BAB 15 : Persiapan

583 134 17
                                        

"Selamat ulang tahun Via," ucap Mama Bagas Lembut.

"Terima kasih, Tante." Via tersenyum kecil. Dress pink yang ia kenakan membuat wajahnya terlihat semakin lembut dan manis.

 Dress pink yang ia kenakan membuat wajahnya terlihat semakin lembut dan manis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dan seperti dugaannya... makan malam ini jauh dari kata biasa.

Ruang makan keluarga Neo Group tampak seperti restoran bintang lima: chandelier kristal, meja panjang dengan taplak satin, dan hidangan bertahap ala fine dining. Mama Bagas memakai dress mahal, sementara Bagas dan ayahnya memakai sweater—meski Via tahu persis sweater itu harganya bisa buat bayar kuliah empat semester.

"Selamat atas gelar CEO-nya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanya saja sama Paman," ujar Papa Bagas sambil memotong steaknya dengan tenang.

"Terima kasih, Paman." Via menunduk sopan. "Sebenarnya, aku masih belum yakin dengan jabatan ini... jadi mohon bimbingannya."

Papa Bagas tersenyum. "Dari dulu ayahmu selalu bangga padamu. Kamu memang pantas. Sementara anakku—" ia menatap Bagas sekilas, "—malah sibuk bermain-main jadi model."

Pisau Bagas berhenti bergerak. Ketegangan kecil tampak di rahangnya.

"Kakak sudah memenuhi keinginan Ayah untuk nerusin perusahaan. Sekarang aku boleh mengejar mimpiku sendiri," jawab Bagas ketus.

"Sayang, jangan bahas itu sekarang. Via bisa canggung," tegur Mama Bagas halus.

Ayah Bagas merubah topik. "Jadi, kamu dapat saham terbesar? Apa kamu akan langsung ambil alih Mandala Group?"

"Kamu akan memiliki saham terbesarkan? Apa akan langsung mengambil alih Mandala Grup?" tanya Ayah Bagas.

Via buru-buru menggeleng. "Tidak, Paman. Aku terlalu amatir. Paman Raka hanya memberiku amanah untuk memimpin salah satu anak perusahaan: PT Nature Beauty."

"Nature Beauty?" Papa Bagas mengernyit terkejut. "Perusahaan yang dibangun ibu kamu itu, kamu tau kondisi perusahaannya sekarang?" tanya ayah Bagas.

Via mengangguk. "Iya. Tapi, tentang kondisi perusahaannya sekarang... aku belum tahu banyak. Baru pagi ini aku diberi tahu jabatan itu."

"Hm... Raka selalu penuh kejutan." Papa Bagas menghela napas. "Bagaimana makanannya? Cocok di lidahmu?"

"Enak banget Paman. Terima kasih banyak atas undangan makan malamnya."

Mama Bagas tersenyum hangat. "Sering-sering datang ke sini ya, Via. Bukan cuma Bagas, Paman sama Tante juga senang banget kalo kamu datang kesini. Atau ... gimana kalo kamu menginap malam ini?"

"Mamah ...," ucap Bagas malu-malu. "Tinggallah di sini. Lebih aman daripada rumah lo," tambah Bagas pelan, nada suaranya terdengar agak menahan kekesalan saat menyebut rumahmu—yang berarti rumahmu bersama Noah.

Via menarik napas. Ia harus menolak... tapi tetap sopan. "Maaf, Tante, Paman... aku ingin belajar hidup mandiri mulai sekarang. Jabatan CEO membuatku harus melatih diri untuk berdiri sendiri. Kalau aku masih mengandalkan kenyamanan, rasanya aku tidak akan berkembang."

Mama dan Papa Bagas saling pandang—keduanya tampak kagum.

"Ayahmu benar-benar memilih pewaris yang tepat," ujar Papa Bagas bangga. "Makanlah yang banyak. Besok kamu butuh tenaga untuk berbicara di depan umum."

"Terima kasih, Paman. Tapi kalau nanti aku bingung membuat keputusan... boleh nggak aku minta saran sama Paman yang sudah membangun Neo Group sebesar ini?"

"Tentu saja." Ayah Bagas tersenyum makin lebar. "Rekan bisnis memang harus saling berdiskusi. Kamu sudah menjadi CEO sekarang."

Via membalas senyuman itu. "Baik, Paman."

********

Minggu

19:00

"Udah jam berapa ini? Lo ngapain sih di dalam?" Via mengetuk pintu kamar Noah keras.

"Bentar! Gue masih siap-siap!" sahut Noah dari dalam.

"CEPETAN!"

"Serius nih gue harus make ini?" Noah berseru frustasi.

"Iya. Lo harus make setelan jas. Ini bukan acara yang dapet lo hadiri dengan kemeja doang."

"Iya! Lo harus pakai jas. Ini bukan acara yang bisa lo datengin cuma pakai kemeja!"

"Jasnya kayak... aneh banget di gue..."

"Mana gue liat? Buruan buka pintunya!"

"Sabar, kebo..." Noah mendesis sambil menatap video tutorial memasang dasi di HP-nya. Sudah 15 menit, tapi bentuk dasinya tetap bencana.

"NOAH! BUKA PINTUNYA!"

Akhirnya Noah menyerah. Ia menarik napas dalam—lalu membuka pintu.

Dan dunia berhenti sepersekian detik.

Via berdiri di depan pintu dengan gaun putih elegan yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Make up-nya lembut dan natural, mata coklatnya terlihat lebih hangat, anting putih kecil berkilau di bawah cahaya lampu.

 Make up-nya lembut dan natural, mata coklatnya terlihat lebih hangat, anting putih kecil berkilau di bawah cahaya lampu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Untuk sesaat... Noah lupa cara bernapas.

"...mana dasi lo? Sini," ujar Via, tak menyadari Noah terpaku.

Noah menyerahkan dasi itu dengan kaku, matanya masih tidak bisa lepas.

Noah menyerahkan dasi itu dengan kaku, matanya masih tidak bisa lepas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Via mulai memasang dasi di leher Noah. Gerakannya cekatan dan lembut—hasil dari bertahun-tahun membantu ayahnya berdasi. Ketika ia selesai dan mendongak, ia mendapati Noah masih menatapnya.

"Ada apa? Makeup gue ketebelan ya?" Via menyentuh pipinya.

"Enggak, cocok-cocok aja kok," jawab Noah yang wajah yang mulai merona.

Via mengerjap. "Lo bisa nyetir, kan?"

Noah mengangguk—masih tidak sepenuhnya pulih dari shock visual.

"Ada banyak tamu yang harus gue sapa. Kita harus sampai sebelum acara mulai." Via mengecek jam. "Satu jam lagi. Ayo berangkat."

Noah menelan ludah.

Malam ini... akan panjang.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang