Tentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
Noah mengangkat kedua kepalan tangan ke depan dada. Napasnya perlahan tapi teratur. Delapan orang dengan senjata sedang bersiap menyerangnya dari berbagai arah.
Orang pertama maju. Balok kayu terangkat tinggi—mengayun dari atas ke bawah.
Noah melompat mundur. Ayunan itu menghantam lantai keras, menimbulkan suara retak. Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, kilatan metal bergerak cepat dari sisi kanan.
Sebuah pipa besi berputar karena telah di lempar ke arah Noah. Noah berguling ke samping, pipa itu menghantam lantai tepat di tempat kepalanya berada sedetik sebelumnya.
Ia berlutut dengan satu kaki, menghela napas. Berat. Orang-orang ini bukan amatir.
Belum sempat ia berdiri sempurna, seseorang berlari dan menghantamkan kayu menyilang ke arah perutnya. Noah mengangkat kedua lengan dan menahan serangan itu.
Sakitnya luar biasa. Tangan Noah bergetar hebat, tapi ia memaksa mencengkeram balok itu. Mata Noah menatap musuhnya dingin—dan dalam satu gerakan cepat, ia menarik kaki kanannya ke belakang, lalu menendang sisi kepala pria itu sekuat tenaga.
Pria itu langsung ambruk, tak bergerak.
Tujuh orang lagi.
"Apa yang kalian lakukan? Serang dia sekaligus!" teriak pria botak di belakang.
Tujuh orang langsung maju dalam formasi kasar.
Noah bergerak ke kanan, menghindari ayunan kayu pertama. Tapi serangan kedua datang dari sisi lain—dan kali ini ia tidak sempat menghindar. Noah mengangkat tangan dan sikunya untuk menutupi kepala.
Balok kayu menghantam lengan dan pelipisnya. Noah terlempar jatuh, tubuhnya memantul di lantai. Pandangannya berkunang-kunang, lengan kirinya mati rasa.
Ia menggertakkan gigi. Memaksa berdiri.
Darah mulai mengalir dari pelipis, tapi ia membuka kuda-kuda lagi.
Tubuh Noah terpelanting ketika mendapatkan pukulan dari kayu itu. Noah hanya bisa meringis sembari memegang tangannya yang sudah lebam. Dengan kaki gemetar Noah mencoba untuk bangkit dan mengambil posisi bertarung kembali.
"AAAH—!" dengan wajah frustasi dan menahan sakit, Noah menerjang maju, bukan lagi menunggu diserang.
Pria botak tertawa. "Lihat itu. Bocah mulai putus asa."
Para penjaga bersiap mengayunkan tongkat mereka. Tapi Noah melakukan hal yang sama sekali tidak mereka duga.
Bukan melawan. Bukan memukul. Tapi berlari ke arah bos mereka.
Dalam sepersekian detik, Noah memotong jalur, melewati dua penjaga sekaligus, hampir menyelip di antara mereka. Tangannya ditarik ke belakang, siap memukul rahang pria botak itu dengan kekuatan penuh.
Semua orang—termasuk pria botak—kaget melihat Noah langsung mengincar pemimpin mereka.
Tapi pria botak itu tersenyum miring.
"Heh. Lo pikir gampang ngelawan bos gangster?" tanyanya sambil menyerigai.
DUG!
Tinju pria itu menghantam kepala Noah lebih dulu.
Noah terpental, jatuh keras ke lantai. Dunia terasa berputar.
Satu pukulan. Dua. Tiga. Darah Noah muncrat ke lantai.
"Kau senang sekarang?" Noah tersenyum sinis meski bibirnya pecah dan darah menetes.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.