Liv sudah pernah mendengarnya. Bahwa masa-masa terberat dalam dunia perkuliahan—sebelum menginjak fase skripsi—berada di semester lima. Liv sempat tidak mempercayainya dan selalu mengatakan bahwa hal itu adalah mitos yang dibuat-buat. Menurut Liv kala itu, tidak akan terasa berat apabila dijalani dengan niat sepenuh hati. Namun, Liv tampaknya harus mencabut perkataannya sendiri.
Bahwa semester lima pada masa kuliah adalah kutukan.
Tidak peduli bahwa Liv sangat menyenangi—bahkan mencintai dengan sangat apa yang ia pelajari saat ini. Liv mengira, itu cukup. Kecintaannya pada Ilmu Hubungan Internasional yang sedang ia pelajari cukup membuatnya tegar menghadapi badai semester lima yang kata para Kakak tingkat, cukup menakutkan. Ternyata ia salah.
Di awal semester lima, semuanya baik-baik saja. Beberapa mata kuliah memang terasa semakin sulit, tetapi Liv beranggapan bahwa ia hanya kurang belajar. Hal itu Liv percaya, setidaknya sebelum memasuki pekan UTS. Tekanan kini tidak hanya datang dari kuliahnya, tetapi juga organisasi yang diikutinya. Belum lagi target magangnya yang terlalu berat dan membutuhkan persiapan diri yang matang. Semuanya terjadi begitu saja.
Tugas kuliah yang semakin menggunung dan tidak bisa dipecahkan dalam semalam, event besar yang akan diselenggarakan dalam kurun waktu satu bulan dari hari ini sebagai program kerja tahunan HIMA, persiapan magang yang tidak hanya menguras waktu tetapi juga tenaganya. Seolah belum cukup, sebuah masalah datang pada waktu yang bersamaan. Liv benar-benar kelelahan.
Liv mempercepat langkahnya menuju apartemen Refki. Saat pintu di depannya terbuka setelah ia memasukkan password, Refki berdiri di depannya dengan wajah terlampau segar. Liv memintanya tidak lembur di kantor, untuk malam ini saja. Dan ia benar-benar bersyukur karena Refki menuruti permintaannya yang cukup egois ini.
"Mas Refki...,"
***
Satu jam yang lalu, tepatnya pukul lima sore, Liv tiba-tiba menghubungi Refki dan memohon agar Refki bisa pulang lebih awal. Meski cemas karena permintaan Liv tergolong tiba-tiba, ia berusaha untuk tetap tenang dan berharap perempuan itu baik-baik saja.
Namun, harapannya tidak terkabul.
Saat mendengar suara pintu dibuka dari luar, yang Refki tebak dengan tepat sebagai Liv—karena hanya Liv yang mengetahui password apartemennya, Refki menunggu tidak jauh dari pintu.
Tatapan mereka bertemu. Refki sudah melihat Liv dalam versi apa pun. Versi cantik dan bersemangatnya, versi lesu saat perempuan itu terserang flu, versi ketika matanya berkilat marah dan mulutnya tidak berhenti mengoceh, juga versi lelahnya. Tetapi ketika dihadapkan kembali dengan Liv yang lelah dan tidak bersemangat, Refki tidak bisa menahan rasa sesak yang perlahan menyusup dalam dadanya.
"Mas Refki...,"
Refki mengulas senyum kalem. Bergerak maju untuk menutup pintu di belakang Liv sebelum membawa perempuan itu dalam pelukannya. Tidak perlu menunggu berpuluh-puluh detik sampai Refki mendengar isakan kecil Liv. Refki bahkan belum sempat menuntunnya ke sofa, tetapi menginterupsinya bukan pilihan yang baik.
Liv pernah datang padanya dan memecahkan tangis sewaktu perempuan itu menempuh semester tiga. Setelah menangis hampir setengah jam, Liv menceritakan masalah yang ditimpanya setelah sebuah hasil liputan khusus yang ia tulis diunggah pada website pers kampus. Huru-hara terjadi karena Liv dengan sengaja menilai—dan mencela—kinerja segelintir pejabat di program studi yang dampak buruknya mengenai mahasiswa secara tidak langsung. Ditambah tuntutan tugas kuliah yang semakin bertumpuk dan tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Kala itu, Liv mengeluh padanya hampir satu jam sebelum bisa tersenyum lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Too Night ✔
RomanceSurabaya, 2019. Refki mencintai Liv sebesar ia menghargai tiap detik di malam yang mereka lewati bersama. Liv mencintai Refki sebesar laki-laki itu meluangkan waktu untuk memberinya dekapan hangat kala malam menjelang. Meski dalam beberapa waktu, Re...
