"Lo benar-benar hebat, Rak. Mandala Group sekarang gede banget."
Noah berdiri di samping Raka sambil menuangkan wine ke gelasnya. Gerakannya tenang, nyaris terlalu tenang untuk suasana yang seharusnya santai. Kacamata tipis dan rambut klimis membuat wajahnya berubah—lebih dewasa, lebih rapi, lebih asing.
Raka menoleh.
Tubuhnya langsung membeku.
"Evan...?"
Napasnya tercekat. Matanya membelalak penuh, seolah otaknya menolak menerima apa yang sedang ia lihat. Beberapa hari lalu ia melihat Riska di klub— dan ia sudah mengira itu hanya halusinasi akibat alkohol. Tapi sekarang... Evan berdiri di hadapannya. Terlalu nyata untuk disebut ilusi.
Raka mengangkat tangannya perlahan. Jemarinya gemetar saat mendekat ke wajah Evan, ragu, takut, seolah sekali menyentuh semuanya akan menghilang.
Noah mengangkat gelas wine dan menyodorkannya ke arah Raka, memaksa kontak nyata.
"Sayangnya," ucapnya dengan senyum tipis yang dingin,
"gue beneran nyata sekarang."
Gelas itu dingin. Terlalu nyata.
Raka tersentak. Tangannya melepas sentuhan itu dan menjatuhkan gelas ke meja.
"T-tapi... gimana bisa?" suaranya parau. "Lo... lo harusnya mati."
Noah menatapnya lama. Tatapan yang bukan sekadar marah—tapi penuh luka yang sudah terlalu lama dikubur.
"Setelah lo ngebunuh gue dan Riska," ucap Noah pelan, "lo bahkan ngebunuh Alan. Sepupu lo sendiri. Lo udah gila, Rak."
"TIDAK!" teriak Raka. Suaranya pecah. "Bukan gue! Gue nggak bunuh kalian! Gue nggak mungkin ngebunuh Riska!"
"Lo yang bikin kami mati."
Nada suara Noah meninggi, tapi masih terkendali—justru itu yang membuatnya mengerikan.
"Gue cuma ngasih saran. Dan lo ngebalesnya dengan bocorin informasi ke Central Konstruksi. Mereka yang ngebunuh kami karena bocoran lo."
Raka mundur setengah langkah. Tangannya masuk ke rambutnya, mencengkeram keras seolah ingin mencabut pikirannya sendiri.
"Enggak... enggak...!" suaranya bergetar. Alkohol, rasa bersalah, dan ketakutan bercampur jadi satu. "Gue... gue nggak tau mereka bakal mati!"
Air matanya jatuh.
Setetes demi setetes.
"Kalo gue tau..." suaranya pecah. "KALO GUE TAU—gue nggak bakal ngebocorin apa pun!"
Ia terisak, kata-katanya berantakan.
"Mereka bilang cuma mau ngehentiin lo... mereka nggak bilang bakal ngebunuh! Bahkan... bahkan Riska ikut mati karenanya..."
Dadanya sesak. Ia memukul dadanya sendiri.
"Apa lo pikir gue mau Riska mati cuma gara-gara duit?! Lo tau itu, Van! LO PALING TAU!"
Ia menatap Noah dengan mata merah.
"Sampai sekarang... sampai sekarang gue masih cinta sama Riska."
Noah tertawa.
Bukan tawa lega. Bukan tawa puas. Tawa kosong yang pecah dari dada penuh luka.
"Lo pikir penyesalan lo bisa balikin orang tua gue?"
Suara Noah bergetar sekarang. Matanya basah, rahangnya mengeras.
"Lo pikir semua tangisan lo bisa ngilangin malam-malam gue sendirian?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Roman pour AdolescentsTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
