19th Moment - Hometown

13.4K 1.3K 30
                                        

Sembari menunggu ACC proposal magangnya, Liv memutuskan untuk merima tawaran Lita dan Welly yang mengajaknya pulang ke Jember. Seperti biasa, kepulangannya kali ini untuk menjenguk Trisna yang sampai saat ini masih tidak mau diboyong Lita ke Surabaya sekalipun Welly sudah ikut meyakinkan bahwa ia tidak keberatan.

Sejak Liv kuliah di Surabaya dua tahun terakhir, Papanya hidup sebatang kara di Jember. Saudara Mamanya yang tinggal di kanan-kiri rumah tidak bisa Liv harapkan karena mereka memang tidak terlalu akrab. Namun, Trisna selalu mengatakan pada Lita dan Liv, bahwa ia akan baik-baik saja meski tinggal sendiri. Katanya, tidak perlu sampai merepotkan Lita yang sudah berkeluarga.

Awalnya, Liv benar-benar tidak setuju dan merengek seharian. Tetapi saat Lita akhirnya mengalah dan mengatakan, "Mungkin dengan tinggal di sini, Papa nggak akan penah kehilangan sisa-sisa kenangannya bareng Mama, Liv. Cuma itu yang bisa kita kasih buat Papa untuk hidupnya."

Liv pun ikut menyerah. Mamanya tidak pernah kembali dan menetap di Medan. Benar-benar betah bersama suami barunya. Bahkan jika ada keinginan untuk Mamanya kembali pada Papanya, Liv tidak akan pernah setuju. Selamanya.

Mungkin, Liv tidak pernah terang-terangan menunjukkan bahwa ia membenci Mamanya. Tetapi melihat Kakaknya bekerja keras untuk menghidupinya-sebelum menikah dengan Welly, melihat sulitnya-dan benar-benar hanya bisa melihat-bagaimana Lita melunasi seluruh utang yang ditinggalkan Mamanya entah itu sisa utang saat masih menjadi istri Papanya dan utang-utang yang tidak Liv tahu untuk apa, pandangan Liv pada Riana tidak akan pernah sama lagi.

"Refki masih di jalan?"

Liv tersentak saat Welly keluar dari ruang tamu dan duduk di sampingnya, pada kursi rotan yang diletakkan di teras rumah. Membuatnya memecah lamunan begitu saja.

"Belum, Mas." Liv memeriksa ponselnya dan belum ada notifikasi lagi dari Refki setelah tiga puluh menit lalu, laki-laki itu mengatakan pada Liv bahwa akan berangkat ke rumahnya. "Udah setengah jam aku nungguin."

Refki masih mampir ke Pasuruan-rumah orang tuanya, sebelum bertolak ke Jember untuk menghabiskan weekend bersama keluarga kecil Liv. Dan baru siang tadi, laki-laki itu tiba di hotelnya untuk beristirahat sebentar sesuai dengan permintaan Liv. Menyetir berjam-jam dari Pasuruan ke Jember pastilah membuatnya lelah dan Liv tidak mau Refki jatuh sakit. Sebab, sebelum memutuskan untuk menghampiri Liv yang sedang 'pulang kampung', Refki disibukkan dengan pekerjaannya yang selalu menggunung.

"Harusnya dia udah sampai. Dari Aston ke sini nggak sampai setengah jam, apalagi nggak ada macet."

Liv mengangguk, menyetujui ucapan Welly. Tepat ketika itu, ponselnya berdering dan nama Refki tertulis pada ID caller.

"Sayang, aku udah di depan gang." Suara Refki menyambut indra pendengarannya. "Mobilku boleh parkir di dalem?"

"Iya, masuk aja, Mas. Mobilnya Mas Welly ada di depan teras, nanti kamu parkir di depan pager."

"Nggak ngeblock jalan?"

"Nggak," jawab Liv. "Kan parkirnya di pinggir, biasanya mobil Mas Welly juga kalau parkir di depan pager."

Setelah memutus sambungan telepon, Refki dengan CR-Vnya muncul. Laki-laki dengan penampilan kasual-kaus dan celana chino selutut-itu menjinjing dua tas plastik besar saat Liv membuka pagar kayu setinggi dada dan membiarkan Refki masuk.

"Dari Mama," ujar Refki sebelum Liv bertanya dan mengulurkan tas plastik tersebut padanya.

"Ya ampun ini banyak banget, Mas. Makasiiiih. Aku harus telpon Mama bentar lagi." Mereka berjalan bersisihan saat Welly berdiri dan Trisna muncul dari balik pintu untuk menyambutnya.

Too Night ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang