14th Moment - Time

20.7K 1.7K 49
                                        

Liv turun dari ojek yang ditumpanginya dengan perasaan dongkol. Setelah membayar tarif ojek, Liv berjalan menuju pintu masuk gedung Aryatama dengan langkah berat. Satu tangannya yang bebas membuka sling bag yang menggantung pada bahu kanannya dan mengambil ponsel dari dalam sana. Saat akan mendial nomor Welly-karena ia tidak cukup berani untuk mendatangi ruangan Kakaknya itu, sebuah suara memanggil namanya.

Liv mendongak dan merasa lega saat mendapati Rengga yang berdiri tidak jauh darinya. Kemeja yang dikenakannya terlihat kusut, wajahnya pun tampak benar-benar lelah, tetapi senyumnya merekah saat Liv melempar senyum pada teman kekasihnya itu. Tampaknya Refki tidak berbohong ketika mengatakan pada Liv bahwa divisi teknik sedang benar-benar sibuk. Bahkan Welly yang jarang lembur pun, malam ini masih berada di kantor. Liv melihat mobilnya yang terparkir di sayap kiri pelataran kantor. Namun, hal tersebut tidak berhasil menyurutkan rasa marah dalam dadanya dan ia sungguh ingin segera bertemu Refki.

"Mau ketemu Refki?"

"Iya, Mas." Liv mengangguk sembari menambahkan, "Sama mau ketemu Mas Welly. Mas Rengga mau ke mana?"

"Mau beli makan, Liv."

"Oh...," Spontan, Liv mengembuskan napas kecewa. Rengga yang menyadari langsung melempar penawaran yang sebenarnya tidak ingin Liv tolak.

"Mau dianter?"

"Kayaknya aku telpon Mas Welly aja deh, Mas."

Sebelum Rengga sempat menimpali, seseorang menginterupsinya. Dari arah yang sama seperti Rengga-pintu lobi, Welly menghampirinya dengan langkah lebar. Sepertinya, Lita sudah menghubungi Welly karena saat ini Kakak iparnya itu melempar tatapan meminta maaf.

"Maaf bikin kamu nunggu, aku baru baca chatnya Mbak Lita."

Liv mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. "Nggak apa-apa, kok. Tadinya hampir ngerepotin Mas Rengga, aku takut mau naik sendirian."

Setelah Rengga pamit untuk membeli makan malamnya, Welly mengajak Liv masuk dan menuju ruangan laki-laki itu. Terhitung jari Liv memasuki ruangan Welly yang benar-benar minimalis dan hampir seluruh furniturenya berwarna navy. Berbeda dengan ruangan Refki yang bernuasa abu-abu.

"Refki masih meeting di lantai lima, kira-kira setengah jam lagi dia bisa nyusul ke sini." Welly membuka suara dan menarik Liv dari lamunannya. Ia meletakkan dua kantong plastik di atas meja kaca yang dilingkari sofa-berada tepat di depan meja kerja Welly, sebelum menoleh pada laki-laki itu.

"Jam segini masih meeting, Mas?"

Welly mengangguk dan mendudukkan dirinya di depan Liv. Membuka satu per satu kotak makan yang dibawakan oleh Lita. Sejak menikah, Welly jarang memanfaatkan layanan pesan antar untuk makan malamnya bahkan ketika laki-laki itu harus berada di kantor hingga larut malam, karena Lita pasti akan mengiriminya berbagai macam makanan yang ia masak sendiri.

Awalnya, beberapa kotak makan ini akan dikirimkan melalui jasa kurir. Tetapi Liv yang kebetulan sedang berada di rumah Kakaknya sejak sore, menawarkan diri untuk mengantar langsung. Ia juga ingin bertemu Refki yang dua hari lalu baru diperbolehkan keluar dari rumah sakit setelah hampir dua minggu dinyatakan menderita tifus. Akan tetapi, sejak dua jam yang lalu, pesan yang Liv kirim pada nomor laki-laki itu tidak kunjung mendapat balasan. Liv benar-benar ingin mengamuk, jika tidak ingat bahwa Refki sedang bekerja dan Liv sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak merasa keberatan dengan Refki yang kerap bergelung dengan segunung pekerjaannya itu. Namun untuk yang pertama kalinya, Liv benar-benar menyalahkan segala pekerjaan Refki karena membuat laki-laki itu terjebak di kantor sedangkan yang harus ia lakukan adalah beristirahat. Meski sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, proses pemulihan tetap harus dilakukan.

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang