Ruangan itu sunyi.
Hanya suara rekaman yang berulang dari speaker komputer milik paman Noah, memantul di dinding, menekan dada siapa pun yang mendengarnya.
"Narkoba emang bikin hidup lebih ringan. Mau coba dari Mandala Grup?"
Bagas menyandarkan punggungnya ke kursi, napasnya terasa lebih ringan setelah mendengar kalimat itu untuk ketiga kalinya.
Bukan karena senang—melainkan karena lega.
Kalimat itu cukup. Lebih dari cukup.
Tangannya mengepal pelan, lalu tanpa sadar terangkat ke udara, mengarah ke Noah.
"High five."
Begitu kata itu keluar, Bagas langsung menyesal. Gerakan itu terasa... terlalu akrab. Padahal mereka bahkan belum bisa disebut teman.
Ruangan mendadak canggung.
Noah menatap tangan Bagas yang menggantung di udara. Alisnya sedikit berkerut. Dalam kepalanya, pertanyaan-pertanyaan bermunculan cepat. Harus gue balas? Kenapa dia santai banget? Sejak kapan kita sedeket ini?
Dia memang tidak menyukai Bagas.
Masih belum.
Tapi malam itu... Bagas berdiri di ruangan yang sama dengannya, menahan mabuk, menahan takut, dan nyaris tertangkap—demi satu bukti ini.
Dan itu pantas dihargai.
Dengan helaan napas pendek, Noah akhirnya mengangkat tangannya. Tangan mereka bertemu. High five itu terdengar singkat, kaku, tapi cukup nyata.
Bagas tersenyum kecil.
"Kayaknya," katanya, sambil menarik ponsel dari saku, "udah waktunya Via tahu kalau kita berhasil."
"Sepertinya," katanya, sambil menarik ponsel dari saku, "udah waktunya Via tahu kalau kita berhasil."
Jari Bagas hampir menyentuh nama Via di layar, ketika suara paman Noah memotong.
"Belum."
Bagas menoleh cepat. "Maksud paman? Bukannya justru sekarang waktunya?"
"Kalau Via tahu," lanjut paman Noah tenang, "itu artinya kita akan segera menyerahkan bukti ini ke polisi. Dan sekarang... belum waktunya."
Bagas mengernyit, jelas tak setuju. "Tapi Via udah terlalu lama menderita. Kita nggak bisa nunggu lagi."
Paman Noah tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Noah.
"Noah."
Noah menggeleng pelan. Tatapannya tegas, kelopak matanya turun sedikit—penolakan tanpa kata.
"Noah..." suara pamannya melembut, hampir memohon.
"Kita nggak bisa buru-buru," jawab Noah akhirnya. "Kalau bukti ini kita serahin sekarang, Raka cuma kena kasus narkoba. Ada hal lain yang harus kita cari."
Bagas menahan napas. "Tentang apa?"
Noah menyandarkan punggungnya, lalu menghela napas panjang—seolah membuka pintu ke ruang yang selama ini ia kunci rapat.
Ia akhirnya mulai bercerita.
Tentang rumah Via.
Tentang Raka yang dulu berteman dengan ayah dan ibunya.
Tentang kecelakaan yang bukan kecelakaan.
Tentang Ayahnya. Tentang Ibunya.
Tentang ayah Via.
Dan tentang semua bisnis haram yang menempel di balik nama besar Mandala Grup.
Bagas tidak menyela.
Wajahnya berubah perlahan—dari terkejut, menjadi pucat, lalu dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan. Campuran marah dan iba.
"Lo..." Bagas menelan ludah. "Lo ngalamin semua itu sendirian?" Bagas berhenti sejenak. "Apa kalian sudah menemukan buktinya?"
Noah terkekeh pendek, tanpa senyum. "Itu udah lama. Dan jujur aja, nyari bukti buat kasus lama itu hampir mustahil."
Paman Noah menyambung, suaranya datar tapi terukur.
"Karena itu aku punya rencana lain."
Bagas langsung menoleh. "Gimana?"
"Kita sebar rekaman ini ke media. Dengan sensor nama perusahaan," jelasnya. "Raka terkenal gampang lepas kendali kalau mabuk. Sedikit provokasi... dan dia bisa bicara terlalu banyak."
Bagas terdiam.
Lalu, tanpa sadar, ingatannya kembali ke klub malam itu.
Ke wanita bersyal dengan rambut dikuncir.
Ke wajah Raka yang langsung berubah pucat melihatnya.
Ke suara gemetar yang memanggil satu nama—
Riska.
Bagas menelan ludah.
"Apa kalian tahu soal Riska?" tanyanya pelan.
Noah langsung mengangkat wajah. Tatapannya tajam. Terlalu tajam. Sepanjang ceritanya dia ingat tidak pernah menyebut nama ibunya secara langsung.
"Itu ibu gue," ucapnya dingin. "Dari mana lo tahu?"
Bagas langsung menunduk. "Gue... denger namanya di klub. Paman Raka nyebut namanya beberapa kali."
Bagas langsung menunduk. "Gue... denger namanya di klub. Dia nyebut itu beberapa kali."
Bagas pun menceritakan semuanya. Wanita itu terlihat seperti akris baru, mungkin dia disuruh agensinya untuk pergi kesana. Wajahnya canggung, dia menggunakan syal dan rambutnya di kuncir. Awalnya dia seperti tak terlihat, tidak ada yang terlalu peduli dengannya.
Tapi ketika Raka melihat wajahnya. Raka langsung panik, dia bahkan sampai menjambak rambutnya kuat. Berteriak Riska beberapa kali. Ruangan langsung terasa mencekam. Karena takut, wanita itu kemudian keluar dari ruang VIP.
Setelah ceritanya selesai, Bagas mengangkat kepala.
"Menurut gue... kita bisa cari wanita itu untuk jadi pemicunya."
Noah menunduk, jari-jarinya saling mengait.
"Gue nggak suka nyeret orang lain. Apalagi orang yang nggak kita kenal. Paman Raka udah bunuh ayah dan ibu gue, bahkan ayah Via juga. Kalau Paman Raka lepas kendali, ini akan sangat berbahaya."
"Tapi kita nggak punya banyak pilihan," jawab Bagas pelan. "Kita udah nemuin cara buat provokasi dia."
"Tidak, potong paman Noah. "Masih ada opsi lain. "Bukan hanya Riska, ada dua nama lain yang bisa memancing Raka. Alan dan Evan."
"Apa Paman juga nggak ingin melibatkan wanita ini? kita nggak punya waktu buat cari orang yang mirip sama mereka."
"Kita masih punya opsi lain, seseorang yang mewarisi gen ayahnya dengan sangat kuat," Paman Noah melihat ke arah Noah.
Bagas kemudian ikut menoleh, "Paman punya fotonya?"
Noah mengernyit. "Kenapa lihat gue kayak gitu?"
Paman Noah membuka folder di komputer, foto Evan muncul di layar. Wisuda. Senyum tenang. Kacamata. Rambut rapi.
Bagas mendekat. "Kalau stylenya diubah sedikit... mirip banget."
Noah mendecak. "Mata kalian pasti bermasalah."
Bagas tak menjawab. Ia langsung ke dapur, membasahi tangan, lalu kembali dan—tanpa izin—merapikan rambut Noah ke belakang.
"Apaan sih lo—"
"Paman, boleh minjam kacamatanya?" tanya Bagas cepat sambil menengadah.
Paman melepaskan kacamata dan memberikannya ke tangan Bagas. Bagas memasang kacamata itu dan merapikan rambut Noah sekali lagi, lalu mundur selangkah.
"Perfect."
Bagas langsung merogoh hape di saku celananya lalu mengambil foto tanpa seizin Noah. Dia kemudian meletakkan hapenya di samping layar laptop. Semua orang kini sibuk mencari perbedaan kedua foto itu.
Hening.
"Kau... benar-benar seperti Evan," suara paman Noah bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Noah menurunkan poni rambutnya kembali. "Udah cukup main dandan-dandanannya. Sekarang... kita bikin rencananya."
Paman Noah mengangguk, ekspresinya berubah tegas.
"Baik. Kita buat Raka mengungkap semuanya. Satu per satu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Novela JuvenilTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
