"Gue suka sama lo?"
Kata-kata itu nyaris keluar begitu saja dari mulut Noah.
Nyaris.
Ia menatap Via terlalu lama. Terlalu dalam. Sampai akhirnya ia mengalihkan pandangan lebih dulu, seolah takut jika perasaan itu keburu terbaca.
Nggak-nggak.
Nggak mungkin secepat itu, kan?
Noah menghela napas pelan. Ia sudah memikirkan ini sejak lama—sejak malam-malam sunyi di kamar Via, sejak suara langkah Via di dapur, sejak kebiasaan kecil yang tanpa sadar ia tunggu setiap hari. Rasa rindu. Rasa ingin terus berada di dekat seseorang. Rasa tenang yang hanya muncul saat satu nama ada di kepalanya.
Akhirnya Noah sadar.
Itu bukan kebiasaan.
Itu bukan tanggung jawab.
Itu bukan kontrak.
Itu perasaan.
Tapi lidahnya memilih jalan lain.
"Gue mau bayar semua makanan yang gue makan di tempat lo," ucap Noah datar, seolah itu topik paling penting di dunia, "termasuk penggunaan air dan listrik."
Via terbelalak.
Benar-benar terbelalak.
"Hah?"
Beberapa detik ia hanya menatap Noah, memastikan ia tidak salah dengar. "Nggak usah. Bukannya gue sok kaya, tapi emang nggak usah. Lagipula gue yang mau minta maaf karena sering ngerepotin elo."
Noah menggaruk tengkuknya.
"Gue kepikiran tadi pagi," katanya jujur. "Dan gue... nggak enak."
"Nggak usah, Noah...," suara Via melembut.
"Oke..."
Satu kata itu jatuh begitu saja.
Dan setelahnya, sunyi kembali mengambil alih.
Bukan sunyi yang kosong.
Tapi sunyi yang penuh perasaan yang sama-sama ditahan.
Via menarik-narik kerah dress-nya. Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak terlalu kencang untuk suasana yang seharusnya santai. Noah menatap cangkirnya lagi, seolah di sana ada jawaban.
"Mau cari angin?" tanya Noah akhirnya. "Deket sini ada taman."
Via mengangguk cepat.
"Boleh."
*******
Mereka berjalan menyusuri taman. Lampu-lampu jalan memantul di daun-daun pohon, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Langkah mereka pelan, sejajar, tanpa sentuhan—tapi jaraknya terasa begitu dekat.
Tak ada obrolan. Tak ada candaan.
Hanya dua orang yang sama-sama menyimpan perasaan, berjalan di malam yang terlalu tenang.
Tiga laki-laki berjalan dari arah berlawanan. Seketika Noah bergeser, berdiri di sisi kanan Via. Gerakannya refleks. Terlalu alami untuk dibuat-buat.
Via tertawa kecil.
"Bukannya kontraknya udah selesai?" godanya pelan.
Noah tidak menjawab.
Ia menunggu sampai mereka benar-benar lewat. Baru setelah itu ia berhenti berjalan.
Lampu taman jatuh tepat di wajahnya.
"Gue boleh terus ngejaga lo?" tanyanya.
Nada suaranya rendah. Jujur.
Pandangan matanya tak lagi menghindar.
Via terdiam.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Noah menelan ludah. Malam sudah terlalu larut. Jika ia diam lagi, jika ia menunda lagi, maka semuanya akan benar-benar selesai. Mereka akan kembali jadi dua orang yang pura-pura baik-baik saja.
Ia menguatkan diri.
"Bukan sebagai agent," ucapnya pelan, wajahnya memerah, "tapi sebagai pacar?"
Via menatap Noah lama. Terlalu lama.
Ia tidak tertawa. Tidak terkejut.
Hanya ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
"Mulai sekarang," ucap Via akhirnya, suaranya bergetar tapi tegas, "lo harus ngejaga gue, ya."
Noah mengernyit kecil.
"Sebagai agent?"
Via tersenyum—senyum yang membuat Noah yakin semua lelahnya terbayar.
"Sebagai pacar."
Malam itu terasa lebih hangat.
Dan untuk pertama kalinya, keduanya tahu—
Mereka akhirnya pulang dengan perasaan yang sama.
—THE END—
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
