54th Moment - Proposal

29.1K 1.3K 183
                                        

"Kenapa kita ke rumah Mas Welly dulu, Mas?"

Liv menoleh pada Refki yang memanuver mobilnya memasuki gapura tempat rumah Welly berada. Refki kelihatan sangat tampan hanya dengan kemeja marun polos yang Liv pilihkan dari lemarinya. Wajah laki-laki itu tampak begitu segar meski hanya sempat tidur satu jam sebelum Liv membangunkannya untuk bersiap ke acara makan malam bersama teman-temannya. Untuk menyesuaikan dengan pakaian yang Refki kenakan, Liv memilih mengenakan dress dengan warna serupa. Potongannya terlampau sederhana, tetapi hanya dress itu yang Liv temukan di dalam lemari milik Refki.

"Welly minta nebeng, Sayang."

Mendengarnya, Liv mengangguk mengerti. Ketika tiba di depan pagar rumah Welly, ia tidak bisa menahan kernyitan di dahi. Tidak biasanya rumah yang tidak pelit lampu ini, kelihatan remang-remang. Hanya lampu taman yang dihidupkan. Sementara lampu teras dan lampu untuk menerangi garasi di sebelah kanan teras mati total.

"Tumben Mbak Lita nggak ngidupin lampu." Liv celingukan ke arah teras sembari melepas seatbelt.

"Mungkin lupa," sahut Refki ringan.

Tanpa menunggu Refki mematikan mesin mobil, Liv turun lebih dulu. Ia membuka pagar dan memanggil-manggil Kakaknya. Namun, tidak ada jawaban.

Di belakangnya, Refki mengekor. "Masuk dulu aja, Sayang."

Liv menurut dan melangkah menuju teras. Sakelar lampu seluruh ruangan di lantai satu ada pada ruang keluarga, sehingga Liv tidak bisa langsung menghidupkan dari teras.

Berbagai pikiran buruk menggerogoti dadanya sampai ia tiba di depan teras rumah. Melampaui ekspektasinya, Liv mendapati puluhan lilin kecil dalam gelas kaca dengan nyala api di atasnya. Serta-merta, ia menoleh pada Refki. Laki-laki itu tersenyum lembut di tengah remang cahaya lampu taman dan pantulan cahaya yang datang dari lilin-lilin berbentuk jalan setapak hingga di depan pintu rumah Welly yang dibuka lebar-lebar.

"Ini ... ada acara apa, Mas?" Liv tidak mampu meluruhkan keheranannya.

Namun, kekasihnya itu hanya memberi jawaban, "Ayo masuk, Sayang."

Meski banyak sekali pertanyaan yang bercokol dalam kepalanya, Liv tetap mengikuti permintaan Refki. Saat memasuki ruang tamu yang malam ini berubah seluruh interiornya, Liv disambut dengan alunan One Only-nya Pamungkas. Dadanya berdesir. Sekujur tubuhnya bergetar pelan. Spontan, ia meremas tali sling bagnya erat-erat.

"Mas Refki, ini apa?" tanya Liv dengan suaranya yang bergetar.

Refki tidak menjawab dan menuntun Liv menuju bagian kanan ruang tamu. Ratusan foto digantung pada hampir seluruh space di bagian itu. Kerlap-kerlip dari tumblr lamp dengan warna broken white memenuhi ruangan. Berpendar indah menerangi tiap-tiap potret Liv yang digantung. Sementara puluhan balon mengambang pada langit-langit ruang tamu bagian kiri.

Liv kehabisan kata-kata. Jantungnya bertalu-talu. Telapak tangannya berkeringat.

Belum pulih keheranannya, Liv mendapati alunan lagu di ruangan ini memelan, tergantikan suara seseorang yang sangat ia kenali meski mereka terhitung jarang bertemu.

"Papa kasih restu. Kamu atur aja gimana lamarannya nanti. Papa cuma minta, tolong jaga janji kamu, komitmen kamu, hati kamu, semua yang ada dalam dirimu buat Liv."

Kini, Refki sudah berdiri di depannya. Laki-laki itu merogoh saku celana khaki yang ia kenakan dan mengeluarkan kotak kecil navy dengan tekstur beludru. Liv terperenyak. Ia tidak menyadari Refki sudah mengantongi benda itu sejak tadi. Baru saja Liv ingin bersuara, sebuah suara yang lembut menyapa indra pendengarannya. Menginterupsinya agar tetap diam.

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang