Via menarik napas panjang di depan gerbang sekolah. Tas selempang menggantung di bahunya, sementara tangannya menggenggam map plastik kosong—tempat kuesioner yang seharusnya kembali terisi.
Sesuai rencana, sepulang sekolah ia akan mengambil kuesioner, lalu merekap data malam ini juga. Setelah mendapat dukungan dari Agnes dan Devi, Via menatap langit dengan keyakinan yang sempat ia pinjam dari mereka.
Via, lo pasti bisa, batinnya menguatkan diri.
Murid-murid mulai mengalir keluar gerbang. Via mengamati satu per satu wajah yang lewat, berusaha mengingat siapa saja yang pagi tadi menerima kuesioner darinya. Dengan jumlah siswa hampir seribu orang, ia sadar peluangnya kecil—mungkin hanya satu dari sepuluh yang benar-benar mengisi.
Sepuluh menit berlalu. Tidak ada satu pun yang menghampirinya.
Jari Via meremas ujung roknya. Ia melirik jam tangan, lalu menarik napas lagi, mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.
Sampai matanya menangkap satu wajah yang ia kenal. Gadis itu—yang pagi tadi menerima kuesioner paling awal. Via segera melangkah mendekat.
"Maaf," ucap Via hati-hati. "Lo yang tadi pagi ngambil kuesioner dari gue, kan?"
Gadis itu menoleh. Wajahnya langsung berubah panik.
"I—maaf," gumamnya singkat.
Sebelum Via sempat bertanya lagi, gadis itu mempercepat langkah dan pergi begitu saja.
Via terpaku.
"Kenapa... malah minta maaf?" gumamnya pelan.
Pikiran Via menjadi semakin kalut. Sepertinya, rencananya bahkan gagal di hari pertama. Rapat akan dimulai beberapa minggu lagi. Agnes memang bilang akan membantu Via dalam mengumpulkan data. Tapi, itu akan memakan waktu. Via seharusnya sudah mulai menyusun rencana dari malam ini.
"Kalian nyium bau telur mentah nggak?"
Via menoleh.
Sarla berdiri di depannya, diapit dua temannya. Tangannya terangkat, memperlihatkan tumpukan kuesioner yang sangat dikenali Via.
"Nyari ini?" senyum Sarla miring.
Via langsung paham. Ayah Sarla adalah rekan bisnis ayahnya dulu. Itu sebabnya Sarla bisa datang ke acara pelantikan CEO Nature Beauty. Dan itu pula yang membuat Sarla merasa... dia dapat melawan siapapun.
"Kembaliin," ucap Via, nadanya berusaha tetap tenang. "Gue nggak ngerti kenapa lo selalu ganggu gue. Dan soal Bagas, gue udah jelasin, kita cuma temenan."
Sarla tertawa kecil.
"Lo masih bocah ingusan, Via," katanya santai. "Sok-sokan jadi CEO. Tapi panik cuma gara-gara kertas beginian."
Via melangkah maju, berusaha meraih kuesioner itu.
Sarla menarik tangannya mundur.
"Ini peringatan terakhir," ucap Sarla dingin. "Atau selanjutnya akan lebih parah."
Dan sebelum Via sempat bereaksi—
Tumpukan kuesioner itu diterbangkan tepat ke arah wajah Via. Kertas-kertas beterbangan, jatuh ke tanah, terseret angin kecil di depan gerbang sekolah.
Via berjongkok refleks. Tangannya gemetar saat memungut lembar demi lembar. Dan saat matanya menangkap isi kertas itu—
Dadanya runtuh. Coretan kasar. Gambar-gambar mengejek. Kata-kata yang sengaja ditulis untuk menyakitinya. Tidak satu pun terisi dengan benar.
Sarla tersenyum puas. "Teman-teman," katanya ringan pada dua temannya. "Ayo pulang. Udah cukup."
Mereka pergi begitu saja. Sementara Via tetap berjongkok di sana, memungut kertas yang semalam ia buat dengan penuh harap. Tangannya dingin. Napasnya tertahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
