40th Moment - Insecurities

13.9K 1.2K 82
                                        

"Mas, aku gendutan, nggak?"

Refki spontan melipat dahi. Urung menyuapkan potongan daging bebek yang tersisa di piringnya. Di depannya, Liv sudah selesai menghabiskan sepiring nasi goreng kambing dan satu dessert box berukuran sedang. Pipinya menggembung lucu. Matanya menatap Refki intens, seolah pertanyaannya barusan adalah pertanyaan yang sangat dia ingin tahu jawabannya.

"Mas Refki...," panggilnya lagi. Kini dengan nada yang lebih naik dan terdengar menggerutu.

Tidak ada yang menakutkan dari pertanyaan Liv. Seharusnya. Jika Deo tidak memberi tahu bahwa laki-laki itu dan Felya tidak beradu mulut hanya karena satu pertanyaan ini, Refki tidak akan cemas. Ia hanya perlu menggeleng dan tersenyum seribu watt pada Liv dan mengalihkan pembicaraan. Sayangnya, kenyataan yang ia hadapi tidak semudah itu.

Liv sedang menunggunya dan ia tidak bisa mengalihkan pembicaraan. Tidak sebelum ia memberi jawaban yang tentu ingin kekasihnya dengar.

Sontak, saran Deo terngiang jelas. Laki-laki itu mengatakan, "Ref, kalau Liv nanya kayak gitu, jangan langsung dijawab nggak. Jangan, pokoknya."

"Nggak juga."

"Nggak juga?" Liv membeliak. Perempuan itu lantas menumpukan kedua lengannya di atas meja makan. Tubuhnya semakin condong pada Refki.

Mampus, batin Refki.

"Maksudku, nggak. Kenapa, Sayang?"

"Jadi, nggak apa nggak juga?"

Refki menelan ludahnya susah payah. Terkadang, kekasihnya ini tidak pandang waktu jika ingin memulai pembicaraan serius ataupun menanyakan hal-hal yang menjebak.

"Nggak, Sayang. Kenapa? Ada yang ngomong aneh-aneh ke kamu?"

"Berat badanku naik dua kilo," gerutunya.

Dua kilo.

Dua kilo.

Hampir saja Refki tertawa dan mengumpat sekaligus. Seharusnya ia tidak pernah mendengarkan cerita Deo dan cemas seperti orang gila. Seharusnya ia tidak mengikuti saran temannya itu.

"Okay ... then?"

"Terus temenku bilang aku gendutan, Mas." Kini, Liv menangkup kedua pipinya dengan tangan perempuan itu. "Emang beneran, ya? Jujur aja, deh. Beneran, aku nggak bakal marah. Paling ngomel dikit."

"Nggak, Sayang."

"Ih, tadi kamu bilang nggak juga. Mau bilang iya, kan?"

Refki tidak langsung menjawab. Lebih dulu meneguk sisa air putih di gelasnya.

Apabila diamati lebih intens, tidak ada yang berubah dari bentuk tubuh Liv. Sama saja seperti biasanya. Tidak lebih lebar. Tidak lebih kurus. Meski malas berolahraga dan apabila tiba-tiba ingin pergi ke car free day, itu pasti karena Liv dan Gista ingin berburu jajanan kaki lima yang beragam jenisnya. Jogging satu putaran, bolak-balik area jajanan kaki lima bisa lebih dari sepuluh kali. Di rumah Welly pun, meski sudah disediakan berbagai peralatan olahraga di ruang gymnya, Liv lebih banyak bermalas-malasan di atas yoga mat daripada melakukan satu sesi work out. Namun, kemalasannya tidak memengaruhi bentuk tubuh perempuan itu.

Liv tidak begitu tinggi, tetapi tidak juga bisa dibilang mungil. Ia pantas mengenakan pakaian apa pun. Yang memamerkan tulang selangka. Yang memamerkan lengan atas. Yang memamerkan sebagian pahanya. Semuanya. Nyaris tidak ada pakaian yang tidak pantas jika sudah melekat pada tubuh Liv.

Dengan begitu, Refki sudah bisa menyimpulkan bahwa Liv cantik dalam kondisi apa pun, kan?

"Nggak, aku salah ngomong." Refki ikut mencondongkan tubuhnya. Menyingkirkan piringnya ke pinggir meja. Membiarkan sisa daging bebek yang pasti sedang enak-enaknya itu teronggok di atas piring. Nafsu makannya sudah menguap. "Ada yang ganggu pikiranmu? Mau cerita?"

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang