---Karena masih banyak yang nungguin dan buat author jadi terharu. Update dipercepat.
10:00 Pagi
Sudah entah berapa kali Via berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.
Langkahnya tak pernah benar-benar jauh—hanya dari jendela ke pintu, dari pintu kembali ke ranjang—lalu berulang lagi. Di kedua tangannya, ponsel digenggam erat, sesekali ditepukkan pelan ke jidatnya sendiri, seolah berharap kebisingan kecil itu bisa menghentikan pikirannya yang berisik.
Empat hari.
Empat hari dia bersembunyi dari dunia, sementara perusahaannya tenggelam perlahan.
Sebagai CEO, dia tahu betul apa artinya ini.
Dia kabur.
Dan dia membenci dirinya sendiri karenanya.
Layar ponselnya menyala. Puluhan panggilan tak terjawab.
Nama-nama yang ia kenal, yang ia hormati, yang selama ini berdiri bersamanya. Ibu Nova, Pak Agung, Kak Ninda—dan orang-orang lain yang mempercayakan perusahaan itu kepadanya.
Via tidak membuka satu pun pesan.
Tangannya gemetar hanya dengan melihat notifikasi.
"Gue harus minta maaf... tapi gimana caranya?" gumamnya pelan.
Langkahnya terhenti. Lututnya melemas, dan Via berjongkok di lantai, memeluk dirinya sendiri.
"Siapa yang harus gue telepon duluan...?"
Ia mencoba berdiri lagi, memaksa tubuhnya tegak meski dadanya terasa sesak.
"Mereka pasti... pasti masih bisa ngerti, kan?"
Bayangan wajah-wajah kecewa di kantor langsung menyergap.
Bayangan rapat tanpa dirinya.
Bayangan karyawan yang bertanya-tanya ke mana CEO mereka pergi saat perusahaan nyaris runtuh
Via kembali meringkuk.
"Via, kabur nggak bakal nyelesain apa-apa," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. "Lo harus berani."
Ia menarik napas dalam-dalam, sekali... dua kali.
"Ibu Nova," katanya akhirnya. "Ibu Nova yang paling tepat."
Dengan tangan gemetar, Via membuka WhatsApp dan menekan nama itu. Nada sambung terdengar. Satu detik terasa seperti satu menit.
Saat status memanggil berubah menjadi berdering, jantung Via serasa hendak lompat keluar.
Lo pantas dimarahi, katanya dalam hati. Jadi, terima aja.
Telepon akhirnya tersambung.
"Halo..." suara Via nyaris tak terdengar.
"Via?" suara Ibu Nova terdengar cepat, penuh lega. "Akhirnya nelpon balik. Via nggak apa-apa, kan? Ibu khawatir."
Via membeku.
"Ini bukan salah Via," lanjut Ibu Nova lembut. "Tolong jangan nyalahin diri sendiri terus. Via denger ibu? Kamu nggak apa-apa?"
Air mata Via runtuh begitu saja. Ia harusnya dimarahi, ia bahkan sudah siap menerima cacian apapun. Tapi, kenapa orang bisa begitu baik padanya?
"Via... Via nggak apa-apa, Bu," jawabnya lirih. "Maaf... maaf banget."
"Udah," potong Ibu Nova, suaranya tegas tapi hangat. "Bukannya ibu udah bilang, ini bukan salah kamu."
"Tapi..." suara Via pecah. "Perusahaan kena masalah lagi karena aku. Dan waktu mereka butuh aku, aku malah kabur. Aku CEO yang payah, Bu."
Tangisnya tak terbendung. Mengingat kondisi perusahaan sekali lagi, membuat Via benar-benar hancur.
"Via..." suara Ibu Nova terdengar lebih dalam sekarang. "Kami yang minta maaf. Karena kami nggak bisa melindungi CEO kami dari fitnah sekotor itu."
Via menunduk, air matanya jatuh ke lantai. Ia mengusap wajahnya kasar dengan lengan baju.
"Boleh... boleh aku tahu kondisi perusahaan sekarang?
"Habis ini boleh," jawab Ibu Nova. "Tapi sebelum itu... kita pindah ke video call, ya? Yang lain juga pada mau bicara."
"Yang lain?" Via mengernyit bingung.
"Pak Agung, Ninda... mereka semua pengin lihat CEO mereka."
Panggilan video masuk.
Dengan ragu, Via menerimanya.
Wajah-wajah yang ia kenal muncul di layar.
"Via," suara Ninda terdengar ceria dipaksakan. "Kamu nggak apa-apa kan? Loh, kenapa nangis? Nanti cantiknya luntur."
Tangis Via justru makin menjadi.
"Kak Ninda..." suaranya gemetar.
"Eh, eh... jangan makin kenceng dong nangisnya," Ninda langsung panik. "Aku salah ngomong ya?"
"Enggak," Via menggeleng, mengusap air mata. "Aku cuma... ngerasa aku benar-benar ngancurin semuanya kali ini."
Pak Agung yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Dalam kondisi ini, perusahaan memang nggak bisa dibilang baik-baik saja."
Via menunduk. Mengutuk dirinya sekali lagi.
"Tapi," lanjut Pak Agung tegas, "kami sepakat buat menyerang balik Raka. Kita ungkap apa yang sebenarnya terjadi."
Via tersentak. "Tapi itu berbahaya. Nature Beauty bisa ditutup. Terlalu banyak karyawan yang jadi taruhan." Suaranya menurun. "Menurut aku... mungkin lebih baik aku mundur. Aku minta maaf ke media. Biar aku aja yang nerima semuanya."
Ninda langsung menggeleng. "Nggak.
"Nggak mungkin," sambung Pak Agung. "Kalau tetap di tangan Raka, perusahaan tutup cepat atau lambat."
"Lebih baik kita bertaruh sekarang," kata Ninda. "Pa Agung juga bilang—karyawan sudah tercekik. Ini satu-satunya jalan."
Via terdiam lama.
"Kami punya bukti," lanjut Ninda lebih lembut. "Dan kami melakukannya bukan buat nyelametin kamu doang. Tapi karena ini keputusan kami."
Via menatap layar. Orang-orang itu... memilih berdiri bersamanya.
"Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Via akhirnya. Tatapannya berubah. Tidak lagi ragu.
Ninda tersenyum. "Wartawan di depan rumahmu harusnya udah mulai bosan. Jadi... cepat ke kantor."
Via mengangguk pelan. "Baik."
Telepon ditutup.
Via berdiri di tengah kamarnya.
Air matanya masih tersisa, tapi punggungnya kini tegak.
Untuk pertama kalinya setelah empat hari, Via melangkah keluar—bukan untuk kabur, tapi untuk kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
