20th Moment - Failed

17.1K 1.5K 44
                                        

"Mas Refki."

Refki urung menekan tombol lift saat sebuah suara menghentikannya. Dengan tergesa, Davina menghampirinya. Meski tidak begitu menyukai berurusan dengan perempuan itu diluar pekerjaan mereka, Refki menahan diri untuk tidak kabur.

"Apa?"

"Bisa minta tolong?"

Impulsif, Refki melirik arloji di pergelangan tangannya. Baru saja Welly menghubunginya dan memintanya datang ke rumah laki-laki itu karena Liv sudah berada di sana. Dan yang lebih mengejutkan baginya, perempuan itu mengadu pada Welly dan Lita setelah proposal magangnya ditolak sehingga gagal berangkat ke Perth dalam beberapa minggu ke depan.

"Aku buru-buru, Dav," sahut Refki tanpa menanyakan lebih dulu pada Davina, apa yang sedang perempuan itu butuhkan.

Refki tidak mau membiarkan Liv menunggunya. Membayangkan Liv menangis saja sudah cukup membuat fokusnya terombang-ambing. Apalagi jika sampai ia tidak berada di dekat perempuan itu.

Jika untuk perempuan selain Liv, Refki mungkin sudah melabeli dirinya dengan kata berlebihan. Hanya pada Liv, Refki akan memberikan seluruh yang ia punya dan yang bisa ia lakukan untuk perempuan itu.

"Sebentar aja. Kerjaanku—"

"Buat sekarang, kerjaanmu tolong diobrolin sama Rengga dulu," tukas Refki tanpa menunggu Davina menyelesaikan ucapannya. "Tunggu aja, dia bakal balik sepuluh menit lagi. Katanya cuma mau beli makan. Aku nggak punya banyak waktu."

"Pacarmu nggak bisa nunggu sebentar, ya?"

Refleks, Refki menaikkan sebelah alisnya. Merasa terusik dengan pertanyaan tersebut. Namun, ia tidak menunda lagi untuk menekan tombol lift sebelum kembali menoleh pada Davina dan berkata, "Kamu udah tau jawabannya."

"Aku kira Liv beda. Dia—"

"Kamu nggak kenal Liv dan jangan pernah menilai Liv seolah dia nggak lebih baik dari kamu." Seharusnya, Refki menghentikan dirinya sendiri. Tetapi ia terlalu marah untuk melakukan itu. "Aku nggak mau nyakitin kamu, tapi kamu justru menawarkan diri. Bisa kamu berhenti sekarang dan kita nggak akan terlibat apa pun selain soal kerjaan?"

Davina tercengang. Namun, Refki tidak ingin peduli.

Pintu lift berdenting dan perlahan terbuka. Sebelum masuk dalam kotak besi tersebut, Refki menoleh sekali lagi pada Davina.

"Berhenti nyiksa dirimu sendiri, Dav. Kita udah selesai. Semua yang pernah ada di antara kita cuma bagian dari masa lalu."

***

Liv sudah lelah menangis, tetapi airmatanya tidak bisa berhenti mengalir. Dadanya penuh dengan rasa kesal. Ia sudah membayangkan betapa menyenangkannya pergi ke Perth untuk yang pertama kali dan itu adalah untuk belajar. Dan lebih menyenangkan lagi, saat ia membayangkan akan bertemu banyak orang hebat di bidang yang begitu ia senangi ini.

Setidaknya sebelum ia sadar kemudian ragu ketika ia terlambat mendapatkan surat rekomendasi magang. Pihak administrasi dari jurusannya menunda terus-menerus dengan berbagai alasan. Liv berusaha tidak memikirkannya sampai kemudian mendapatkan email balasan berupa penolakan atas pengajuan magangnya. Liv berusaha ikhlas dengan tidak memikirkan serentetan hal buruk yang menyebabkan proposalnya ditolak, tetapi hal itu terlalu sulit dilakukan sekarang.

"Aku mau nikah aja. Capek kuliah...,"

Liv melingkarkan lengannya lebih erat pada pinggang Refki. Bisa ia rasakan usapan tangan Refki pada punggungnya yang terasa menenangkan, tetapi tidak berhasil menghentikan rasa kesal dan kecewanya.

"Aku capek banget. Temen-temenku bisa sampai masuk kedubes Korsel, Vietnam, Malaysia. Kenapa sih, aku nggak? Aku nggak bego-bego banget kok, CV-ku juga nggak melompong. Kamu tau sendiri aku banyak ikut event yang berhubungan sama jurusanku. Pengalamanku juga nggak sebiji doang."

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang