23rd Moment - Efforts

12K 1.2K 38
                                        

Seharusnya ia tidak bertingkah seperti bocah.

Hal tersebut yang Liv gumamkan pada dirinya sendiri sejak ia kembali ke apartemen Refki satu jam lalu dan berniat memasakkan makan malam untuk laki-laki itu. Namun sampai satu jam kemudian, dadanya masih penuh dengan perasaan dongkol. Liv tidak bisa mengenyahkannya barang satu detik pun.

Membayangkan jus wortel buatannya tidak membuat Refki tertarik padahal laki-laki itu sudah berjanji tidak akan absen meminumnya, membuat Liv kecewa. Belum pernah Liv merasakan hal ini, kecuali saat Refki pulang dengan kemeja beraroma parfum perempuan dan noda lipstick yang samar-samar ikut menghiasi kemeja laki-laki itu.

Liv baru saja mencuci seluruh peralatan masak yang ia gunakan saat mendengar pintu apartemen Refki dibuka dari luar.

"I'm home, Sweety."

Kekasihnya itu melempar senyum hangat ketika tatapan mereka bersirobok. Liv membalas senyumnya seraya menyambar totebag di atas meja.

"Welcome home." Liv berjinjit untuk menghadiahi sebuah kecupan pada pipi kanan Refki, lalu berkata, "Tadi dosenku ngajarnya cuma bentar, jadi aku mampir buat masakin kamu. Mandi dulu, terus makan ya. Baru kelar kok, jadi masih agak panas semua."

Refki mengangguk dan memeluk pinggang Liv dengan sebelah tangannya. Tidak peduli ranselnya yang berat masih menggantung di lengan kanan laki-laki itu. "Thank you," bisiknya, lantas mengecup sudut bibir Liv. "Temenin aku makan, ya?"

"Aku mau ke kosnya temen buat pinjem buku, terus nugas di kos."

"Biasanya ngerjain tugas di sini." Refki mengecup dahi Liv. Manik matanya menyorot intens pada milik Liv. "Aku anterin abis kita makan."

Liv tersenyum tipis. "Aku mau pulang. Buruan mandi gih. Kalau sayurnya nggak habis, buang aja. Nggak usah dimasukin kulkas. Tadi aku beli rootbeer buat kamu. Aku taruh di kulkas."

"Aku beneran lupa nggak minum jusnya karena buru-buru. Bukan pura-pura lupa."

Perlahan, Liv melepaskan diri dari pelukan Refki. Laki-laki itu lantas menatapnya dengan raut panik yang samar.

"Iya, nggak apa-apa."

"Kamu marah."

"Aku sedih, bukan marah."

Embusan napas Refki yang pasrah perlahan menyentil ego Liv dan ia tidak bisa menghentikan dirinya yang berkata, "Aku lebih ngerasa dihargai seandainya kamu bilang kalau kamu nggak mau minum jus buatanku lagi, daripada aku harus ngadepin kamu yang ogah-ogahan kayak gini."

Dan sebelum Refki sempat menimpali, Liv melanjutkan, "Kamu selalu bilang, kamu inget hal-hal penting tanpa perlu dicatet. Hal sekecil apa pun, selagi itu penting buat kamu, kamu bakal inget seterusnya."

"Liv, ini perkara jus doang. Simplenya, kamu bikin lagi sekarang, aku bakal minum."

"Iya, buat kamu ini emang perkara jus doang. Sepele. Childlish. Egois." Liv menarik napasnya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan dan berucap, "Tapi buat aku, ini matter. I put my efforts there. Bukan perkara kamu bakal minum jusnya kalau aku buatin lagi, tapi perkara kamu ngelupain itu padahal kamu udah janji. Aku emang nggak bisa nyenengin kamu dengan masakin makanan-makanan enak. Masakanku sering keasinan. Apa yang aku bikin buat kamu, selalu aja ada kurangnya. Yang kurang manis, kurang bumbu, kurang macem-macem lah. Tapi kamu pernah mikir, nggak, seberapa aku usaha buat ngelakuin itu semua supaya kamu ngerasa lebih homey di tempatmu sendiri?"

Refki menunduk. Ganti menarik napasnya perlahan, lalu menatap Liv kembali.

"Kamu pasti tau kalau Mas Welly harus nunggu bertahun-tahun buat bikin Mbak Lita ngasih semua perhatiannya ke dia. Mas Welly harus effort lebih dari yang dia bisa supaya Mbak Lita yakin kalau dia nggak masalah dikasih perhatian, dimasakin, disiapin ini-itu. Mas Welly harus ngelewatin masa-masa diselingkuhin dulu supaya dia bisa ngerasain apa yang hari ini dia terima dari Mbak Lita. Kamu nggak perlu ngelewati masa-masa itu, Mas Refki." Refki benar-benar dalam masalah saat Liv menyunggingkan senyum pasrah dan berkata lirih, "Aku pikir kamu ngerasa lebih beruntung dari Mas Welly di aspek ini. Tapi ternyata aku terlalu percaya diri."

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang