5th Moment - Cigarette

19.5K 2K 102
                                        

Warning: obrolan dan adegan (sedikit) mengandung unsur 18+.

***

Mas sayang: Aku masih nganter Rengga. Tunggu ya

Liv meletakkan ponselnya di atas meja makan setelah membalas pesan dari Refki. Pukul empat sore, Liv datang ke apartemen Refki-tentu setelah melapor pada pemiliknya-dengan membawa bahan masakan dari rumah Kakaknya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Liv memasak untuk laki-laki itu. Mungkin satu bulan yang lalu.

Sepiring ayam goreng, semangkuk tumis wortel dan buncis, dan sambal berhasil Liv masak setengah jam lalu. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Liv usai membersihkan apartemen Refki, membersihkan diri, dan duduk di depan meja makan selama hampir setengah jam dengan tangan yang sesekali mencuili kulit ayam kering di atas piring.

Namun, Refki justru mengabarkan bahwa laki-laki itu pulang telat. Tidak ada yang bisa lakukan Liv lakukan selain menunggu dengan bosan. Masakannya sudah mulai dingin.

Meski hanya bisa memasak menu-menu sederhana yang tidak jarang rasanya meleset-terlalu banyak garam atau justru hambar, Refki selalu dengan antusias masakannya. Maka kali ini, Liv sengaja tidak mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan makan malam pada Refki dan berharap laki-laki itu tidak membawa sebungkus bebek goreng kesukaannya.

Pukul tujuh malam, Refki baru tiba. Laki-laki itu meletakkan ranselnya di atas sofa sebelum merengkuh Liv dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Liv menerimanya karena Refki datang sesuai harapannya-tidak membawa makanan. Namun, ada yang janggal malam ini.

Liv mendongak, membuat Refki mengendurkan pelukannya.

"Kamu ngerokok, Mas?"

Refki refleks menggeleng. "Aku kan udah berhenti dari dulu."

"Tapi kemejamu bau asap rokok. Parfummu sampai nggak kecium." Liv mengendus dadanya yang tertutup kemeja polos. "Bau asapnya kerasa banget."

"Tadi masih nemenin Rengga ngerokok, Sayang."

Liv mengernyit. Lalu ia berjinjit untuk mengecup bibir Refki. "Rasa permen mint. Kamu sengaja nyembunyiin ini, Mas?"

"Aku emang nggak ngerokok." Refki menjawab dengan gusar saat Liv melepaskan lengannya yang melingkar pada pinggang perempuan itu.

"Nggak mungkin Mas Rengga ngerokok terus asapnya nempel banget di kemeja kamu. Parfummu nggak bakal kalah sama asap rokok. Kamu juga nggak begitu suka permen mint, dan permen mint biasanya buat nutupin aroma rokok yang pekat di mulut."

"Cuma karena itu kamu jadi nuduh aku ngerokok?"

"Aku nanya." Liv menatap Refki kesal. "Tapi kayaknya kalau semua maling jujur, penjara bakal penuh."

Refki mengembuskan napas lelah. Rautnya tidak kalah lelah. Tetapi Liv terlalu kesal untuk peduli.

"Udah sana mandi. Ada ayam goreng di meja makan. Aku pulang aja. Kamu ditunggu dari tadi, pulang-pulang malah ngeselin."

Dengan sigap, Refki menahan pergelangan tangan Liv agar perempuan itu tetap berdiri di depannya. "Please, kalau lagi marah nggak usah langsung pergi. Dengerin dulu aku ngomong. Aku udah nggak pernah ngerokok lagi sejak kita jalan bareng. Kamu ngelarang aku nyentuh rokok lagi, aku lakuin. Ini gara-gara-"

"Ngelarang gimana sih?" potong Liv langsung. "Aku cuma pernah bilang kalau aku benci banget sama asap rokok. Kalau kamu mau ngerokok lagi, yaudah sana lakuin. Nggak usah mikirin aku. Aku nggak pernah ngelarang juga. Tapi aku nggak mau deket-deket sama perokok. Nggak usah deh kamu ketemu aku, melukin aku, apalagi cium-cium aku. Males banget."

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang