31st Moment - Kiss

13.1K 1.1K 24
                                        

Dadanya terasa ringan ketika mengetahui bahwa hari ini Liv sudah kembali dari posko KKNnya dan menyelesaikan ujian yang dijadwalkan lebih cepat satu hari dari tanggal yang sudah ditentukan. Liv mengatakannya beberapa hari sebelum perempuan itu kembali dan Refki sengaja memadatkan jadwalnya sehingga tidak ada pekerjaan yang akan menganggu ketika weekend datang. Ia benar-benar ingin menghabiskan Sabtu dan Minggunya bersama Liv, tanpa gangguan apa pun.

Berada dalam pelukan Liv seharian, bermalas-malasan tanpa diburu pekerjaan, menggunakan layanan pesan antar dan tidak membiarkan Liv memasak, membuat Refki tidak sabar untuk menyambut weekendnya kali ini. Refki memang belum mengatakan rencananya pada Liv, tetapi ia sungguh berharap kekasihnya tidak menolak dan tidak punya kegiatan lain. Meski ia tahu, malam ini Liv pasti akan menginap di rumah Lita dan melepas rindu dengan Kakaknya itu. Refki tidak akan keberatan. Asal ia tetap bisa punya waktu senggang bersamanya.

Hari sudah gelap ketika mobil Refki tiba di depan pagar rumah Welly yang dibuka hanya selebar bahu. Sewaktu ia keluar dari mobil, Liv sudah menunggu di teras rumah dengan senyum mengembang. Tidak ada yang spesial dari penampilan Liv sore ini. Tetapi kaus dan rok selutut yang dikenakannya membuat Refki gemas bukan main.

"Kamu mau balik ke kantor lagi, Mas?" tanya Liv saat Refki tidak membawa ranselnya. Laki-laki itu hanya datang dengan ponsel dan kunci mobil di tangannya. Padahal, tidak pernah ia mau meninggalkan laptopnya di dalam mobil untuk waktu yang lama.

Refki mengangguk, membiarkan Liv menggandeng lengannya dan menuntun masuk ke ruang keluarga. "Ada meeting, Sayang. Aku pengen besok nggak diganggu kerjaan."

Tidak ada siapa pun ketika Refki mendudukkan dirinya di sofa, dan Liv ikut duduk di sampingnya. Namun, suara Welly samar-samar terdengar dan Liv otomatis mengatakan, "Mas Welly lagi nemenin Mbak Lita masak."

"Kamu bantuin Mbak Lita dulu gih."

Liv mengubah posisi duduknya, mengabaikan pinta Refki. Dan ketika Refki menoleh, ia sudah duduk menghadapnya. Tatapannya tampak gusar, meski terlihat samar.

"Aku mau ngomong sesuatu...,"

"Are you okay?" tanya Refki buru-buru.

Kekasihnya itu mengangguk. Refki meraih satu tangan Liv dan menggenggamnya. Tatapannya menyorot intens. Diam-diam, rasa khawatir menyergap dadanya meski Liv sudah menyatakan bahwa ia baik-baik saja dengan anggukan perempuan itu.

"Then?"

"Kamu masih inget waktu aku bilang pengen pulang ke Jember buat liburan bareng Papa?"

Tentu saja Refki tidak melupakannya, sehingga ia mengangguk dan langsung mulas begitu mendengar ucapan Liv selanjutnya.

"Papa tau kalau aku udah balik KKN dan selesai ujian, jadi tadi pagi ditelpon dan minta aku nyari tiket kereta yang berangkat hari ini. Soalnya besok Papa pengen ngajak aku main."

Refki tidak ingin Liv mengiyakan ketika ia mengajukan pertanyaan, "Kamu dapet tiket kereta hari ini?"

Namun, kekasihnya itu mengangguk. Refki merasa ini salah. Tidak seharusnya ia keberatan. Karena bagaimanapun juga, Papa perempuan itu merindukan putrinya setelah tidak bertemu berbulan-bulan. Refki sudah beberapa kali bertemu Liv, meski waktu yang mereka miliki tidak sepanjang satu bulan lalu. Tetapi itu jelas sudah lebih dari cukup.

"Udah packing, Sayang?" Refki mengusap pipinya lembut.

Walau sulit, Refki berusaha tersenyum hangat untuk Liv yang menatapnya dengan raut bersalah.

"Udah tadi waktu balik ke kos."

"I'm okay," ucap Refki pelan. "Berangkat jam berapa?"

Alih-alih menjawab, Liv justru berkata, "Tapi kamu udah ngosongin weekendmu, sampai meeting malem-malem gini. Maaf ... harusnya aku bilang siang tadi."

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang