Bab 4 : AGENT RAHASIA

1K 249 63
                                        

"Kok porsi lo hari ini dikit banget?"

Devi menatap bakso di mangkuk Via yang bahkan belum habis setengahnya.

"Iya, biasanya lo bisa nambah," sahut Agnes sambil melirik heran.

Via mengangkat bahu santai. "Gue udah sarapan."

Dua pasang mata langsung menoleh ke arahnya.

"Hah?" Agnes refleks.
"Heh?" Devi bahkan sedikit membungkuk. "Sejak kapan Via Wulan Cahya sarapan?"

Via terkekeh canggung. "Sejak gue bertekad jadi manusia pagi."

Devi mendengus. "Apaan sih, nggak percaya banget."

Via hanya tersenyum kecil, fokus ke baksonya. Ia tidak mungkin bilang bahwa sekarang ada seseorang yang memastikan dia makan pagi—entah ingin atau tidak.

"By the way," Devi mencondongkan badan. "Ada gosip baru."

Agnes langsung waspada. "Bukan yang aneh-aneh, kan?"

Via tadinya tidak tertarik. Pikirannya masih setengah tertinggal di rumah: di meja makan, di suara wajan, di sikap Noah yang terlalu... teratur.

"Ini soal Noah," kata Devi sambil mengeluarkan ponsel.

Via refleks menoleh.

"Katanya ada yang liat dia naik motor sport hitam. Keren banget," lanjut Devi antusias.

Layar ponsel itu disorongkan ke tengah. Sebuah foto blur muncul—diambil dari kejauhan. Seorang cowok memakai jaket gelap, motor sport hitam, helm di tangan. Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tapi posturnya...

Jantung Via berdegup pelan.

"Kayak nggak mungkin," komentar Agnes. "Noah yang itu? Kang tidur sekelas?"

"Iya kan," sahut Devi. "Makanya gue juga bingung."

Via menelan ludah. Ia teringat Noah malam tadi—tanpa kacamata, rambut rapi, tatapan tenang yang beda dari versi sekolah.

"Gue... nggak tau," jawab Via akhirnya.

Bel sekolah memotong pembicaraan itu. Mereka bertiga berdiri dan berjalan kembali ke kelas.

******

Noah sudah duduk di tempatnya saat Via masuk kelas.

Tidur. Kacamata masih di wajahnya, kepala bertumpu di lengan.

Sinkron amat hidup lo, batin Via.

Pelajaran berlangsung seperti biasa.

Via menutup mulutnya karena menguap. Tidurnya cuma beberapa jam semalam, pikirannya terlalu penuh untuk benar-benar istirahat. Kepalanya tertunduk sesaat, lalu terlalu lama.

Tanpa sadar, ia meletakkan kepala di atas meja. Mereka berdua pun tertidur di kelas dengan posisi wajah saling berhadapan.

******

"Via."

Ada tangan menepuk pundaknya pelan.

Via tersentak bangun.

Guru berdiri di sampingnya, wajahnya tampak khawatir. "Kamu nggak enak badan?"

"Perut saya sakit, Bu," kata Via cepat, refleks. Bahkan ia sendiri kaget betapa lancarnya kebohongan itu keluar.

"Kamu lagi haid?"

Via mengangguk. "Iya," ucap Via sembari memegang perutnya untuk menambah kesan sakit.

"Bu, biar aku antar Via ke UKS," saran Agnes.

"Baiklah, beri dia air hangat ketika di UKS," sahut ibu guru tersebut.

My Little Agent (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang