Via berdiri di depan rumah sambil menatap layar ponselnya. Grab yang ia pesan sudah dekat. Ia menghela napas lega—setidaknya hari ini dia bisa pergi tanpa drama.
Suara deru motor menghentikan pikirannya. Sebuah motor sport merah berhenti tepat di depannya. Pengendaranya membuka kaca helm.
"Ikut gue aja. Gue udah bawain helm," kata Bagas sambil mengangkat helm di tangan kiri.
Via langsung mengernyit. "Gas, gue udah pesen Grab."
Seolah alam semesta mengonfirmasi ucapannya, mobil Grab itu berhenti tepat di depan rumah. Via melangkah menuju pintu belakang mobil.
Namun Bagas buru-buru turun dan menahan pintunya.
"Berapa, Pak?" tanya Bagas pada sopir.
"Emm... lima puluh delapan ribu, Mas," jawab sopir itu sambil mengecek aplikasin
Via melotot. "Gas! Lo apaan sih! Jangan g—"
Uangnya sudah berpindah tangan. Bagas menyodorkan selembar seratus ribu. "Jalanin aja, Pak. Kembaliannya ambil, gapapa."
Via menahan napas.
"Gas, gue paling males berangkat sekolah sama lo. Lepasin pintunya!"
"Neng jangan gitu atuh sama pacarnya," celetuk si sopir sambil tertawa.
"Semoga langgeng ya, Mas–Neng."
Bagas langsung memberi hormat.
"Siap, Pak. Laksanakan."
Mobil Grab itu pergi, meninggalkan Via yang berdiri dengan rahang mengeras.
"...Gas. Sumpah. Lo makin lama makin nyebelin."
Bagas memasang wajah serius. "Gue bakal ngejaga lo, kayak kemauan almarhum Om Alan. Mulai sekarang gue yang nganter."
"Yang disuruh jaga itu Noah, bukan lo," desis Via dalam hati. Ni orang kenapa mendadak jadi aneh?
"Udahlah, ikut aja." Bagas menyodorkan helm.
"Gas, sumpah... gue males banget berangkat bareng lo."
"Kenapa?"
Via memelototkan mata. "Masih perlu nanya? Fans lo, Gas! BAR-BAR level akut! Ini udah sebulan lo nggak sekolah. Tiba-tiba muncul bareng cewek? Gue bisa mati di kantin, tau nggak!"
Bagas malah tersenyum santai.
"Tenang aja. Nggak ada yang bakal berani ganggu pewaris Mandala Group."
"Lo harus tanggung jawab ya kalo gue kenapa-kenapa."
Via akhirnya mengambil helm. Bagas mengepalkan tangan kecil-kecil, merasa menang.. Setelah Noah serumah dan Via, dia merasa tidak boleh hanya diam saja, dia harus mengambil inisiatif agar hubungan mereka ada kemajuan.
Mereka naik motor. Via terlihat berusaha menjaga jarak.
"Pegangan," pinta Bagas.
"Nggak," jawab Via.
Bagas mengemudikan motornya cepat, Via terpaksa memegang pinggang Bagas erat, usaha Via menjaga jarak pun sia-sia.
"Tuh kan," gumam Bagas kecil-kecil, dengan raut senang.
*********
Lorong sekolah terasa lebih berisik hari itu. Gadis-gadis berbaris di sisi kiri dan kanan, seperti menyambut idol K-Pop. Mata mereka langsung berbinar melihat Bagas.
Via hanya bisa menatap kosong ke depan. Mereka udah gila, batin Via.
"Pokoknya kalo gue kenapa-napa, lo harus tanggung jawab."
"Tenang aja," Bagas tersenyum sambil melambai ke fansnya. "Semuanya bakal baik-baik aja."
Bagas adalah murid paling populer di sekolah. Selain wajah tampan dan pekerjaan modelnya, latar belakang keluarganya juga membuat siapapun ingin memilikinya. Salah satu pewaris Neo Grup, masuk ke dalam salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, yang membuat beberapa produk kopi sachet yang sangat terkenal.
Perasaan Via mulai tidak enak, beberapa pandangan sinis mulai tertuju padanya. Dia benar-benar ingat saat SMP, bagaimana dia hampir dibully anak lain karena terlalu dekat dengan Bagas. Setelah ayah Via datang ke sekolah akhirnya pembullyan itu tidak sampai terjadi.
*********
Di kantin.
Via menjaga tiga kursi. Ia kesepian dan sedikit gelisah—tempat itu mulai penuh. Ketika seorang anak hampir duduk di sebelahnya, Via menahannya halus.
"Maaf, kursi ini udah ada yang punya."
Ia tersenyum kikuk, merasa tidak enak. Tapi Agnes dan Devi sudah titip kursi, memohon dengan melas kepadanya.
Tiba-tiba tiga gadis datang dan meletakkan makanan mereka dengan kasar di meja Via.
Via mendongak. Wajah dingin. Tatapan menusuk. Eyeliner tajam. Dan... familiar. Seseorang yang pernah dia liat di acara makan malam pemilik perusahaan di Jakarta.
Salah satu dari mereka duduk di depan Via dan langsung bertanya,
"Lo berangkat bareng Bagas?"
Via menelan ludah.
"...Iya."
Gadis itu bersedekap. "Gue tau lo pewaris Mandala Group. Tapi itu nggak berlaku buat gue. Status kita sama. Dan ayah lo udah nggak ada. Jadi... lo nggak punya tempat berlindung."
Via membeku. Great. Kekhawatiran gue jadi nyata.
"Jangan salah paham. Kami cuma teman masa kecil," Via mencoba tersenyum. "Lo bisa deketin Bagas sesuka—"
"Peringatan pertama." Gadis itu memotong. "Berhenti deket-deket Bagas. Kalo lo ulang lagi... liat aja apa yang bakal terjadi."
Saat suasana menegang—
"ADA APA INI?" suara Devi terdengar lantang.
Devi berdiri dengan kedua tangan di pinggang, tatapan mematikan. Agnes di sampingnya ikut menegakkan dagu.
"Tiga lawan tiga gimana?" tantang Devi.
Seluruh kantin menahan napas. Semua orang tahu siapa Devi. Atlet taekwondo yang bisa membanting cowok dua kali ukurannya.
Gadis itu—Sarla—mengkerutkan kening. Teman-temannya memberi isyarat halus agar dia mundur. Mereka jelas tak ingin cari masalah dengan Devi.
"Gue harap lo inget peringatan gue," ucap Sarla akhirnya, sebelum pergi dengan langkah sengit.
Begitu mereka menjauh, Devi langsung duduk dan menatap Via.
"Lo nggak apa-apa? Mereka ngapain?"
"Gue denger, tadi pagi lo berangkat bareng Bagas, Ya?" timpal Agnes.
VVia menghela napas panjang. "Gue kapok berangkat bareng Bagas."
Agnes menepuk meja.
"YA IYALAH. Fans dia bar-bar semua!"
"Gue tau... tapi tadi dia tiba-tiba muncul, terus bayar Grab gue. Mana gue bisa nolak?"
Devi berkedip pelan.
"Tumben anak itu agresif. Biasanya malu-malu kucing deketin lo."
Via mengerutkan alis. "Hah? Maksudnya?"
Devi dan Agnes saling pandang, lalu sama-sama mendesah.
"Yaampun, Via..."
"Masa nggak sadar-sadar juga?"
Via hanya bengong.
Devi menepuk kepala Via pelan.
"Udah. Kalo mereka berani macam-macam lagi, biar gue sama Agnes yang hadepin. Iya kan, Nes?" sikut Devi kecil di lengan Agnes.
"Tentu aja, gue yang kasih sorakan di belakang, lo yang mukulin mereka." sahut Agnes.
"EH—LO KIRA GUE AYAM ADUAN?!" protes Devi kesal.
Mereka bertiga tertawa.
Via menatap kedua sahabatnya dengan rasa lega mengalir di dadanya.
Makasih... batinnya. Paling nggak gue nggak sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Agent (END)
Teen FictionTentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
