Bisa dibaca sambil dengerin lagu di mulmed ya.
***
Hari-hari di penghujung November adalah hari-hari sibuk untuk Liv. Atau bahkan, masih berlanjut sampai akhir tahun. Bersama pengurus HIMA yang lain, Liv sedang mempersiapkan acara Dies Natalis yang akan diselenggarakan di penghujung tahun. Selain harus menyiapkan diri untuk menyambut UAS di awal tahun, Liv pun harus pintar-pintar membagi waktu agar ia tetap bisa berproses pada organisasi yang menaunginya, tetapi tidak meninggalkan kewajibannya—kuliah dan melengkapi semua tugas yang diberikan oleh dosen.
Tahu bahwa tidak ada yang bisa Refki lakukan untuk meringankan beban Liv, ia memilih untuk tidak merusuhinya dengan mengomeli perempuan itu. Liv sudah cukup lelah dengan kuliahnya di akhir semester lima yang semakin penuh tekanan dan kesibukannya di organisasi. Refki tidak mau menambah beban pikirannya dengan melarang ini-itu, dan memilih untuk mendukung apa pun kesibukan Liv yang katanya, sedang berproses.
Maka saat Lita menghubunginya dan meminta ikut ke Malang sebagai bentuk refreshing, sejujurnya Refki tidak ingin mengiyakan. Namun, Lita jarang sekali memintanya melakukan sesuatu, terutama untuk Liv. Dan saat istri Welly itu ingin ia ikut liburan kilat bersama keluarga kecilnya—juga mengetahui fakta bahwa keberadaannya diharapkan oleh Liv, Refki tidak bisa menemukan alasan yang lebih rasional lagi. Selain karena ia benar-benar mengkhawatirkan Liv. Menyadari bahwa Liv mengiyakan ajakan Lita menunjukkan bahwa perempuan itu punya waktu senggang. Alih-alih digunakan untuk liburan, Refki lebih ingin Liv menggunakannya untuk beristirahat. Benar-benar istirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berat atau menempuh perjalanan yang melelahkan.
Refki mengembuskan napasnya pelan dan menunggu dengan sabar di samping Liv yang berdiri di depan wastafel. Menyesal karena mengiyakan ajakan Lita dan Welly, tetapi tidak bisa melakukan apa pun. Pada pantulan cermin, ia bisa melihat wajah pucat Liv meskipun perempuan itu menunduk dalam-dalam.
"Udah, Sayang?" tanya Refki sembari memijit pelan tengkuk Liv.
Perempuan itu baru saja memuntahkan isi perutnya setelah mengeluh pusing selama satu jam terakhir. Sejak mereka tiba di resort pilihan Lita, Refki sudah merasa bahwa kekasihnya itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Perempuan itu merengek saat Refki akan masuk ke kamarnya sendiri dan minta ditemani tidur sebentar sebelum bersiap untuk makan malam. Setelah menuaikan salat Maghrib, Refki mengabulkan permintaan Liv. Memeluk tubuhnya yang hangat tanpa banyak bicara dan membiarkan perempun itu tidur. Sampai satu jam kemudian, Refki mendapati Liv terbangun dan berlari menuju wastafel di kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Jangan di sini," bisik Liv parau. "Jangan lihat aku muntah. Jijik, Mas...,"
Refki tidak mau mendengar. Tangannya masih setia memijit tengkuk Liv dan satu lainnya merapikan anak rambut Liv yang menutupi pipi.
"What do you feel, Sayang?"
Liv tidak langsung menjawab. Perempuan itu membungkuk untuk berkumur sekali lagi dan membasuh wajahnya dengan air keran yang dingin, kemudian menoleh pada Refki dengan wajah pucat.
"Pusing, Mas. Perutku perih," rintihnya sembari mendekat dan melingkarkan lengan pada pinggang Refki.
Perlahan, Refki mengusap punggung Liv yang tertutup blouse katun. Liv belum mengganti pakaiannya dan Refki menebak, ia terlalu pening untuk melakukannya.
"Kapan terakhir kamu makan?"
"Siang...,"
Daripada mengamuk pada Liv, Refki justru lebih ingin menyalahkan dirinya sendiri karena sudah lalai menjaga Liv dan tidak memastikan dengan benar-benar bahwa kesibukan perempuan itu tidak akan membuatnya sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Too Night ✔
RomanceSurabaya, 2019. Refki mencintai Liv sebesar ia menghargai tiap detik di malam yang mereka lewati bersama. Liv mencintai Refki sebesar laki-laki itu meluangkan waktu untuk memberinya dekapan hangat kala malam menjelang. Meski dalam beberapa waktu, Re...
