BAB 39

393 63 5
                                        


Lagi, tangan itu lagi-lagi berhenti di udara.

Noah berdiri tepat di pintu kamar Via, beberapa kali dia mencoba untuk mengetuk pintu, tapi kepalan tangannya terus menggantung di udara. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di sana, dengan dada terasa sesak dan pikiran yang berantakan.

Ia tahu Via butuh waktu sendiri. Ia tahu seharusnya ia memberi ruang.

Tapi bayangan Via di depan kelas tadi siang—mata yang merah, air mata yang jatuh tanpa suara, langkah yang menjauh darinya—terus menghantui pikirannya. Terlalu jelas. Terlalu menyakitkan untuk diabaikan.

Apakah Via baik-baik saja sekarang? Atau justru tenggelam sendirian? Noah mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu akhirnya menarik napas panjang.

Mungkin...dia memang masih butuh waktu sendiri.

Ia berbalik, melangkah menuju kamarnya di lantai dua dengan langkah berat.

*******

Noah menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Punggung tangannya menutup matanya, mencoba meredam pikiran yang terus berputar.

Cerita pamannya siang tadi kembali berputar di kepalanya. Potongan-potongan yang terlalu berat untuk dicerna dalam satu hari. Wajah kedua orang tuanya. Pemakaman. Peti mati. Hujan. Tangisan bocah tujuh tahun yang tak paham kenapa dunia tiba-tiba runtuh.

Dada Noah terasa sesak.

Apa pun yang terjadi, satu hal sudah jelas baginya sekarang.
Raka Setiawan harus membayar semuanya.

Malam ini ia seharusnya pergi ke rumah pamannya. Mereka akan mulai menyusun rencana— rencana untuk memastikan Raka akan benar-benar membusuk di penjara. 

Sekitar empat jam lagi dari jam pertemuan, dia harus beristirahat, untuk tubuhnya serta mentalnya. Ia memejamkan mata, dan memakasa dirinya tidur.

*******

Suara gaduh dari luar membangunkannya. Langit sudah gelap ketika Noah membuka mata. Ia bangkit, menyalakan lampu, lalu berjalan ke jendela dengan kesal.

"Siapa sih yang ribut malam-malam begini—" Kalimatnya langsung terhenti.

Di luar gerbang rumah Via, beberapa wartawan terlihat berdiri. Kamera, mikrofon, sorot lampu—semuanya mengarah ke rumah itu. Jantung Noah berdegup keras. Setelah video pelemparan telur itu viral, masalah ini benar-benar berubah menjadi konsumsi publik. Dan Via—harus menanggung semuanya sendirian.

Perut Noah kosong Noah tiba-tiba bunyi. Via pasti juga  belum makan apa pun hari ini. Sekarang bukan saatnya untuk ragu. Noah turun ke lantai bawah dan berdiri kembali di depan pintu kamar Via.

Kali ini, ia mengetuk.

"Via..." suaranya lebih pelan. "Lo harus makan dulu."

Tak ada jawaban.

"Kalo lo sakit, siapa yang mau benerin perusahaan?" lanjutnya, berusaha terdengar ringan. "Makan dulu. Nanti kita cari cara bareng-bareng."

Sunyi.

Noah mendekatkan telinganya ke daun pintu. Tak ada suara apa pun.

"Via...?" nada suaranya mulai goyah. "Kalo lo nggak jawab, gue buka pintunya ya."

Tak ada respons. 

"Via, lo nggak papa kan?"

Jantung Noah berdegup semakin cepat, wajahnya mulai panik. Ia pun memutar gagang pintu dan membukanya perlahan.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang