BAB 24 : Yang Terbaik

422 90 22
                                        

Noah berhenti tepat di depan kamar Via.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Lampu kamar itu masih menyala, pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, Noah bisa melihat Via duduk di depan laptop—punggungnya tegak, jemarinya bergerak cepat di keyboard.

Masih kerja.

Noah menghela napas pelan. Ia baru saja kembali setelah menyelesaikan sebuah misi, tubuhnya lelah, kepalanya berat. Tapi melihat Via seperti itu, kakinya menolak untuk langsung berbalik pergi.

Ia melangkah masuk dengan hati-hati, nyaris tanpa suara.

Via tidak menyadari kehadirannya. Matanya fokus ke layar, bibirnya bergerak pelan seolah mengulang kalimat presentasi. Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya... penuh tekad.

Noah berdiri beberapa detik, lalu menutup pintu kamar perlahan dari luar.

*******

Alarm handphone yang nyaring membuat Noah meringis.

Kepalanya terasa berat, seolah kurang tidur jauh lebih parah dari biasanya. Ia meraba jam itu dengan malas, mematikannya, lalu mengusap wajah.

Ingatan semalam kembali menyelip—Via, laptop, mata yang tetap menyala meski sudah lewat tengah malam.

Noah bangkit, menarik selimut, lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya, cukup untuk membuat kesadarannya naik setingkat.

Ia memikirkan menu apa yang bisa dia masak pagi ini. Momen tiap makan bersama dengan Via tiba-tiba datang tanpa henti di kepalanya. Ia kemudian menatap bayangannya di cermin wastafel.

Wajahnya... merah.

Noah spontan memegang kedua pipinya.

Wajah Via saat makan ayam goreng tepung. Senyumnya kecil, matanya berbinar walau lelah.

Wajah Noah terasa semakin panas.

"Kenapa makin merah sih...," gumamnya.

Ia menggeleng keras, memukul pipinya ringan. "Fokus Noah, fokus."

*******

Via duduk di meja makan dengan mata setengah terpejam. Ayam goreng tepung di piringnya nyaris tak berkurang.

Noah memperhatikannya sambil menyeduh minum.

"Tidur jam berapa tadi malam?" tanya Noah.

"Jam empat subuh... kayaknya," jawab Via, lalu menguap lebar.

Noah mengernyit. "Lo punya vitamin?"

"Enggak."

"Entar beli."

"Iya," jawab Via singkat.

Noah hanya dapat menghela nafasnya. Via terlihat seperti zombie sekarang. Kantung matanya hitam dan terlihat sangat lemas.

"Tunggu disini," Noah berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar. Setelah mengambil satu botol vitamin, dia segera kembali ke meja makan.

"Ini," ucap Noah sambil meletakkan satu botol vitamin di depan Via..

Via menerimanya pelan. "Makasih."

"Abis makan, di minum vitaminnya,"

"Iya."

Noah menatapnya sejenak, lalu menggigit bibirnya kesal—entah pada Via, atau pada dirinya sendiri.

Melihat ekspresi itu, Via justru terkekeh kecil.

"Emang enak di cuekkin, lo pikir gimana rasanya jadi gue selama ini?" godanya sambil menjulurkan lidah untuk mengejek Noah.

Noah hanya bisa mengeluarkan nafas panjang untuk menahan kekesalannya.

"Pokoknya lo harus minum vitamin abis makan, kalo lo sakit, entar gue yang kena denda!" ucap Noah kesal dan kemudian mengangkut piringnya menuju wastafel.

Via hanya dapat tertawa kecil melihat respond Noah. Paling tidak, wajah kesal Noah membuatnya terhibur di tengah mata yang sangat mengantuk.

**********

Di kelas. Hawa panas membangunkan Noah dari tidurnya, kursinya tepat berada di samping jendela. Pukul sebelas adalah saat dimana sinar matahari masuk melewati kaca jendelanya. Jam yang paling dia benci dari semua jam. Setelah mengucek mata beberapa kali, sesuatu mengalihkan perhatiannya.

Via tertidur di meja di sebelahnya.

Kepalanya bersandar di lengan, wajahnya polos, napasnya teratur. Ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya, Via refleks menggerakkan lengan untuk menutupi mata.

Tanpa berpikir panjang, Noah menegakkan tubuhnya—menghalangi sinar itu. Ia bertahan dalam posisi canggung, punggung sedikit pegal, tapi tidak bergerak.

Noah tersenyum kecil ketika wajah polos itu terlihat tenang kembali. Dia terlihat sangat kelelahan, sebuah jabatan CEO benar-benar telah menekan pikiran dan mentalnya.

Noah sekuat tenaga mempertahankan posturnya agar tidak ada sinar matahari yang mengenai wajah Via.

Dalam beberapa tahun terakhir, baru kali ini Noah terlihat terbangun sepanjang pelajaran.

*********

Hari demi hari berlalu, Agnes dan Devi selalu menemani Via untuk mempersiapkan bahan rapat perusahaan. Sepulang sekolah mereka bergegas menuju rumah Devi untuk minta bantuan adiknya mendesain packaging produk. Mulai dari liptint, bedak, eyeshadow, eyeliner, dan produk skincare, semuanya mereka desain ulang kembali. Perdebatan terkadang muncul, tapi senyum mereka keluar dengan bangga ketika desain yang mereka buat terlihat bagus.

Agnes berhasil mengumpulkan data kuesioner dalam jumlah besar. Malam demi malam, Via begadang menyusun presentasi. Akibatnya, ia kerap tertidur di kelas.

Beberapa kali Via melakukan Wattshap Massage kepada ibu Nova terkait keadaan keuangan perusahaan. Karena sebuah Re-branding tidak hanya memerlukan ide baru. Akan tetapi, juga memerlukan dana yang tidak sedikit.

Dengan headset di telinga, ia juga sering berbicara panjang dengan Ninda tentang strategi pemasaran.  Apakah langkah Re-branding yang dilakukan Via sudah tepat, karena Ninda sudah sangat berpengalaman dalam pemasaran di dunia make up.

Agnes dan Devi fokus melihat ke arah Via yang sedang berlatih melakukan persentasi. Beberapa kali mereka akan memberikan saran, karena kalimat yang digunakan Via kurang tepat. Agnes juga beberapa kali harus berdiri untuk memberikan gesture badan yang cocok untuk seorang CEO.

Semuanya memang sangat melelahkan. Tapi, Via tidak sendiri sekarang. Ada orang berpengalaman yang dapat membantunya. Dan kedua teman setia yang selalu berjalan bersamanya. Walaupun harus mengeluh beberapa kali, tapi senyum tak terlewatkan dari wajah Via sehari pun. Dia benar-benar menikmati pengalaman yang sangat berharga ini.

Hari – H

Via berdiri di depan layar proyektor dengan blazer cokelat membingkai tubuhnya. Semua mata para ketua divisi tertuju padanya.

Napasnya ditarik panjang.

Semua sudah dipersiapkan.

Dengan suara yang mantap, Via membuka presentasi—

"Selamat siang. Salam sejahtera untuk kita semua...

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang