Ada lagu yang bisa nemenin kalian baca moment ini. Lagu lawas sih dan liriknya agak gombal, tapi masih enak banget buat didengerin. Happy reading, Peeps!
***
Selain punya kebiasaan menghabiskan malam-malam yang senggang bersama Refki, setiap hari Selasa, Liv akan datang ke rumah Lita yang berlokasi di Jagir. Meski tidak menginap, setidaknya Liv menampakkan diri di depan Lita dan membuat Kakaknya berhenti khawatir karena ia memilih tinggal terpisah.
Selasa adalah harinya yang tidak padat. Alih-alih memilih Jumat sebagai jadwal senggangnya, Liv sengaja mengosongkan Selasanya dengan menjadwalkan satu matkul saja. Terlebih, Selasa kali ini tidak ada rapat HIMA, tidak ada tugas yang mencekik karena Liv sudah menyelesaikannya beberapa hari lalu. Namun, juga tidak ada Refki yang akan memeluknya semalaman dan menceritakan hal-hal random.
Laki-laki itu harus lembur dan Liv tidak yakin Refki akan pulang dibawah pukul sembilan malam. Liv berusaha memakluminya karena memang Selasa menjadi hari yang sibuk. Meski sejujurnya, ia begitu merindukan Refki.
Seminggu terakhir, mereka jarang bertemu. Refki dan kesibukannya membuat posisi Liv tergeser. Sayangnya, Liv tidak dilanda banyak kesibukan minggu ini. Para dosennya yang terlampau rajin memberikan tugas, hanya memberi kuis dadakan atau diskusi di kelas. Liv menyuarakannya pada Refki yang hanya disahuti dengan kata maaf oleh laki-laki itu. Tidak ada yang bisa ia harapkan jika keadaannya memang membuat Liv harus mengalah.
"Liv, makan!"
Teriakan Kakaknya terdengar hingga ke lantai dua—tempat kamarnya berada, dan berhasil memecah lamunannya. Saat ini, ia bersila di depan layar laptop yang menampilkan laman microsoft word yang berisi essay, satu-satunya tugas yang minggu lalu membuat Liv terjaga hingga pukul dua pagi untuk menyelesaikannya. Tugas yang ia kerjakan di apartemen Refki dan membuat kekasihnya menggerutu tiada henti, bahkan ketika Liv merayunya.
"Iyaa, mau mindah tugas dulu, Mbak!"
Liv menghubungkan flashdisknya pada laptop yang ia letakkan di atas lantai. Laptop tua miliknya ini akan memang mudah panas jika digunakan terlalu lama dan baterainya cepat habis, cooling pad tidak bekerja maksimal untuk laptopnya. Lita sudah mengatakan berkali-kali agar laptopnya diganti supaya nyaman digunakan, tetapi Liv memilih bertahan dengan laptop yang menemaninya sejak kelas satu SMA itu. Liv meredakan hawa panas tersebut dengan dinginnya lantai. Baru akan menyalin file tugasnya ke flashdisk, muncul tanda bahwa laptopnya minta diisi daya pada layar. Liv beranjak untuk mengambil charger yang ia letakkan di atas meja belajar.
Semuanya terjadi begitu cepat. Liv yang tangannya mudah sekali menjatuhkan atau merusak sesuatu tidak bisa dengan cepat menahan agar charger laptop tidak jatuh mengenai keyboard. Sepersekian detik, Liv kembali terduduk untuk menatap layar laptopnya yang mati. Meski pelupuk matanya sudah panas dan jantungnya berdegup kencang, Liv berusaha mencoba peruntungan dengan kembali menghidupkannya. Dengan perasaan cemas, ia menyingkirkan charger tersebut ke sisi kanan. Lalu, warna abu-abu memenuhi layar. Bunyi nyaring yang panjang dan konstan tidak berhenti terdengar dari speaker laptopnya.
"Liv, ayo makan malem dulu." Suara Welly terdengar di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Dengan tergesa, Liv beranjak dan melebarkan daun pintu. Welly menatap Liv keheranan, pasti karena airmatanya yang berlinang.
"Mas Welly, laptopku abis kejatuhan charger."
***
"Udah nangisnya, Liv. Besok laptopmu dibawa ke tempat servis. Atau kita beli laptop baru buat kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Too Night ✔
RomanceSurabaya, 2019. Refki mencintai Liv sebesar ia menghargai tiap detik di malam yang mereka lewati bersama. Liv mencintai Refki sebesar laki-laki itu meluangkan waktu untuk memberinya dekapan hangat kala malam menjelang. Meski dalam beberapa waktu, Re...
