, Cahya dari ayahnya. Noor Alan... Namanya secantik orangnya," ucapnya sambil tersenyum melihat wajah cantik Via.

"Semoga mereka bisa berteman baik," kata Alan sambil tertawa. "Walaupun satu cuek banget, satunya pemalu parah."

********

Agar Noah dan Via lebih dekat, Alan menyarankan mereka membuka kado bersama.

Tapi Noah tetap duduk di lantai, fokus pada rubiknya.
Via membuka kado satu per satu—sampai sebuah boneka Barbie membuatnya berhenti.

Dress biru, wajah cantik.
Via langsung jatuh cinta.

Ia menyisir rambut boneka itu, mengganti bajunya, lalu mencoba mendudukkannya. Tapi— Kaki boneka itu tiba-tiba terlepas.

Via mencoba memasangnya berkali-kali. Tak bisa. Matanya pun mulai berkaca-kaca.

"Biar aku," suara Noah terdengar pelan.

Noah mengambil boneka itu, memeriksanya dengan serius. Beberapa detik kemudian—klik—kaki boneka kembali terpasang.

Ia menyerahkan boneka itu kembali.

"Makasih..." ucap Via lirih, suaranya bergetar.

"Em ... selamat ulang tahun," ucap Noah yang kembali fokus pada rubiknya.

"Iya," Via mengangguk dengan sebuah senyuman merekah sekarang.

*********

Riska melihat ke arah jam dinding, terlalu banyak mengobrol, mereka jadinya sampai lupa akan waktu. Sudah jam sebelas malam sekarang. Setelah memberi tahu Evan, mereka pun berpamitan dan berjalan menuju ruang keluarga untuk mencari Noah.

Ternyata Noah sudah terlelap di lantai sekarang, disampingnya terlihat Via yang juga sudah terlelap sembari memeluk boneka barbie dengan tangan kanannya, entah itu sebuah kesengajaan atau tidak, tapi kedua tangan mereka berpegangan dengan wajah polos mereka karena tertidur.

"Bentar, gue mau ambil kamera dulu," ucap Alan berbisik pada Evan yang sudah mau mengangkat tubuh Noah ke mobil.

Alan bergegas menuju kamarnya dan mengambil sebuah kamera, dia kemudian kembali ke ruang keluarga. Dengan sebuah senyuman dia mengambil beberapa foto Noah dan Via yang sedang terlelap.

"Kayaknya kita bisa jadi besan," ucap Alan pada Evan sembari tersenyum.

"Kalo mereka akhirnya sama-sama suka, kenapa nggak," sahut Evan.

"Berarti lo harus sering-sering bawa Noah kesini, kalo sering ketemu, siapa tau jadi pada suka beneran," saran Alan.

Mendengar hal itu, Wulan hanya dapat mencubit pinggang Alan, "Mereka masih kecil yah ..." ucap Wulan.

"Ya siapa tau, kan?" sahut Alan.

"Entar kalo fotonya udah jadi, gue minta ya," ucap Riska, "Yah, udah saatnya kita pulang," ucap Riska pada Evan.

Evan pun mendekati Noah dan mencoba menggendongnya perlahan. "Kami pulang dulu ya," ucap Evan dan Riska yang berjalan keluar rumah. Alan dan Wulan pun hanya dapat memberikan lambaian tangan dari pintu rumah.

*********

"Alan nggak berubah ya," ucap Riska di samping Evan yang sedang mengendarai mobil. Noah masih terlihat sangat pulas di kursi belakang.

"Kita juga nggak," jawab Evan. "Cuma umurnya aja."

"Aku senang Noah akhirnya punya teman," ucap Riska, karena cueknya Noah, sampai sekarang sangat sulit untuk dia dapat menemukan teman.

"Entar kalo udah gede, temennya juga bakal banyak kok kek ayahnya," ucap Evan menyombongkan dirinya. Evan juga sangat cuek pada orang yang baru dia temui dan kesulitan mencari teman ketika kecil. Tapi sekarang, dia mempunyai banyak teman, dan beberapa sahabat seperti Alan dan Raka.

Malam itu sunyi.
Terlalu sunyi.

Di sebuah simpang empat, sebuah truk melaju kencang.
Tabrakan terjadi begitu cepat.

Evan dan Riska meninggal di tempat.

Noah selamat—pelipisnya berdarah. Ia menangis tanpa henti di dalam mobil yang hancur, memanggil orang tuanya yang tak lagi menjawab.

Malam itu, tak ada yang tahu...
bahwa pertemuan hangat itu adalah perpisahan terakhir.

---Flashbacknya nambah satu part lagi keknya heheheh, mungkin malam bakal diupload

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang