50th Moment - Talk

12.3K 1.1K 54
                                        

"Udah berapa tahun sama Liv?"

Refki menoleh ke arah Radit yang duduk di dekatnya. Mereka hanya terpisah oleh sebuah meja berkaki pendek. Laki-laki itu bersandar pada kursi santai yang menghadap langsung pada kolam renang di halaman belakang rumah Welly. Siang tadi, Refki tiba-tiba mendapat pesan dari Liv bahwa perempuan itu ingin ia meluangkan waktunya malam ini karena Radit berkunjung ke Surabaya. Laki-laki itu—melalui Liv, mengatakan bahwa ia ingin bertemu Refki. Dalam pesannya, Liv tidak memaksa. Kekasihnya bahkan tidak mengatakan via telepon yang berarti permintaan itu bisa dikatakan tidak begitu mendesak, tetapi tidak memenuhi undangan tersirat itu bukanlah keputusan bagus.

Sudah tentu, Refki kelabakan. Bersantai tidak ada dalam rencananya hari ini. Saat ia menghubungi Welly, temannya mengatakan bahwa Radit hanya mampir satu malam sebelum pulang ke Jember. Istrinya tidak ikut pulang meski besok adalah hari Sabtu yang berarti akhir pekan telah tiba.

"Tiga setengah tahun, Mas," jawab Refki tenang, meski jantungnya bertalu-talu.

Hanya ada dirinya dan Radit di halaman belakang. Welly masih di ruang makan ketika Radit mengajaknya bersantai di sini setelah makan malam usai. Liv hanya mengantar kopi untuk Radit dan segelas jus durian untuknya sebelum kembali ke ruang makan dan dapur yang terhubung langsung dengan halaman belakang ini. Sayangnya, jus durian itu tidak membuat Refki tergiur malam ini.

"Betah sama Liv yang berisik dan demanding, Ref?"

Refki tertegun. Ia harus menjawab apa? Langsung mengiakan bisa membuat Radit berpikir bahwa ia berpura-pura. Meski yang Refki maksud bukanlah itu. Namun, menyangkal bukanlah opsi karena itu berarti akan membuatnya kelihatan tidak menerima Liv. Liv tidak demanding. Tidak. Liv hanya berusaha mengatakan apa yang perempuan itu inginkan pada Refki. Liv berusaha mengabulkan permintaan Refki yang ingin menjadi bagian dalam hiruk-pikuk hidup perempuan itu. Liv berusaha menepati janjinya untuk menghargai keberadaan Refki dengan meminta uluran tangannya ketika merasa butuh.

Jantungnya mencelus saat Radit tertawa pelan. Ia terlalu lama menimbang-nimbang dan sekarang waktunya habis. "Jujur aja, Ref. Nggak usah takut," ujar Radit lagi. "Tiap telponan sama saya dan Dara, dia bolak-balik bilang kalau dia sering banget menuntut kamu. Jadi saya mau denger dari perspektif kamu. apa dia emang seperti itu? Atau justru melebih-lebihkan."

Angin malam yang menyapu wajahnya terasa lebih dingin daripada biasanya. Hujan baru reda satu jam yang lalu. Rerumputan di seberang kolam tampak masih basah. Daun-daun pada pohon di antara rerumputan itu juga masih meneteskan sisa-sisa air ketika angin berembus sedikit lebih kencang. Namun, jemarinya yang saling bertaut justru mengeluarkan keringat.

"Saya pernah minta ke Liv, supaya saya dilibatkan dalam setiap yang ingin dia lakukan. Saya nggak mau dia melakukan apa-apa sendiri, sementara dia punya saya. Dia punya tempat berbagi, dia punya bahu saya untuk bersandar, dia selalu bisa datang ke saya ketika dia ... butuh bantuan." Refki menarik napasnya pelan. Menghirup udara segar di sekitarnya sebelum kembali berkata, "Jadi ... Liv nggak demanding, Mas. Dia melakukan itu karena dia mengabulkan permintaan saya."

Setelah menyesap kopinya dan meletakkan cangkir itu di atas meja yang ditata di antara dua kursi santai ini, Radit menimpali. "Nggak masalah kalian mau menuntut satu sama lain. Hubungan bakal jalan di tempat kalau salah satu atau dua-duanya pasif. Terimakasih udah bikin Liv ada di posisi dia berani minta ke selain Lita dan saya, Ref. Dia emang lebih berani dari Mbaknya. Lebih banyak tingkah. Dan tau kalian udah jalan sejauh ini, saya ... berharap kalian selalu punya jalan untuk sama-sama."

Refki mengerjap. Tidak menyangka akan mendengar hal itu. Pasalnya, ini Radit. Laki-laki paling intimidatif yang pernah Refki temui. Laki-laki yang paling tidak bisa membuatnya menghadapi dengan santai.

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang