Tentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
Via menarik napas panjang sebelum melangkah satu langkah ke depan. Blazer cokelat yang ia kenakan terasa sedikit kaku di bahunya, tapi itu justru membantunya berdiri lebih tegak. Di belakangnya, layar proyektor menyala terang. Di depannya—para ketua divisi PT. Nature Beauty menatapnya penuh perhatian.
Semuanya sudah ia persiapkan. Dua minggu tanpa tidur cukup. Dengan bantuan banyak orang, hari ini ia tidak boleh goyah.
"Selamat siang," ucap Via mantap. "Salam sejahtera untuk kita semua."
Ia menggenggam pointer di tangan kanannya, lalu menatap satu per satu wajah di ruangan itu.
"Saya, Via Wulan Cahya, selaku CEO PT. Nature Beauty, hari ini akan memaparkan arah baru perusahaan kita ke depan. Namun sebelum berbicara tentang masa depan, izinkan saya menjelaskan kondisi kita saat ini."
Klik. Slide pertama berganti.
"Nature Beauty telah berdiri selama delapan tahun," lanjut Via. "Namun dalam tiga tahun terakhir, perusahaan mengalami penurunan signifikan. Kerugian mencapai hampir sepuluh miliar rupiah per tahun. Tanpa dukungan Mandala Group, perusahaan ini kemungkinan besar sudah berhenti beroperasi."
Ruangan sunyi.
"Pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan kita bermasalah," ucap Via tenang, "tetapi mengapa kita bisa sampai di titik ini?"
Klik.
Diagram penjualan muncul di layar.
"Di saat industri kecantikan Indonesia tumbuh pesat, penjualan kita justru stagnan. Produk di pasar semakin beragam, inovatif, dan berani. Sementara kita—berjalan di tempat."
Ia berhenti sejenak.
"Data menunjukkan, 78% konsumen kita berada di rentang usia 30–40 tahun. 16% di atas 40 tahun. Dan hanya 6% di bawah usia 30."
Beberapa kepala mulai mengangguk pelan.
"Padahal, dalam tiga tahun terakhir, pergeseran konsumen terbesar justru terjadi pada kelompok usia 18–30 tahun. Pasar muda jauh lebih besar—dan kita hampir sepenuhnya kehilangan mereka."
Via mengangkat pandangan.
"Karena itu, sebagai CEO PT. Nature Beauty, saya mengajukan langkah strategis ke depan."
Klik.
"Re-branding."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa orang tampak saling bertukar pandang.
"Langkah ini berisiko," lanjut Via jujur. "Namun jauh lebih berbahaya jika kita tidak melakukan apa-apa. Nature Beauty tidak akan bertahan jika terus dipersepsikan sebagai brand yang 'tua' dan tertinggal."
Ninda, yang sejak tadi menyimak, mulai tersenyum.
"Kita akan membangun ulang citra perusahaan," ucap Via. "Lebih segar. Lebih relevan. Lebih dekat dengan konsumen muda."
Ia melanjutkan dengan tenang tapi tegas.
"Untuk produk, kita akan memperkuat lini makeup dasar: bb cream atau foundation ringan, bedak tabur, concealer, contour, eyeshadow, eyeliner, highlighter, mascara, dan lip tint. Disertai tools pendukung seperti brush dan beauty blender."
"Packaging akan didesain ulang—minimalis, bersih, dengan palet warna cream, pink, dan hitam."
Via menoleh ke arah Ninda.
"Kak Ninda," katanya tiba-tiba, "menurut kakak, apa yang biasanya dilakukan perempuan saat sedang jatuh cinta?"
Ruangan sedikit terkejut.
Ninda terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Dia tidak tau tentang ini, selama diskusi melalui telepon Via tidak menjelaskan apabila dia akan memberikan pertanyaan di waktu rapat. "Tak seperti pria, perempuan itu lebih sulit ketika sedang jatuh cinta. Perempuan tidak akan bisa seperti pria yang langsung ngechat atau nelpon. Perempuan biasanya menunggu dan mencari perhatian secara tidak langsung. Kami mempersiapkan diri. Memperhatikan penampilan. Ingin terlihat lebih baik... lebih percaya diri."
Via mengangguk.
"Dan di situlah produk kita hadir," ucapnya mantap. "Sebagai teman pertama mereka dalam belajar merawat dan menghargai diri sendiri."
Ia menatap seluruh ruangan.
"Setiap hari, ribuan perempuan muda baru mulai mengenal make up. Bingung harus mulai dari mana. Takut salah memilih. Takut merusak kulit."
"Kita akan menjadi jawabannya," lanjut Via. "Produk yang fresh, aman, berkualitas, dan ramah untuk pemula."
Klik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Brand slogan kita akan berubah menjadi: 'Make It Happen with Nature Beauty.'"
Via tersenyum kecil.
"Slogan ini bukan hanya untuk konsumen," katanya. "Tapi juga untuk kita semua. Untuk perusahaan ini."
Ia menegakkan bahunya.
"Mari bangkit. Mari berani berubah. Dan mari—Make It Happen."
Sejenak ruangan hening.
Lalu satu orang berdiri. Disusul yang lain. Tepuk tangan menggema, memenuhi ruangan.
Via menunduk pelan. Matanya berkaca-kaca. Satu bulan lalu, ia hampir menyerah.
Hari ini, ia berdiri di sini—tidak sendirian. Semuanya sedang menyambut CEO baru mereka sekarang, bukan hanya tepuk tangan kosong, tapi tepuk tangan pengakuan.
Presentasi umum telah selesai. Namun rapat masih berlanjut—membahas langkah teknis dan implementasi.
Via kembali ke kursinya, menarik napas perlahan.
Ini baru permulaan. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar yakin—