BAB 29 : MASALAH #1

433 78 17
                                        

'Beginilah jadinya bocah SMA dikasih jabatan gede cuma modal orang tua.

Jahat banget, cari kerja aja susah sekarang, dia main pecat orang gitu aja.

Liat mukanya kaget banget, tapi emang pantes dapetin itu.

Orang dalam tapi sok keras, lucu.

Kita boikot aja produk perusahaannya!

Via membaca setiap komentar itu satu per satu. Kalimat-kalimat tajam itu menghantam tanpa jeda. Tak ada satu pun yang bisa benar-benar mewakili perasaannya sekarang—sedih, terluka, bingung—semuanya terasa sesak.

Beberapa jam lagi seharusnya menjadi malam peluncuran produk. Undangan sudah tersebar. Produksi sudah berjalan. Dan sekarang... semua runtuh bahkan sebelum dimulai.

"Via..." suara Agnes terdengar samar. "Lo nggak papa, kan?"

Via tidak menjawab.

Ia baru sadar kantin yang tadinya riuh kini berubah jadi bisik-bisik penuh tatapan. Nama Via terdengar di mana-mana.

"Dia Via, kan?"
"Yang di video itu."
"Pantesan kemarin ngumpulin kuesioner."
"Gila, gue nggak nyangka Via bisa sejahat itu."                                                                 "Kalo udah urusan duit, orang bisa berubah nggak sih?"

Via beberapa kali mendengar namanya disebutkan semua orang. Suara semua orang seolah tercampur menjadi satu masuk ke telinganya. Tapi ada satu hal yang dia yakini. Dia sedang dihujat.

Devi berdiri mendadak dan menghantam meja.

"STOP!" teriaknya. "Belum tentu itu bener! Kalian semua tau Via orang kayak gimana! Jangan gampang percaya fitnah!"

Kantin hening. Semuanya diam mematung.

Devi memang benar, semua orang tau betapa tidak enakannya Via. Dia bahkan rela memberikan kotak bekalnya pada kucing yang terlihat kelaparan. Tapi, siapa yang bisa menyangkal video itu? Semua terlihat jelas, Via sedang di lempari telur oleh seseorang dengan penuh amarah.

Pandangan Via kosong ketika Devi masih bicara.
Suaranya terdengar jauh, seperti dari dalam air.

Yang ada di kepala Via hanya satu hal. Kalau ini gagal, perusahaan itu benar-benar selesai. Dana terakhir sudah terpakai. Kesempatan terakhir sudah di depan mata.

"Via," Agnes meraih tangannya. "Lo denger gue?"

Via akhirnya menoleh. Matanya kosong. Letih.

"Kayaknya..." suaranya nyaris tak terdengar,
"gue butuh waktu sendiri."

Ia berdiri perlahan dan berjalan keluar kantin.

Agnes menatap punggungnya dengan panik. Pikirannya kalut, antara mengejar Via, atau memang memberikan Via waktu sendiri terlebih dahulu.


Devi mengepalkan tangan. "Siapa pun yang nyebarin ini..." gumam Devi, "gue bakal cari, dan minta klarifikasi untuk semua ini!"

**********

Via menelungkup di meja kelas yang kosong. Rasanya seperti ingin menghilang. Ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk membereskan semua ini.

Video itu pasti menyebar cepat, apalagi bahan cacian seperti itu, entah berapa banyak orang yang sudah melihatnya.

Ponselnya bergetar. Sekali. Dua kali. Ia tidak ingin membukanya.

Tapi, sebagai CEO dia tidak boleh kabur saat kondisi begini, mengingat wajah Bu Nova, Ka Ninda, Pa agung, mereka pasti sedang menunggu kebijakan darinya.

Dengan napas tertahan, Via membuka layar..

"Maaf, karena kegaduhan yang baru saja terjadi, setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak. Kami para influencer memutuskan untuk membatalkan kerja sama dengan PT. Nature Beauty sampai situasi membaik."

"Via, ini Abel. Gue baru aja liat video tentang 'itu'. Maaf, video reviewnya nggak bisa diupload sesuai jadwal, sebelum permasalahan ini jelas. Semangat Via. Gue tau itu fitnah."

Mata Via terlihat berair sekarang. Iya, itu memang fitnah. Tapi bagaimana cara meluruskannya. Dan apakah semua orang akan langsung percaya?

*********

Perpustakaan siang itu lebih berisik dari biasanya. Entah apa yang membuat tempat tidur terbaik Noah menjadi tidak nyaman. Noahpun terbangun dengan dengungan di telinganya.

"Lo udah liat video Via belum?"

Noah langsung duduk tegak.

"Video apa?" tanyanya tajam.

Para siswi itu pun terlihat sangat kaget melihat Noah tiba-tiba bangun dan bertanya dengan wajah seperti itu. "Co-coba liat di grup kelas, ada video tentang Via yang dilempari telur mentah."

Mendengar hal itu, Noah pun bergegas mengambil handphonenya. Matanya benar-benar terbelalak melihat video tersebut. Tapi ada satu hal yang membuatnya sangat marah. Deksripsi dari video tersebut.

"Via, dia, dia pasti sangat sedih sekarang!"

Noah segera berlari keluar, secepat yang dia bisa. Lorong terasa panjang, napasnya kian memburu.  Setelah semua usaha yang dia lakukan Via. Kenapa masalah harus selalu datang.

Noah akhirnya sampai di depan kelas. Langkahnya tiba-tiba terhenti, melihat Via berjalan melewatinya begitu saja. Air mata jatuh dari wajahnya, berkilau terkena cahaya matahari.

Noah refleks menangkap tangannya.

"Lo nggak papa?"

Via menarik tangannya pelan.

"Tolong," ucapnya lirih, "gue butuh waktu sendiri."

Ia pergi. Meninggalkan Noah begitu saja.

Noah berdiri terpaku. Melihat punggung Via yang semakin jauh meninggalkannya.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang