Sudah lama sejak terakhir kali Refki pergi berlibur. Benar-benar berlibur tanpa embel-embel 'pekerjaan'. Sebagai manajer, Refki kerap menemani Welly melakukan dealing proyek di beberapa kota. Bonusnya, ia bisa mencuri waktu setengah hari jika meeting diakhiri dengan cepat untuk menikmati sisa waktu senggangnya. Terlebih jika destinasinya benar-benar cocok sebagai tempat berlibur. Seperti ketika ia dipercaya menjadi bagian dari task force team untuk megaproyek di Lombok dua tahun lalu. Nyaris setiap minggu ia harus bolak-balik dari Lombok ke Surabaya untuk menggarap proyek paling besar di Aryatama pada periode tersebut.
Dan ketika kesempatan itu hadir lagi dengan agenda untuk merayakan ulang tahun Deo. Refki tidak mau melewatkannya. Liv pun mengiyakan, meski diikuti rentetan omelan yang Refki iyakan seluruhnya. Pasca UTS Liv lalui dengan berat dan berlibur ke Bali untuk dua hari adalah sebuah nikmat yang tidak akan ia lewatkan. Lagipula, Deo sudah menyiapkan sebuah vila untuk mereka. Maka liburan bersama kali ini akan terasa lebih privat.
Lagi-lagi, Diaz Soeharyoso menunjukkan rasa sayangnya pada Deo dengan memberi salah satu vila miliknya di Seminyak sebagai hadiah ulang tahun. Tentu saja, Deo tidak menolak. Menjadi menantu kesayangan, Deo bisa mendapatkan segala yang Diaz punya tanpa terkecuali. Namun, hingga saat ini, Deo masih betah bekerja untuk Aryatama Engineering Partners. Dan setiap ditanya, laki-laki itu hanya menjawab, 'Lebih baik jadi kacung buat orang lain daripada keluarga sendiri'. Sebab, di Soeharyoso, ia hanyalah 'orang luar'. Berbeda dengan Welly yang merupakan satu-satunya penerus Radhian dalam mengelola konsultan teknik ini.
Tidak hanya Refki, ketiga temannya pun luar biasa senang ketika Deo memilih tetap menjadi manajer keuangan meski saat ini, status sosial laki-laki itu jauh di atas mereka semua. Perubahan besar itu juga yang kemudian membuat sesi hangout mereka menjadi lebih beragam. Termasuk tiba-tiba Deo mengatakan bahwa ia mengundang Refki dan ketiga temannya untuk menjajal vila barunya di Seminyak.
Seolah tidak ingin membuang waktu karena November tidak punya long weekend, Rengga berhasil mendapatkan tiket pesawat dengan keberangkatan di sore hari. Hari sudah mulai gelap dan matahari mulai turun saat mereka tiba di Ngurah Rai International Airport, sudah ada dua sopir yang menunggu mereka dan siap mengantar ke vila.
Refki sudah menyangka bahwa Deo tidak mengucapkan omong kosong saat mengatakan bahwa vila jatahnya dan Felya benar-benar luas. Ada sebuah kolam renang di depan ruang makan berkaca. Membentang panjang dari sisi kanan hingga ke sisi kiri pagar tembok setinggi dua meter.
Deo bahkan tidak menunggu Felya selesai mengomel saat melompat ke dalam kolam setelah menanggalkan kausnya dan melempar asal-asalan pada kursi panjang yang berada tidak jauh di depan kolam. Di sisi kanan pintu kaca yang menghubungkan dengan ruang makan super luas.
"Ref, buru nyebur!"
Refki yang kini berdiri tepat di depan pintu, langsung terkekeh melihat temannya yang sangat antusias menyambut vila barunya. Tanpa berpikir, Refki melepas hoodie zipper dan kausnya. Menyisakan celana chino selututnya. Sedetik kemudian, Liv menyusul dan menatapnya dengan kening berkerut. Siap mengomel. Namun, Refki tidak bisa melewatkan moment ini dan tanpa banyak bicara, ia mengoper pakaiannya pada Liv sebelum melompat ke dalam kolam. Diikuti Rengga yang tiba-tiba muncul hanya dengan mengenakan celana boxer dan ikut masuk ke dalam kolam.
"Anjing, seger banget!" teriak Rengga puas, setelah hampir setengah jam mengeluh gerah padahal AC di dalam mobil yang membawanya ke Seminyak sudah menyala dengan suhu cukup rendah.
"Cok, cangkemmu dijogo! Ono anakku!" umpat Deo saat mendapati putri kecilnya melihat dari balik kaca dan menunggu Felya menyeduh susu untuknya. (Cok, mulutmu dijaga! Ada anakku!)
Refki tergelak. Rengga juga menyuarakan kepuasannya. Air kolam ini benar-benar segar dan meluruhkan kantuknya.
"Kon pisan misuh, Cok! Yoopo seh!" balas Refki dengan suara pelan. Tidak mau Audri—putri Deo dan Felya satu-satunya—mendengar karena saat ini, si kecil itu sedang melambai dengan tangan mungilnya pada Refki. Satu tangannya yang lain memegang sebotol susu. (Kamu juga mengumpat, Cok! Gimana sih!)
KAMU SEDANG MEMBACA
Too Night ✔
RomanceSurabaya, 2019. Refki mencintai Liv sebesar ia menghargai tiap detik di malam yang mereka lewati bersama. Liv mencintai Refki sebesar laki-laki itu meluangkan waktu untuk memberinya dekapan hangat kala malam menjelang. Meski dalam beberapa waktu, Re...
