Tentang Noah Pratama, seorang siswa SMA yang super cuek dan suka tidur di kelas, memiliki pekerjaan sebagai agent rahasia dan karena sebuah kontrak harus serumah dengan Via Wulan Cahya. Teman sekelasnya sendiri, orang yang super nggak enakan dan har...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Via yang membacanya langsung berdiri dan keluar dari kamar.
Nama Bagas tertera di layar.
Bagas adalah temannya sejak kecil. Bahkan bisa dibilang, teman laki-laki terdekatnya sampai sekarang. Mereka satu sekolah sejak TK. Orang tua mereka saling mengenal, dan secara alami, Via selalu merasa nyaman berada di dekat Bagas, mungkin karena latar belakang mereka yang mirip.
Via berjalan sambil masih menatap layar hapenya. Baru ketika matanya terangkat ke arah pintu depan, langkahnya terhenti mendadak.
Bagas.
Sedang menarik kerah baju Noah dengan wajah penuh amarah.
"Bagas!" teriak Via panik. Ia langsung berlari menghampiri mereka. "Gas, berhenti! Apa yang lo lakuin?!"
"Siapa dia?" Bagas menoleh ke arah Via, napasnya berat. "Ngapain dia ada di sini malam-malam begini?"
Via tercekat.
Baru kali ini ia melihat Bagas semarah ini. Bagas yang selalu tersenyum padanya, yang bahkan jarang meninggikan suara, kini seperti orang lain.
Noah hanya menatap Bagas datar. Jika mau, ia bisa membalas—kapan saja. Tapi dia masih mencoba untuk menahannya.
"Gue bakal ngejelasin," kata Via cepat. "Lepasin tangan lo dulu."
Bagas menghela napas panjang. Dadanya naik turun, pikirannya kacau. Sekilas ia melirik ke dalam rumah—sunyi, tak ada siapa-siapa. Justru itu yang membuat emosinya makin naik. Namun akhirnya, tangannya mengendur dan melepas kerah Noah.
Via benar-benar lega melihatnya, sekarang tinggal bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Bagas. "Gas, masuk dulu. Gue akan ngejelasin di dalam."
Via menghembuskan napas lega.
"Gas... masuk dulu," katanya pelan. "Gue jelasin semuanya di dalam."
Bagas berjalan melewati Noah tanpa meliriknya. Via menyusul di belakang. Noah merapikan kerah bajunya. Ada rasa kesal di dadanya, tapi ia terlalu malas memperumit keadaan. Ia berniat langsung kembali ke kamarnya.
"Tunggu," panggil Via.
Melihat Noah hendak menghindar, Via bergegas mengejarnya. "Jangan pergi dulu. Lo harus bantu gue ngejelasin."
Noah mengembuskan napas, tangan dimasukkan ke saku celananya. "Dia temen lo, kan? Lo udah cukup buat ngejelasin semuanya. Kehadiran gue cuma bikin dia makin kesal.""
Via terdiam sejenak, lalu menatap Noah tajam. "Enak aja mau kabur dari masalah," katanya kesal. "Pokoknya ikut gue!"