9th Moment - Fears

16.6K 1.7K 70
                                        

Dengan gusar, berkali-kali Liv melihat ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul delapan malam. Masakannya sudah benar-benar dingin, tetapi tidak ada tanda-tanda Refki akan datang. Atau bahkan sekedar membalas pesannya jika ia tiba-tiba terjebak dengan tumpukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Liv mengembuskan napas kecewa. Perutnya lapar, tetapi nafsu makannya sudah menguap sejak setengah jam lalu. Sejak Refki mengabaikan rentetan pesannya juga panggilannya dua kali. Siang tadi, Refki mengatakan bahwa tidak ada lembur. Karena itu, Liv langsung punya inisiatif memasakan makan malam untuk mereka dan menginap setelah hampir satu minggu absen melakukannya.

Tugas kuliah dan kesibukannya di HIMA membuat Liv tidak punya waktu bermanja-manja dengan Refki meski laki-laki itu kerap pulang lebih awal dari biasanya. Kemarin lusa, sebuah keajaiban—Liv menyebutnya begitu, saat Refki mengabari bahwa ia sudah di apartemen pukul lima sore. Sayangnya, Liv terjebak dalam rapat HIMA dan tidak sempat untuk bertolak ke apartemen Refki walau hanya singgah.

Liv beranjak menuju dapur dan memasukkan red velvet cake yang dibelinya sore tadi ke dalam kulkas. Saat kembali ke ruang TV, pintu apartemen Refki dibuka dari luar. Laki-laki itu muncul dengan wajah lelah. Tersenyum meminta maaf pada Liv yang berusaha maklum. Meski dadanya tercubit mengetahui kenyataan bahwa Refki mengabaikan pesan dan panggilannya.

"Aku baru baca chatmu di basement," ujar Refki seolah bisa membaca pikiran Liv. "Maaf pulang telat."

Berusaha untuk tidak kekanakan, Liv mengangguk saat laki-laki itu meletakkan ranselnya di sofa. "Aku tadi masak. Kamu mau mandi atau makan dulu, Mas?"

Refki mendekat dan langsung membawa Liv dalam pelukannya tanpa menyahut.

"Maaf," gumamnya pelan.

Pulang telat bukanlah hal yang tabu untuk Refki. Liv bahkan sudah tidak lagi menghitung yang keberapa kalinya ia memaklumi Refki juga pekerjaannya yang tidak pernah habis itu. Namun saat mendengar nada suaranya yang gusar, Liv merasa ada yang terjadi pada Refki malam ini. Sebelum sebuah aroma parfum yang soft dari kemeja Refki menyeruak pada indra penciuman Liv.

Bukan parfum miliknya maupun milik Refki yang cenderung segar dan pekat. Meski tidak begitu kuat, aroma itu membuat Liv mengendurkan pelukan mereka dan menatap Refki dengan pandangan menuntut.

"Kamu dari mana?"

"Kantor."

"Kantor?" Liv membeo.

Anggukan Refki kontan membuat Liv tersenyum mengejek.

"Perempuan mana yang kamu peluk?"

"Liv...,"

Liv melepaskan lengan Refki dari pinggangnya dan melangkah mundur untuk bisa tetap waras menghadapi laki-laki itu. Kemudian, pandangannya tertumbuk pada noda merah yang tampak samar. Hari ini, Refki mengenakan kemeja biru laut yang membuat noda sesamar apa pun akan terlihat pada kemejanya.

Belum sempat Refki menyahut, Liv mendekat lagi untuk memastikan apa yang ia lihat.

"Ada lipstick di sini."

Liv menunjuknya dan Refki terperangah saat menunduk untuk ikut memastikan.

"Siapa orangnya, Mas?" cecar Liv tanpa ampun.

Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan gusar. Liv masih menunggu, tetapi tidak ada bantahan sedikitpun dari Refki. Kenyataan tersebut perlahan menusuki dadanya.

"Davina."

Liv memejamkan matanya dan menghela napas dalam-dalam. Dadanya terasa nyeri saat Refki tidak berusaha menjelaskan, yang keterdiamannya justru menegaskan kegusaran Liv.

Too Night ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang