BAB 16 : Make Up

570 126 2
                                        

Via menjinjitkan kakinya, berusaha mencapai kotak besar yang tersimpan di atas lemari. Biasanya ia harus menyeret kursi untuk mengambilnya, tapi tubuhnya yang kini lebih tinggi memberinya sedikit keberanian.

"Dapat!" Via menarik kotak itu perlahan dan menurunkannya ke lantai.

Ia membuka tutup kotak dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu. Setelah beberapa barang terangkat, ia menemukan benda yang dicarinya: kotak peralatan make up milik ibunya—yang biasa digunakan untuk event promosi Nature Beauty.

Kotak itu dipenuhi debu. Via meniupnya perlahan sampai debu menari di udara. Ia membawa kotak itu ke meja rias, membukanya, dan menatap kosong ke dalamnya. Peralatan make upnya memang sudah tidak ada—masa pakainya pendek—tapi satu hal tetap berada di sana.

Sebuah foto.

Foto acara make up sepuluh tahun lalu. Para karyawan tersenyum cerah. Di tengah-tengah, Via kecil—umur tujuh tahun—tertawa lebar dalam dekapan ibunya.

Hatinya langsung menghangat... dan mengeras pada saat bersamaan.


*********

10 Tahun lalu.

Via kecil menggenggam tangan ayahnya erat. Mereka berdua memperhatikan ibu Via berdiri di depan para pengunjung, mendemonstrasikan cara merias wajah. Hari itu adalah perayaan satu tahun berdirinya Nature Beauty—perusahaan yang dibangun ibunya dari nol.

"Via mau ke mamah?" tanya ayahnya lembut.

"Mamah lagi sibuk... aku lihat dari sini aja," gumam Via, matanya tak lepas dari sosok ibunya yang bekerja dengan begitu penuh cinta.

Namun beberapa detik kemudian, ibu Via yag dari tadi fokus melakukan touch up melirik ke arahnya dan melambaikan tangan kecil—mengajaknya mendekat.

"Itu Mama udah manggil" bisik ayahnya sambil mengusap rambut Via. "Kesana aja, nggak papa kok."

Via langsung melepaskan tangan ayahnya dan berlari kecil menghampiri ibunya.

"Kenapa mamah suka banget make up-in orang sih?" Via menatap ibunya yang tersenyum sambil mengoleskan blush on pada pipi seorang pelanggan.

Ibu Via tertawa kecil. "Kenapa? Via mau mamah make up-in juga?"

"Nggak! Aku nggak suka dibilang cantik gara-gara make up," jawab Via polos.

Mendengar itu, ibu Via berhenti sejenak. Ia menatap anaknya sambil tersenyum lembut—senyuman hangat yang selalu melekat di ingatan Via.

"Sayang, semua wanita itu udah cantik dari awal. Make up itu cuma membantu mereka percaya diri sama kecantikan mereka sendiri."
Ia menunjuk salah satu pengunjung yang sedang bercengkerama dengan bahagia. "Coba liat tante itu. Mamah cuma kasih make up natural. Tapi dia bisa tersenyum selebar itu... lebih lantang, lebih berani."

Via memperhatikan wanita itu. Benar—senyumnya jauh lebih cerah. Ada cahaya yang berbeda.

"Aku suka lihat orang tersenyum kayak gitu," ucap Via tanpa sadar.

"Itulah kenapa mamah bikin perusahaan ini." Ibu Via mengusap kepala Via lembut. "Nanti kalau sudah besar, Via bantu mamah ya? Biar makin banyak orang yang bisa tersenyum dengan percaya diri."

Via kecil tersenyum lebar. "Iya!"

*********

Via menatap foto itu lama. Dadanya terasa sesak.

"Mah... sesuai janjiku, aku mulai bantu mamah dari malam ini," ucapnya lirih.
Air matanya jatuh. "Kenapa kalian pergi terlalu cepat?" 

Ia mengusap matanya cepat-cepat, lalu mengambil belanjaan beberapa produk make up Nature Beauty dan mengisi kotak itu kembali—seakan ingin menghidupkan kembali kenangan ibunya.

Ia mulai merias wajahnya:

Via mulai menggunakan bb cream sebagai base make upnya. Dia kemudian memberikan eyeliner untuk memperkuat garis matanya. Memberikan maskara untuk membuat bulu matanya terlihat lebih lentik. Lalu, menggunakan lip tint berwarna coral. Terakhir, menggunakan blush on lembut berwarna pink pada tulang pipinya.

 Terakhir, menggunakan blush on lembut berwarna pink pada tulang pipinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketika selesai, ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Semoga nggak menor... gue masih anak SMA," gumamnya.
"Tapi... ini demi mamah. Demi Nature Beauty."

Ia menarik napas panjang.
"Saatnya ganti baju dan lihat  Noah udah siap atau belum."

*********

Di mobil, Via membaca ulang sambutannya dari layar ponsel, bibirnya komat-kamit. Noah menyetir, tapi sesekali melirik Via dari sudut mata.

"Menurut lo gimana? Bagus aja kan?" tanya Via tanpa menoleh.

"Bagus," jawab Noah cepat.

Via memutar kepala dan melotot.
"Cuma 'bagus'? "Nggak ada apa, atau gimana gitu. Yang bagus dibagian mana?"

Noah diam sejenak.

"Semuanya," sahut Noah singkat.

Via mendengus. Nih orang...  sumpah dah, entar banyak omong, entar irit ngomong. Emang bener-bener bukan manusia, gajelas.

"Btw kerjaan lo gimana? Udah libur lama banget kan?" tanya Via.

"Lo nggak liat, kenapa gue jadi nggak bisa kerja?" sarkas Noah.

"Iya, iya. Maafin-maafin. Lagian sapa suruh teken kontrak  tapi nggak dibaca bener-bener. Jadinya gue juga kan yang susah."

Noah hanya bisa meniup poninya kesal. "Udah berapa kali gue bilang, gue udah di jebak dan Ayah lo yang udah jebak gue!" kesal Noah.

"Lagian buat apa juga ya ayah gue nyuruh lo jagain gue...." Via mengerutkan dahi.

"Mana gue tau, Via...."

"Lurus sedikit, terus belok kiri ke gedung itu.," ucap Via sambil menunjuk gedung di depan mereka.

Mobil berbelok memasuki area parkir gedung 40 lantai—kantor pusat Mandala Group. Cahaya lampu, karpet merah, dan dekorasi elegan menyambut dari kejauhan.

Malam ini bukan malam biasa.

Malam ini, Nature Beauty akan mengenalkan CEO barunya.
Putri tunggal almarhum Alan.
Via Wulan Cahya.

Malam ketika mimpi ayah dan ibunya akhirnya berpindah ke tangannya.

Dan pertama kalinya, Via berdiri sebagai penerus keluarga Mandala.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang