12th Moment - Shopping

15K 1.5K 50
                                        

Liv mendudukkan dirinya pada salah satu kursi di depan cermin besar sembari mengurut tumitnya yang berdenyut. Pergelangan kakinya di bagian belakang terasa agak perih. Rifka—Adik Refki satu satunya—sedang asyik memilih sepatu kets yang diinginkannya. Menggunakan bus, Rifka berangkat ke Surabaya begitu jam sekolahnya berakhir. Refki mengomeli Rifka habis-habisan saat mengetahui hal tersebut, padahal ia sudah meminta agar Adiknya memesan tiket kereta beberapa hari sebelum berangkat. Tidak mau membuat Refki gusar, Liv akhirnya menjemput Rifka di terminal. Bertepatan dengan bus yang membawa Rifka hampir tiba di terminal, kelas terakhirnya di hari Jumat telah usai. Selama dua hari kedepan, Rifka ingin menghabiskan hari liburnya bersama Liv.

Tanpa menunggu Refki pulang dari kantor, karena tampaknya laki-laki itu akan lembur, Liv mengajak Rifka mengitari Tunjungan Plaza selepas Maghrib. Saat mengetahuinya, meski tidak bisa ikut menemani, laki-laki itu mengirim sejumlah uang pada rekening Liv. Tentu saja dengan jumlah yang hampir membuat Liv mengamuk. Namun, karena ia bersama Rifka, maka perempuan itu yang akan menghabiskan uang Kakaknya kali ini.

Perempuan yang baru saja berulang tahun ke tujuh belas itu—tepatnya sebulan yang lalu—membawa dua pasang sepatu kets dan berbalik menuju tempat Liv duduk.

"Kenapa, Mbak? Sakit kakinya?"

Liv hanya meringis samar. Tidak mau membuat Rifka khawatir dan melapor pada Refki, Liv buru-buru mengalihkan perhatiannya. "Udah dapet? Mau dua-duanya?"

Namun, Rifka tidak mendengar dan menunduk untuk menelisik kaki Liv yang malam ini memakai ankle strap heels setinggi tujuh sentimeter. Liv terbiasa menggunakan wedges atau kitten heels. Tetapi karena ingin menggunakan high heels dengan model yang dapat lebih mempercantik kakinya, maka ia memilih ankle strap heels malam ini.

"Lecet, Mbak?"

Liv tersenyum menenangkan. "Dikit, Rif. Nggak apa-apa, kok."

"Harusnya tadi kamu pakai sepatu kets kayak aku, Mbak," ujar Rifka sembari menunjuk sepatu kets putih yang dipakainya.

"Aku pakai ini biar nggak kebanting sama Mas Refki. Dianya mature, nggak mungkin aku dandan kayak anak SMA."

Kontan, Rifka tertawa kecil. "Pantes aja tadi milih lipstick yang merah, bukan nude."

Liv tersenyum simpul seraya beranjak dan merapikan A-line dressnya. Meski Refki belum mengabari pukul berapa tepatnya laki-laki itu akan menyusul, setidaknya Liv sudah menyiapkan diri dengan berdandan lebih dewasa malam ini. Seperti yang biasa ia lakukan. Terlebih malam ini, ia bersama Rifka. Liv tidak mau sama-sama dianggap Adik Refki jika berpenampilan seperti Rifka yang girly—bermodalkan kaus lengan pendek dan rok selutut, kemudian dilengkapi sepatu kets berwarna cerah.

"Make up aku masih belum luntur, kan, Rif?"

Sembari menunggu Rifka mencoba salah satu sepatu kets yang dipilihnya, Liv berdiri di depan cermin yang berada pada salah satu outlet sepatu ini. Mereka sudah mengitari mall selama hampir satu setengah jam dan sudah mendapatkan berkantong-kantong belanja. Namun, kebanyakan adalah milik Rifka.

Rifka menoleh sekilas. Kemudian mengangguk.

"Masih paripurna, Mbak." Perempuan itu kini berdiri di sampingnya dengan dua tangan menjinjing sepatu kets berbeda warna.

Liv terkekeh. "Oke, berarti nggak perlu touch up lagi. Kamu mau beli sepatu yang mana? Dua-duanya?"

"Satu aja deh." Rifka menunduk dan menatap bingung dua sepatu di tangannya. "Bagus yang mana, Mbak?"

"Dua-duanya bagus." Liv menatap Rifka yang kebingungan. "Kamu suka semuanya?"

Rifka mengangguk.

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang